Tak Hanya Wisata Lagoi
27 Jan 2010 Catatan TP
KALAU ada Lagoi, mengapa harus ke Bali? Pertanyaan ini agaknya tidaklah terlalu berlebihan untuk mengilustrasikan betapa daya tarik Kawasan Wisata Lagoi tidak kalah menarik dibanding Bali. Sebab, selama ini nama Bali memang sudah sangat terkenal hingga ke mancanegara. Ironisnya, bagi pecinta wisata, nama Bali bahkan mengalahkan Indonesia itu sendiri. Demikian juga Lagoi, saking terkenalnya, paket-paket wisata di Singapura dan Malaysia ada yang memasukkannya sebagai salah satu destinasi terintegrasi dengan Singapura. Ini tentu tidak terlepas dari pangsa pasar wisata di Singapura dan Malaysia, di samping bahwa resort yang tersebar di Lagoi ikut dimiliki oleh pengusaha Singapura.
Lagoi yang terletak di Kabupaten Bintan itu memang layak disandingkan dengan Bali. Perbedaan utamanya hanya terletak pada transportasi yang belum memadai. Untuk mencapai Lagoi, para wisatawan harus melalui Tanjungpinang atau Batam. Satu-satunya pelabuhan internasional di Lagoi bernama Bintan Telani Lagoi. Biasanya, yang masuk melalui pelabuhan laut ini adalah wisatawan yang transit di Singapura atau Malaysia. Sementara yang memilih jalur domestik, dapat mencapai Lagoi melalu Batam atau Tanjungpinang. Di kedua kota ini, terdapat dua bandara, masing-masing Bandara Internasional Hang Nadim di Batam dan Bandara Raja Haji Fisabilllah di Tanjungpinang.
Bagi orang Tanjungpinang atau Pulau Bintan, Lagoi bukanlah nama baru. Dulunya, kawasan ini sama dengan kawasan pesisir lainnya di Kepri. Dikelilingi oleh pantai berpasir putih dengan deburan ombak yang cukup tinggi, membuat kawasan ini sebagai salah satu pilihan bagi nelayan untuk melaut dan memperoleh hasil laut lainnya. Sejak kawasan wisata terpadu ini dibuka awal 1990-an, perkembangannya sungguh luar biasa. Sudah jutaan wisatawan lokal maupun mancanegara mendatanginya setiap tahun.
Saat menyertai rombongan Riau Pos Group (RPG) berkunjung ke salah satu resort di sini, beberapa teman saya nyeletuk: “Wah, ternyata kita juga bisa bikin jalan seperti di luar negeri, ya? Lihat tuh, jalannya lurus dan mulus,” katanya lantas tertawa.
Lalu yang lain menimpali, “Tapi ‘kan di sini mahal, tarifnya saja semua dolar”.
“Lho, apa bedanya kalau ke Bali? Coba saja hitung berapa ongkos pesawat ke sana pergi-pulang dari tempat kita,” kata teman lain dari Pekanbaru.
Saat itu kami memang memilih jalan darat dari Batam menyeberang ke Tanjunguban, terus ke Lagoi. Memang jika dilihat, kondisi jalan di kawasan wiasata itu lebih tertata dan terpelihara. Kondisi ini berbeda sekali jika dibandingkan dengan jalan di sekitar kawasan atau tepatnya sebelum masuk ke kawasan wisata Lagoi. Jalannya, khas Indonesia; berbelok-belok, naik-turun, dan sempit.
Di sini, ada beberapa resort, hotel, club, pantai, dan lapangan golf bertaraf internasional. Di antaranya, sebut saja Bintan Lagoon Resort Villas yang terletak di Jalan Indera Segara, Mayang Sari Beach Resort, Nirwana Resort Hotel, Bintan Lagoon Resort, Nirwana Beach Club, dan beberapa tempat lainnya. Kebetulan saat itu, saya dan teman-teman RPG memilih Nirwana Resort, yang arsitekturnya didominasi oleh kayu. Kamarnya memanjang di sepanjang garis pantai. Kamar dengan view pantai tentu tarifnya lebih mahal dibanding yang berpemandangan daratan. Hanya saja, entah disengaja atau tidak, lagu-lagu yang diputar dari pengeras suara semuanya bernuansa Bali.
“Mungkin agar turisnya merasa seperti di Bali,” kata teman di sebelah saya.
“Tapi, apa tidak sebaiknya diputar musik Melayu? Bintan ini ‘kan negeri Melayu,” protes teman saya lainnya. Saat itu, kami sedang makan siang di restoran yang terletak di lantai dasar. Saya memilih diam sambil menikmati makan siang di Nirwana Resort.
Saking terkenalnya Lagoi ini, jika Anda menuliskannya di mesin pencari google, maka akan muncul sekitar 132 ribu hasil yang identik dengan nama tersebut. Tentu isinya tidak melulu informasi mengenai Lagoi, namun tetap ada kaitannya dengan nama kawasan wisata kebanggaan Kabupaten Bintan itu. Artinya, Lagoi memang sudah sangat banyak melintasi dunia maya.
Sayangnya, seperti saya utaran di atas, untuk mencapai kawasan Lagoi, tidak semudah mencapai Bali, terutama bagi wisatawan mancanegara. Masih harus berputar, kalau tidak melalui Singapura, Batam, atau Tanjungpinang. Belum ada bandara khusus wisatawan di sini. Itulah sebabnya, sejak beberapa tahun yang lalu, Pemkab Bintan mengusulkan izin membangun bandara internasional di sini, namun belum mendapat restu dari Departemen Perhubungan RI.
Jika Anda dari Batam, Anda bisa mencapai Lagoi melalui pelabuhan roro di Telagapunggur. Kendaraan pribadi, tentunya yang bernomor polisi dalam negeri (bukan plat X), bisa Anda naikkan ke kapal penyeberangan. Anda hanya perlu membayar Rp170 ribu sekali jalan plus satu orang supir. Setelah menempuh perjalanan laut kurang dari satu jam, Anda akan sampai di Tanjunguban. Dari sini, tidak sampai setengah jam Anda sudah akan sampai di kawasan wisata Lagoi. Hanya saja, bagi orang yang belum terbiasa, kemungkinan nyasar cukup besar, karena rambu penunjuk arah masih sangat minim di sini. Nampaknya, ini harus menjadi prioritas Bupati Ansar Ahmad untuk memperbanyak rambu penunjuk arah. Sebaliknya, jika dari Tanjungpinang, perlu menempuh perjalanan lebih dari satu jam. Itulah sebabnya saat ini tengah diburu penyelesaian jalan pintas Tanjungpinang-Uban, sehingga jarak tempuh kelak bisa menjadi kurang dari 50 menit.
Lalu, sejauh mana kontribusi sektor wisata terhadap PAD Kabupaten Bintan? Menurut data, pemasukan dari pajak reklame, retribusi, pajak hotel dan restoran, setiap tahunnya bisa mencapai Rp70 miliar bahkan lebih. Ini adalah sumber PAD terbesar disbanding sektor lainnya. Artinya, ke depan, sektor pariwisata masih akan menjadi andalan di kabupaten tersebut. Itulah sebabnya, pemerintah daerah kelihatan bersungguh-sungguh mewujudkan bandara sendiri atau memperpendek jalur darat dari ibukota provinsi, Tanjungpinang. Tinggal kini, bagaimana Pemkab Bintan juga menata kawasan di luar Lagoi agar efeknya dapat dinikmati langsung oleh masyarakat Bintan. Misalnya, dengan cara menghidupkan perkampungan nelayan seperti Kawal, Gesek, Trikora, dan kawasan pertanian lain, sehingga menjadi objek wisata tradisional. Mungkin itulah sebabnya, saat ini Pemkab Bintan sedang menggalakkan listrik masuk desa, sehingga dampaknya akan lebih menggerakkan roda ekonomi, termasuk perekonomian di desa wisata. Siapa tahu? ***
Catatan: tulisan ini sudah dimuat di Harian Tanjungpinang Pos, edisi 26 Januari 2010.



Leave a Reply