Syracuse, Kota Pelajar yang Dingin dan Menantang
7 Feb 2009 Dari Amerika
TERLETAK di Center of New York State, kota Syracuse menyimpan daya tarik sendiri untuk dikunjungi. Posisinya bisa diakses dengan mudah dari Boston, New York City, dan Philadelphia. Kota berpenduduk 145 ribu jiwa ini juga menyimpan magnet sebagai salah satu kota pelajar di Amerika, tak terkecuali bidang jurnalistik.
Dari New York City, saya menempuh perjalanan lebih kurang 1,5 jam penerbangan dari bandara internasional John F Kenedy, satu dari tiga bandara internasional di kota New York City.
Seperti biasa, untuk penerbangan domestik, tak satupun tas, termasuk lugage (tas bagasi) yang boleh dikunci sembarangan. Jika dikuncipun, harus dengan kunci khusus berlabel TSA, otoritas keamanan transportasi Amerika. Jika tidak, bisa-bisa tas Anda akan dibuka secara paksa oleh petugas TSA, sebelum atau sesudah melewati scaner.
Sebelum melewati metal detector, Anda pun disuruh menanggalkan jaket, sepatu, dan ikat pinggang serta meletakkan seluruh barang berbahan logam ke dalam kotak plastik. Setelah aman, barulah Anda akan terbebas dari “standar normal” di seluruh bandara Amerika itu. Aturan membawa barang berbahan liquid pun sangat ketat; tak boleh melebihi 100 ml setiap kemasannya.
Sampai di Syracuse, saya mulai merasakan dingin yang luar biasa. Suhu bisa mencapai minus 10 derjat celsius di siang hari dan minus 15 malam hari. Di mana-mana yang terlihat hanya hamparan salju. Dari atas pesawat, hamparan salju itu tak ubahnya bagai lumpur putih menyelimuti seluruh daratan. So exited!
Bangunan di perkotaannya juga begitu eksotik dan bergaya Eropa. Di sini, terdapat sebuah universitas bernama Syracuse University. Letaknya agak di atas perbukitan, sehingga jika dilihat dari downtown, sungguh suatu pemandangan menakjubkan. Pihak universitas juga mengelola stasiun radio, televisi, dan surat kabar. Dana operasional ketiganya 40 persen dari universitas. Salah satu institusi yang intens melahirkan para jurnalis berbakat adalah Newhouse School of Public Communication, di mana salah satu tenaga pengajarnya adalah mantan wartawan Filipina yang sukses membongkar kasus korupsi Presiden F Marcos, Profesor Sheila Coronel. Akibat membongkar skandal sang presiden, Coronel kemudian meninggalkan Manila dan beberapa waktu kemudian bergabung dengan Newhouse School of Public Communication.
Selain memiliki stasiun radio, Syracuse University juga memiliki stasiun TV. Kecuali tenaga teknis, sirkulasi, dan advertising, hampir seluruhnya diisi oleh dosen dan mahasiswa. Mereka bekerja secara sukarela, sebelum kelak terjun ke media umum yang tersebar di seluruh Amerika. Sebagai catatan, saat ini di Amerika terdapat 1.400 harian, 600 majalah dan terbitan lainn
Foto: salah satu sudut jalanan di Syracuse, New York.




March 4th, 2009 at 1:07 am
halo mas. perkenalkan nama saya bagus handoko. saya adalah salah satu penerima beasiswa IIEF_IELSP yang akan berangkat ke Syracuse bulan mei 2009 nanti. mo tanya, adakah permias di syracuse, karena setahu saya permias syracuse agak vakum. terimaksih sebelumnya.
March 4th, 2009 at 12:37 pm
wah, beruntung sekali mas bisa dapat beasiswa ke syracuse… tapi sayang, saya tidak dapat membantu memberi info soal permias, karena tempo hari kami memang tidak ada kontak dengan mereka. mungkin anda bisa kontak kedubes indonesia di washington dc atau konsulat/kedubes as di tempat anda, terimakasih…