Suksesi PWI Kepri
15 Oct 2008 Catatan Biasa
Saya adalah orang yang sangat realistis dan tahu mengukur kemampuan. Tidak ngoyo, tidak ambisius. Sehingga, prestasi saya dalam bekerjapun boleh dibilang cuma pas-pasan. Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari, saya berusaha seadanya. Tidak berusaha mengejar sesuatu yang tidak saya yakini tingkat keberhasilannya. Begitulah kehidupan yang sudah saya jalani, puluhan tahun lamanya.
Bagi saya, memaksakan diri hanya akan membuat seseorang tersiksa akibat ambisinya. Betul memang bahwa ambisi itu bisa memacu seseorang untuk sukses dalam hidupnya. Namun ambisi yang meledak-ledak, melebihi ambang batas kemampuan normal, hanya akan membuat orang lain menjadi korban saja. Sebab, dengan ambisi yang memuncak itu, biasanya kita akan melakukan apa saja, memanfaatkan siapa saja, untuk mencapai puncak ambisi itu.
Demikian pula ketika beberapa teman datang ke saya dan bertanya, apakah saya akan mencalonkan diri menjadi ketua PWI Kepri periode mendatang? Saya selalu menjawab dengan guyon: apakah saya punya potongan menjadi ketua organsasi terhormat itu? Trus, saya juga biasanya bilang, “Ah, enggaklah, masih banyak orang lain yang lebih pantas” atau “Apakah saya memenuhi syarat?”.
Begitulah. Saya cukup tahu diri bahwa selain tidak punya potongan, saya punya handycap alias kelemahan yang bisa mengganjal saya, setidaknya akan digunakan oleh mereka yang tidak suka kepada saya. Kelemahan itu ialah, pertama, saya bukan pengurus PWI Cabang Kepri, kedua, keanggotaan saya (periode ini) belum lagi tiga tahun, dan ketiga, saya pernah bergabung dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Pekanbaru di awal-awal berdirinya. Meskipun sebelum ke AJI, saya sudah menjadi anggota biasa di PWI Cabang Riau.
Belakangan, ketika nama saya muncul sayup-sayup –dan tidak nyaring– di perbincangan di kantin-kantin, kedai kopi, dan di meja makan malam jurnalis di Batam, beberapa handycap saya itu selalu dibunyikan oleh mereka, yang belum tentu karena tidak senang, tapi mungkin saja mereka hanya menyampaikan fakta.
“Dia bukan pengurus, jadi tidak bisa maju. Lagipula, dia kan pernah di AJI, masa mencalonkan diri?”
Begitulah. Saya cukup sadar akan fakta itu. Makanya, ketika beberapa teman bertanya, saya sesungguhnya tidak berminat menjawabnya. Sebab, dalam rilis yang dikeluarkan oleh PWI Cabang Kepri di media massa, belum lama ini, jelas disebutkan bahwa yang berhak mencalonkan diri di antaranya
pengurus PWI, minimal sudah tiga tahun menjadi anggota, dan punya kartu PWI yang masih aktif.
Nah, jika memang itu semua tercantum di dalam PD/PRT PWI, sudah jelas saya tidak memenuhi syarat secara utuh. Sebab, walaupun saya kini aktif dan punya kartu pers yang ditandatangani oleh mantan ketua umum PWI Tarman Azam, saya baru dua tahun (kembali) menjadi anggota PWI. Sebelum bergabung dengan AJI di awal tahun 2000-an, sejak PWI Riau masih dipimpin H Rida K Liamsi hingga Helmi Burman, saya sudah menjadi anggota biasa. Hanya saja, saya meninggalkan peluang memperoleh jatah rumah yang diberikan Pemprov Riau dan masuk ke AJI.
Sejak keluar dari AJI sampai 2005, saya nonorganisasi. Ini tidak lepas dari kondisi era reformasi yang tidak lagi mengharuskan wartawan bergabung ke dalam salah satu organisasi kewartawanan. Saya baru bergabung kembali dan dapat kartu pers PWI tahun 2006 yang lalu. Artinya, jika dihitung sejak saat punya kartu kembali, belum genap tiga tahun. Maka, saya jelas tidak memenuhi syarat seperti rilis yang dikeluarkan PWI Kepri itu.
Mengapa saya buka semua “rahasia kecil” ini? Sebab, saya memang tidak berminat mencalonkan diri, karena saya sangat tahu diri. Jika di dalam politik, adalah hal biasa pindah dari satu partai ke partai yang lain, belum tentu bisa disamakan dengan organisasi kewartawanan. Mungkin juga di organisasi kewartawanan tidak dikenal istilah “kutu loncat”. Tapi bagaimana misalnya, seseorang dulu bekerja di media cetak dan menjadi anggota PWI, kemudian pindah ke stasiun TV jadi anggota AJTI, tapi kemudian kembali lagi ke media cetak, apakah tidak boleh bergabung lagi ke PWI?
Menurut saya, loyalitas seorang jurnalis sejati, sebenarnya tidak bisa diukur pada tingkat loyalitas terhadap organisasi, tapi lebih kepada profesi yang digelutinya. Organisasi bisa berganti, anggotanya bisa datang dan pergi, tapi jurnalis tetaplah harus setia pada profesi, bukan semata organisasi. Yang terakhir ini, bagi saya, hanyalah merupakan kesetiaan artifisial, kesetiaan yang hanya tampak di permukaan.
Alasan lain yang membuat saya tahu diri untuk tidak ikut mencalonkan diri adalah soal keharusan menjadi pengurus di PWI Cabang itu. Sebab, sampai hari ini, saya memang belum pernah tercatat sebagai pengurus di PWI Cabang Kepri. Cuma anggota biasa. Namun, bagaimana dengan mereka yang tercatat sebagai pengurus, tapi sampai hari ini tidak pernah memegang kartu pers? Padahal, syarat jadi pengurus, ya, anggota PWI dan punya kartu pers!
Ah, menurut saya, organisasi adalah wadah untuk mengumpulkan ide-ide, gagasan, lalu-lintas pemikiran. Organisasi juga harus menjadi rumah bagi embrio kreasi, cipta, tiang sosial, dan pertautan batin antara orang-orang di dalamnya.
Selebihnya, organisasi juga adalah salah satu “alat” untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Alat, dalam ilmu fisika, merupakan sebuah benda yang diharapkan akan mempermudah pekerjaan dalam mencapai tujuan. Namun, kalau kemudian “alat” itu hanya akan membuat kita terkotak-kotak, bahkan menghambat pekerjaan-pekerjaan profesional kita, untuk apa kita menggunakan “alat” itu? Ekstrim, bukan?***



October 16th, 2008 at 4:25 pm
memang organisasi hanya sebuah”alat”,bapak berbuatlah yang terbaik,biarlah waktu yang menentukan.terimakasih,salam sukses untuk bapak.