Wisata Batam, Tanya Kenapa?

Hati saya sungguh trenyuh membaca berita bahwa pihak Departemen Keuangan RI menolak permintaan Kadis Pariwisata Batam R Muchsin. Beberapa waktu lalu, Muchsin mengusulkan agar calon penonton Formula 1 di Singapura akhir tahun ini yang melewati Batam, dikenakan sekali saja biaya masuknya. Maksudnya, untuk merangsang minat orang ke Batam, meskipun tujuan utamanya untuk nonton F1 di negara pulau itu.

Tapi, soal itu, janganlah terlalu sentimentil kita. Sebab, kita sudah tahu sejak lama bahwa daerah ini (Kepri) tidak akan pernah benar-benar memperoleh kesitimewaan dari Jakarta. Lihat sajalah ketika kran ekspor pasir disumbat, dengan alasan merusak ekosistem. Padahal, pengawasanlah yang sebenarnya tidak berjalan, sehingga banyak aparat yang main mata di tengah laut. Lalu, tikus yang salah, lumbungnya yang dibakar.

Lihat juga ketika keistimewaan melalui PP 63/2003 yang mengakibatkan harga empat komoditi utama di Batam kembali menyentuh angka tinggi. Padahal, Batam sebelumnya dikenal sebagai surga belanja bagi penggila alkohol, elektronik, rokok, dan tentu saja mobil! Meskipun, untuk yang terakhir tidak boleh dibawa ke luar pulau. Toh, tetap saja orang luar Batam berbondong-bondong membeli mobil eks Singapura, lalu menyimpannya di Batam untuk sewaktu-waktu dapat mereka gunakan. Artinya, mereka akan sering ke kota ini, sekadar memanaskan mesin mobilnya.

Kemudian yang paling gress adalah masih terkatung-katung dan kian tak menentunya penerapan free trade zone (FTZ) alias kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas di Batam, Bintan, dan Karimun. Entah alasan apalagi hoi, Jakarta. Berilah kami alasan yang lebih simpel dan tidak berbelit-belit. Perppu sudah, PP sudah, lalu UU pun sudah. Kini, membentuk Dewan Kawasan (DK) saja susahnya setengah mati. Bahkan ada yang bilang harus nunggu Dewan Kawasan Nasional segala. Padahal, dulu kalian-kalian berjanji FTZ BBK akan jadi model di negeri ini. Kalau modelnya saja belum ada, bagaimana mungkin harus nunggu DK Nasional? Ah, ada-ada saja.

Jadi, kalau R Muchsin mengeluh, tak usahlah. Simpan saja dalam-dalam. Buat saja apa yang bisa Anda buat untuk mengembangkan pariwisata di kota ini. Sekarang pertanyaannya, kalau orang berbondong-bondong datang ke Batam ingin menikmati pariwisata, apa yang akan Anda berikan? Apa tawaran Anda? Fasilitas apa saja yang sudah Anda siapkan untuk mereka? Apakah Anda hanya akan menawarkan kegersangan kota dan matinya taman-taman? Lalu, adakah seni dan budaya yang akan Anda suguhkan? Jadi, tanya kenapa?***

2 Responses to “Wisata Batam, Tanya Kenapa?”

  1. adeg setya Says:

    menurut saya anda benar, kenapa kepri selalu dipermainkan pemerintah pusat.
    saya rasa batam sebagai kota metropolitan berhak di pandang oelh dunia sebagai salah satu tujuan objek wisata.
    kalau FTZ itu saya rasa itu hanya sebuah skenario


  2. Candra Ibrahim. Says:

    iya nih, terimakasih komentarnya… itulah sebabnya harus ada yang mengritisi keadaan ini…trims


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>