Texas tak seperti di Film Koboi
17 Feb 2009 Dari Amerika
DI kebanyakan film produksi Holywood, Texas sering digambarkan sebagai kawasan sangar dan dikuasai para koboi. Mereka ringan tangan dan suka menarik pelatuk senapan, lalu menghabisi sasaran begitu saja. Benarkah demikian?
Begitulah streotif terhadap orang Texas yang masih melekat hingga kini. State yang memiliki wilayah paling luas di daratan Amerika itu terbilang paling khusus. Pasalnya, negara bagian yang terdiri dari beberapa county (kabupaten) dan kota itu, dulunya merupakan negara sendiri yang dikenal sebagai Republic of Texas. Keputusan mereka bergabung ke dalam United State of Amerika, sedikit banyak telah memengaruhi sikap sebagian besar warganya yang dipandang arogan.
Begitu menginjakkan kaki di bandara di Austin, ibukota Texas, sebenarnya anggapan di atas bisa saja sirna. Pasalnya, secara human being, mereka dikenal ramah dan bangga dengan keramahan ala “orang Selatan”. Salah satu bukti, begitu salah satu dari kami, rombongan para wartawan, dapat kenalan seorang Texan -sebutan bagi orang Texas- dan tahu bahwa kami dari negeri yang jauh, si Texan langsung memperlihatkan keramahan “orang Selatan”-nya. Dia menraktir kami di salah satu konter pakaian di bandara.
“You can take one hat or shirt that you like. I’ll pay for you all,” katanya ramah. Wah, rezeki nomplok, pikir saya. Setelah itu, kami pun memberi akuntan itu beberapa cendera mata yang kami bawa dari Indonesia.
Dari lelaki bernama Will A Wenmohs itu, terlontar cerita menarik tentang mantan presiden AS yang digantikan Barack Husein Obama, George Bush. Ketika seorang teman bertanya pendapatnya soal Bush, dia sedikit melengos. Menurutnya, Bush itu hanya mengaku-aku sebagai orang Texas. Dia sendiri tidak mengakuinya. Dia malu melihat gaya kepemimpinan Bush. Meskipun dari supir limousine, Josi, saya dapat info bahwa kampung Bush sekitar 35 menit dari Austin, namun tentu Wenmohs berhak untuk tidak menyukai Bush yang dikenal gemar memerangi negara lain itu.
Salah satu peristiwa heroik orang Texas ketika mempertahankan wilayah mereka dari serbuan orang Meksiko, sampai kini masih terdapat di San Antonio, satu setengah jam perjalanan darat dari Austin. Pertempuran hebat yang dikenal dengan peristiwa The Alamo itu terjadi pada abad 18. Di perang itu, tersebutlah salah satu pejuang besarnya bernama Davy Crockett (1786-1836). Seluruh peninggalan perang masih tersimpan di bekas benteng pertahanan yang kini menjadi museum The Alamo, tak jauh dari Riverwalk, kawasan wisata tepi sungai yang sangat menakjubkan itu.
Namun bukan berarti Texas benar-benar bebas dari kekerasan. Jika di Austin, Dallas, dan San Antonio mungkin tidak begitu terasa, karena ketiganya memang kota modern, namun di beberapa daerah rural seperti Waco dan Valley, perbatasan dengan Meksiko, kekerasan masih kerap terjadi. Di sinilah peran Marshall, polisi pedesaan Amerika, masih sangat diperlukan untuk menjaga ketertiban warganya.
Jika melirik ke tanah air, Texas bolehlah diumpamakan seperti Riau yang kaya akan minyak dan gas. Kekayaan minyak dan gas Texas itulah yang telah mengubah wajah negara bagian tersebut. Sehingga, perusahaan minyak di Riaupun dulunya dikuasai oleh perusahaan yang berbasis di state ini, Caltex (California-Texas), sebelum akhirnya beralih ke tangan Chevron.
Selain itu, di jalanan Austin, misalnya, gampang ditemukan mobil canggih ber-CC besar wara-wiri di jalanan lebar dan mulus. Mobil double cabin termasuk yang paling diminati di sini. Tak jarang pengendaranya wanita, tua maupun muda. Di bidang pendidikan, University of Texas yang menempati areal sekitar sebesar setengah Pulau Dompak, adalah bukti lain kedigdayaan kawasan ini. Di areal kampus, apapun bisa ditemui: bank, bookstore, restoran, rumah sakit, dan fasilitas lainnya.
Di sepanjang jalan antara Austin dan San Antonio, terlihat beberapa bangunan pabrik, supermall, toko, dealer, dan factory outlet, yang semuanya dalam ukuran jumbo. Texas memang dikenal sebagai “segala sesuatu yang besar”, sesuai bunyi beberapa billboard di beberapa tempat strategis.
Soal kehidupan malamnya, jangan ditanya, sudah pasti tidak kalah ramai dibanding New York. Bar, kafe, restoran, rumah seni, dan beraneka ragam toko, tersebar di beberapa kawasan utama kota Austin. Para remajanya pun pemuja mode mutakhir, layaknya remaja metropolitan. Bedanya, jika New York suasana jalanannya sudah crowded, maka Austin Texas, lebih teratur, bahkan hampir menyamai Washington DC, pusat pemerintahan AS.
Suhu di Texas pun terbilang hangat. Sekitar 23 sampai 26 derjat celcius rata-rata, bahkan di musim dingin yang melanda sebagian besar Amerika saat ini. Bulan Juli nanti, diperkirakan suhu akan sangat “panas”, bisa mencapai 28-29 derjat celcius. Hanya saja, iklim di Texas termasuk tidak bisa diprediksi secara tepat. Sebagai lintasan badai, Texas selalu dihantui turunnya hujan beserta badai, seperti saat laporan ini dibuat. ***
Catatan: tulisan ini juga dimuat di Batam News. Foto: saya di depan sebuah peternakan “longhorn” di Austin, Texas.



Leave a Reply