Visit Batam: Satu Kata Satu Perbuatan
10 Jun 2009 Otak-otak
BANYAK yang bilang, karena letaknya yang strategis, Batam tak perlu promosi sebagai tujuan wisata… toh tiap hari ada saja turis yang datang. Tapi saya tidak percaya. Sebab, apa kurang strategisnya Singapura dan Malaysia, sehingga mereka gencar mempromosikan wisatanya, bahkan dengan dukungan dana yang luar biasa? Buka mata, buka telinga! Masalahnya: apa yang akan kita suguhkan untuk para pelancong itu?
Begitulah postingan pada status facebook saya, Sabtu (6/6). Kemudian, postingan ini mendapat berbagai tanggapan, mulai dari yang serius sampai bernada gurau. Misalnya, ada yang menyebutkan bahwa kondisi jalan yang berlubang “layak” menjadi objek wisata untuk para pelancong tersebut.
Soal kondisi jalan berlubang itu, saya jawab dengan kalimat begini: kalau soal itu, bisa diakali: turis itu ‘kan hanya di dalam bus, hindarilah jalan berlubang itu, bawa keliling di jalan yang mulus saja, langsung ke objek wisata… Malaysia juga punya kawasan kumuh, Singapura juga (dalam ukuran mereka), tapi rute wisatawan sudah diatur sedemikian rupa.
“Pinter juga ya, yang suka mengakalinya,” kata Hanifah Nur, seorang fesbuker (istilah bagi pemilik akun facebook).
Saya jawab lagi: Loh, dua negara itu, termasuk Thailand, juga melakukannya. Tinggal bagaimana kita memoles setiap objek wisata aja. Nah, objek wisata yang lumayan banyak di Batam itu, tinggal dipoles saja oleh yang berwenang, dalam hal ini Pemko, Otorita, dan pemilik kawasan wisata seperti resort dan lapangan golf.
Begitulah interaksi pendek yang terjadi di dunia maya antara saya dengan beberapa fesbuker. Ada beberapa komentar yang masuk, namun tidak bisa saya tampilkan semua di sini. Tidak menyelesaikan persoalan, memang, tapi bermanfaat untuk saling memahami dan memperdalam setiap kelebihan dan kelemahan yang ada di kota ini.
Saya kemudian teringat beberapa waktu yang lalu, ketika diminta oleh salah seorang pejabat eselon dua di Pemko Batam, untuk urun rembug soal upaya menggiatkan tahun kunjungan wisata ke Batam atau lebih dikenal dengan Visit Batam Yera 2010. Kami kemudian terlibat diskusi kecil-kecilan di salah satu ruangan milik pemerintah. Sebagai salah satu orang pers yang beberapa kali berkesempatan studi banding ke beberapa kawasan wisata di Amerika, Singapura, Thailand, dan Malaysia, saya mencoba menginventarisir berbagai masalah yang harus segera ditangani oleh Pemko Batam. Ini dengan catatan: jika mereka serius mengangkat dunia pariwisata kawasan ini.
Dalam diskusi pendek dengan pejabat Pemko Batam itu, di antaranya saya mengusulkan: Pertama, libatkan semua stake holder dengan membentuk tim terpadu (jangan hanya didominasi Pemko) dan dibiayai melalui APBD dan atau APBN. Sebab, mustahil tim bisa berjalan jika tidak di-support oleh dana. Biaya promosi di mana-mana mahal, dan tidak boleh dipandang sekadar sebagai biaya, karena toh feedback-nya nanti masuk berupa pajak, distribusi, dan lain-lain. Untuk itu, pimpinan tim sebaiknya diserahkan kepada pihak swasta, dengan anggota seluruh stake holder yang relevan.
Kedua, libatkan pers secara aktif dalam berbagai iven, misalnya dengan mengundang pers pada iven-iven tertentu dan dibuatkan agenda settingnya secara berkala dengan melibatkan agen-agen travel yang akan memandu pers (terutama pers luar daerah/luar negeri) tersebut. Termasuk di dalamnya hospitality dengan mempersiapkan “kampung wisata” yang diikuti aktif oleh pers luar daerah. Dalam hal ini, pencitraan dan ekspose tentang Batam di luar sangatlah penting. Singapore Tourism Board (STB) dan Malaysia Tourism Board (MTB) benar-benar aktif “memanfaatkan” pers asing dengan mengundang mereka di beberapa iven penting.
Ketiga, disiapkan betul objek wisata pilihan dan di-push habis-habisan (wisatawan hanya difokuskan ke objek pilihan tersebut), karena Malaysia dan Singapura cerdik dalam hal ini, padahal objek yang didatangi sesungguhnya minim, tapi mereka fokuskan wisatawan di sekitar objek andalan tersebut. Ini bisa menyamarkan objek wisata kelas “kambing” atau daerah-daerah yang tidak layak disuguhkan kepada wisatawan.
Keempat, mendemamkan tahun kunjungan wisata di setiap instansi pemerintah dan swasta, sehingga aura tahun kunjungan wisata itu tidak saja menjadi milik Dinas Pariwisata, tapi menjadi milik seluruh masyarakat dan seluruh stake holders kota ini.
Hal di atas bisa dilakukan dengan cara, misalnya setiap iven yang dilakukan masing-masing instansi, dikoordinasikan dengan tim terpadu di atas, sehingga masuk ke dalam kalender iven pariwisata. Selama ini terkesan berjalan sendiri-sendiri dan seringkali Dinas Pariwisata asal caplok saja iven yang dihelat pihak lain sebagai kalender Visit Batam Year 2010 dan hanya bersifat sporadis. Dinas Pariwisata belum menjadi trigger yang baik dalam hal ini.
Berkaitan dengan ditetapkannya Batam sebagai kota MICE (meeting, incentive, conference, dan exhibition), perlu dibuat langkah-langkah strategis untuk mensinergikan setiap iven MICE yang ada dengan kalender wisata Batam. Ini tentu perlu kerja sama dengan daerah yang memilih Batam sebagai tempat pelaksanaan MICE mereka.
Kelima, pembenahan taksi argo dan angkutan umum. Pembenahan taksi ini mutlak, karena yang pertama ditemui dan berinteraksi dengan turis (bukan dari paket travel agent) adalah supir taksi. Pembenahan juga harus dilakukan di setiap entry point (pelabuhan udara dan laut).
Keenam, jalan jangan ada lagi yang berlubang. Kalaupun masih banyak yang berlubang karena alasan keterbatasan dana pemeliharaan, rute khusus turis hendaknya menghindari jalan-jalan berlubang tersebut.
Ketujuh, pembenahan kampung tua dan berbagai objek wisata tradisional (untuk turis luar negeri) dan wisata belanja (untuk turis lokal).
Kedelapan, Pemko harus punya database setiap iven yang dilakukan oleh sekolah, instansi pemerintah, swasta, mall, dengan mewajibkan setiap pihak melaporkan berbagai iven yang masuk dalam kalender iven masing-masing, yang bisa saja di antaranya ada yang layak jadi objek wisata.
Sembilan, yang tak kalah penting adalah mengubah mindset kalangan birokrat (pemerintah) dan masyarakat. Sebab, selama ini, beberapa pejabat Pemko belum “satu kata satu perbuatan”. Masih sering ditemukan pejabat Pemko yang bicara di depan publik terbatas, misalnya di tempat ibadah, membahas soal moralitas warganya. Misalnya saja, dengan kalimat-kalimat yang mengesankan bahwa penduduk/warga kota ini harus memelihara penampilan, harus berbusana sopan, mencerminkan Batam sebagai bandar dunia madani. Padahal, apakah kita kemudian akan melarang para turis yang datang dengan latar belakang etnis, kebudayaan, dan prilaku yang berbeda itu masuk ke kota ini? Bisakah kita memaksa mereka berpakaian “sopan”? Kalau di tempat ibadah atau tempat-tempat “suci” lainnya, boleh-boleh saja ada larangan tersebut.
Terakhir, mindset masyarakat juga mesti diubah. Boleh jadi, karena selama ini masyarakat Batam, khususnya yang daerahnya menjadi objek wisata, belum merasakan manfaat dari kehadiran para turis tersebut, sehingga memandang sebelah mata potensi devisa tersebut. Istilahnya, masyarakat Batam belum menjadi “masyarakat melek wisata”. Beda sekali dengan Bali, di mana masyarakatnya sudah menganggap wisata adalah bagian dari kehidupan mereka. Atau, tidak usah jauh-jauh, di Brastagi (Sumut) saja, karena mereka yakin wisatawan datang membawa uang, maka mau tidak mau masyarakat Brastagi menjadi “pelayan” bagi para turis. Oleh sebab itu, mengubah mindset adalah kata kunci lainnya yang harus diperhatikan.***
Catatan: tulisan ini sudah dimuat di rubrik Otak-otak di Koran Batam News, edisi Rabu (10/6).



Leave a Reply