Tolak Salaman, Bedah Buku CEO Jawa Pos Sukses
18 Dec 2007 Catatan Biasa
SIANG tadi, Selasa (18/12), saya mengikuti acara bedah buku Ganti Hati yang ditulis CEO Jawa Pos Dahlan Iskan, di Goodway Hotel, Batam. Menarik sekali mengkuti acara yang dikemas di sela-sela pelantikan dan seminar Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Kepri itu. Pesertanya membludak, sehingga ruangan berkapasitas hampir 200-an itu meluber hingga ke luar. Apalagi mendengar gaya Pak Dahlan menjawab berbagai pertanyaan dari peserta, ditambah cerdiknya sang moderator Asmin Patros, anggota DPRD Batam, suasana jadi tambah hidup.
“Saya tak mau komentar, nanti kualat,” tolak Pak Rida K Liamsi, bos saya di Grup Riau Pos (Grup Batam Pos juga), ketika moderator memintanya mengomentari isi buku Ganti Hati tersebut. Maklum, Pak Dahlan adalah bosnya Pak Rida. Meskipun ketika di penghujung acara moderator kembali menodong agar Pak Rida berkomentar. Asmin cukup cerdik, karena nampaknya dia tak ingin melihat Pak Rida hanya menjadi pajangan ketika yang bersangkutan ikut diminta duduk menemani Pak Dahlan menanggapi berbagai pertanyaan.
Namun, Pak Rida tak kalah cerdik. “Komentar saya, memang tak salah tadi Pak Dahlan menyebut moderator ini hebat, sehingga bedah buku ini menjadi sangat menarik karena kelihaian si moderator. Itu saja komentar saya,” ucap Pak Rida. Namun tak urung beliau memberikan penilaian normatif bahwa buku Ganti Hati telah memberikn inspirasi bagi banyak orang di negeri ini agar lebih peduli dengan kesehatan, juga kepada wartawan agar selalu mengasah kemampuan jurnalistik dengan selalu memperhatikan detail tulisan.
Pagi sebelum acara dimulai, saya bertemu dengan Pak Dahlan di Graha Pena Batam. Saat itu, beliau sedang berdiri di basement dekat areal menghadap ke tempat parkir bersama bos saya di Batam Pos, Pak Marganas. Di samping mereka berdiri beberapa pengurus SPS Pusat yang saya tidak kenal namanya.
Saya baru saja memarkirkan kendaraan, ketika melihat Pak Dahlan asyik berbincang. Saya bergegas menghampiri beliau dan melempar senyum. Beliau membalas dengan tersenyum pula. Saya ulurkan tangan untuk menjabat. “Maaf, saya belum salaman,” tolaknya halus. Saya lalu memperkenal diri sebagai salah satu karyawan di grup yang beliau pimpin. Beliau mengangguk.
Perihal belum salaman, kembali diungkapkan Pak Dahlan ketika bedah buku siang harinya. Beliau mengikuti saran dokter yang merawatnya setelah operasi besar transplantasi hati di Tianjin, China, beberapa bulan berlalu. Sebab, kondisinya memang rentan terhadap virus yang bisa saja masuk. “Tak seorangpun yang bersentuhan phisik dengan saya kecuali istri,” kata beliau setengah bergurau.
Secara ringkas, acara bedah buku berjalan sukses. Saya, atas perintah atasan saya di Batam Pos, Socrates, memang mengerahkan seluruh redaktur pelaksana, koordinator liputan, dan beberapa redaktur untuk meramaikan acara dimaksud. Sebab, karena persiapan dan pemberitahuan kepada khalayak hanya dua hari, kami khawatir pesertanya tidak akan maksimal.
Ternyata, kami keliru, sebab banyak sekali peserta yang datang. Bahkan, boleh saya duga bahwa peserta pelantikan SPS lebih saparuhnya adalah mereka yang ingin mengikuti bedah buku yang ditulis oleh “orang gila” (gila kerja maksudnya) menurut istilah moderator Asmin Patros itu. Berita lengkapnya dapat dibaca di Batam Pos edisi Rabu (19/12/2007) atau klik di http://.batampos.co.id/. Selamat, Pak Dahlan. Semoga tetap sehat.***



Leave a Reply