Terbang 12 Jam, “Menikmati” Cuaca Buruk
4 Mar 2009 Dari Amerika
Menjelajah Amerika, dari DC ke San Francisco (4)
SETELAH transit sekitar dua jam di Narita, penerbangan dilanjutkan, masih dengan pesawat yang sama, United Airlines, dengan tujuan Dulles International Airport Washington DC. Kali ini benar-benar bakal menjadi perjalanan panjang dan melelahkan. Dua belas jam penerbangan dengan perbedaan waktu bagai langit dengan bumi. Saya agak exited, karena akan berada pada zona waktu yang berbeda. Beda waktu Indonesia dengan DC, memang bagai siang dengan malam: persis 12 jam.
Bismillah, saya memasuki pesawat berbadan lebar itu dengan perasaan dag-dig-dug. Tempat duduk paling belakang, namun bersyukur karena dekat dengan lavatory alias toilet. Saya duduk persis di tepi gang pesawat, sehingga akan sangat memudahkan untuk berdiri, sekadar melemaskan otot-otot atau buang air. Di belakang saya, persis lavatory yang jumlahnya ada dua. Di tengah badan pesawat, saya lihat ada enam lavatory.
Bertolak dari Narita Jepang sekitar pukul 16.30 waktu Jepang atau pukul 14.30 WIB hari Sabtu (24/1). Sepanjang penerbangan, saya mencoba membunuh waktu dengan membaca beberapa brosur yang terdapat di kantong kursi pesawat. Sesekali saya melihat penumpang lain yang mulai sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang baca buku, membuka laptop, mendengar musik, dan nonton video di layar LCD di depan mereka.
Announcement di dalam pesawat sudah dalam dua bahasa: Inggris dan Jepang. Pasalnya, rute Narita-Dulles memang banyak diisi orang Jepang dan bule. Saya lihat, hanya kami berempat yang berwajah Indonesia. Tapi saya tidak merasa lain, karena beberapa wajah Jepang juga mirip dengan Indonesia. Bahkan, beberapa kali kami dikira orang Thailand atau Filipina.
Karena semua jendela pesawat ditutup, sungguh, saya tidak tahu kapan malam mulai merayap atau bahkan kapan pagi mulai berganti di luar sana. Yang saya rasakan hanya perut menjadi sangat lapar karena diaduk-aduk oleh cuaca di luar pesawat. Berkali-kali badan pesawat terhempas ringan di antara awan. Padahal, sebelumnya saya sangat ingin menyaksikan pertukaran siang dengan malam di penerbangan menempuh zona waktu berbeda itu. Tapi, karena seat saya jauh dari jendela, keinginan itu saya urungkan, karena semua jendela memang tertutup rapat.
Beberapa makanan dan minuman mulai dihidangkan. Saya memilih yang pasti-pasti saja, misalnya air mineral (water), coke (coca cola), dan sekali-sekali tomato juice. Penganan yang diberikan pramugari, di antaranya berwajah Jepang, saya terima saja, karena saya yakin itu penganan standar. Sementara ketika diberikan meal, saya memilih sesuai selera, karena biasanya dalam sekali makan, disediakan dua pilihan, misalnya pasta atau noddle dan chicken atau beef. Soal halal-haram, manalah saya tahu. Memangnya saya lihat mereka menyembelih hewan-hewan itu? Ini perjalanan panjang, Bung! Ha..ha…ha…
Sambil menikmati makanan, mata saya tak henti-hentinya melirik ke layar display di depan. Masih tertera informasikan beberapa data, misalnya sudah berapa jam penerbangan, sudah berapa jauh jarak tempuh, cuaca di luar, estimasi ketibaan di tujuan, berapa jarak tersisa, kecepatan angin, dan ketinggian terbang, serta peta posisi pesawat saat ini. Yang terakhir, bisa saja sudah direkam duluan, sehingga seolah-olah pesawat yang terlihat di layar memang benar-benar pada situasi present (saat ini). Sebab, di sana terlihat deretan pulau-pulau di bumi dan sebuah pesawat (yang saya tumpangi) sedang melintas di atasnya.
Ketika rasa kantuk mulai menyerang, saya paksakan tidur. Suhu di dalam pesawat cukup dingin. Selimut dan bantal yang disediakan saya manfaatkan sebaik-baiknya. Saya melirik, tiga teman jurnalis Indonesia di sebelah sudah tertidur semuanya. Hanya Uki –Sukriansyah, pemred Harian Fajar Makassar, saya lihat sekali-sekali ke lavatory. Dia mengajak saya ke belakang, namun saya balas dengan isyarat ngantuk. Dia berlalu.
Beberapa jam tertidur, saya mulai merasakan pegal di kaki. Sementara kepala agak pusing. Saya bangun perlahan dan bergerak menuju lavatory, buang hajat, lalu keluar melemaskan otot kaki yang mulai terasa pegal. Beberapa wajah Jepang saya lihat berkumpul di belakang, bicara, sambil meregangkan otot kaki dan tangan mereka. Saya mengambil tempat di sebuah sudut dan melakukan hal yang sama. Saya lirik jam, hmm… masih setengah perjalanan lagi.
Meregangkan otot-otot selama perjalanan panjang, memang disarankan. Beruntung tempat kaki di bawah kursi cukup lega, sehingga tidak begitu pegal. Namun, bagaimana dengan mereka yang bule dengan tubuh jangkung dan kaki panjang, ya? Pasti agak menyiksa. Buktinya, teman saya, Yos Kusuma, dari Metro TV yang tubuhnya 180 cm, mengaku sedikit tersiksa duduk lama-lama, karena posturnya yang jangkung itu.
Waktu terus berlalu dan saya tidak tahu apakah saat itu sudah tengah malam waktu di tanah air dan di Jepang atau sudah pagi waktu Amerika. Sebab, perbedaan waktu yang 12 jam antara tanah air dengan Washington DC sungguh tak bisa saya rasakan di dalam pesawat. Sepertinya agak norak membicarakan ini. Tapi, karena saya baru pertama kali ke Amerika, tentu ini pengalaman menarik, termasuk bagi Anda yang mungkin saja belum pernah ke negara adi daya itu, bukan?
Beberapa jam sebelum mendarat di Dulles International Airport, pesawat kembali teraduk-aduk. Padahal saat itu kami berada di atas benua Amerika, melintasi daratan Amerika dari paficic time zone ke eastern time zone di bagian paling ujung. Cemas juga. Sebab, goncangan di dalam pesawat berbadan lebar Boeing 747 seri 400 itu makin terasa. Saya tak tahu persis apakah itu ada kaitannya dengan suhu dingin di Amerika atau memang karena cuacanya sedang tidak bersahabat. Tapi saya lihat, penumpang lain tenang-tenang saja. Mungkin mereka terbiasa dengan cuaca “buruk” begitu, pikir saya.
Tak berapa lama kemudian, pesawat sudah mendarat di sebuah bandara yang sangat besar, Dulles International Airport, Washington DC. Perjalanan panjang 12 jam membuat tubuh sedikit sempoyongan. Saat itu pukul 01.30 Sabtu (24/1) sore waktu setempat atau pukul 01.30 Ahad dinihari WIB (25/1). Turun dari pesawat, kami bergegas ke sebuah bus khusus yang sudah menunggu tak jauh dari tempat parkir pesawat.
Bus tersebut dirancang khusus, bisa naik dan turun menyesuaikan dengan ketinggian ruang kedatangan. Supirnya seorang laki-laki tua. Setelah naik bus, kami dibawa ke bagian lain dari bangunan bandara, jauh di seberang sana, untuk sampai ke terminal kedatangan dan pengambilan bagasi. Setelah tiba, seperti biasa, antre di depan petugas imigrasi dan di sinilah dua anggota rombongan mulai mendapatkan masalah. (bersambung)***
Foto: Boeing 747-400. Pesawat jenis inilah yang membawa saya dan teman-teman dari Narita, Jepang ke Dulles International Airport, Washington DC. (sumber: www.airplane-pictures.net)



March 4th, 2009 at 4:50 pm
Wau, wau, awak dah terbang dengan orang jepun bahkan ada pula yang bilang awak tu orang jepun heee. , saya baru nak sambut orang jepun yang bekunjung ke redaksi. tapi mentang-mentang dah satu pesawat dengan orang jepun tu jangan lupa pulak negeri ini. ya ndak…
kami tunggulah oleh-olehnya….
March 5th, 2009 at 10:21 am
Yuk.. yang lagi di Amerika..
March 6th, 2009 at 4:16 am
Wah, wah. Dah banyak betul pengalaman Bapak ni. Tahniah.
Cari oleh-oleh pengalaman banyak-banyak Pak. Kalau barang bisa dicuri. Pengalaman siapa yang mau mencuri? Betul tak?
Salam blogger dari Pekanbaru
March 11th, 2009 at 12:24 am
To: bang yasril, xpressi, dan pak sunardi…
Terimakasih sudah berkunjung, mudah2an menambah pengetahuan kita bersama. Salam takzim.