Suksesi Gubernur, Status Quo atau Transisi?

MEI 2010, jika tak ada aral melintang, rakyat Kepulauan Riau (Kepri) yang memiliki hak suara, akan memilih Gubernur dan Wakil Gubernur Periode 2010-2015. Meskipun tanggal persisnya belum ditetapkan, dengan asumsi masih mungkin berubah sesuai kewenangan yang dimiliki KPU Provinsi Kepri, namun jika dihitung sejak masa sekarang, waktunya kurang dari enam bulan lagi. Waktu enam bulan itu bukanlah lama sangat, tak terasa nanti kita sampai saja ke masa itu. Ditambah pula, lagi-lagi jika tak ada perubahan, selain Provinsi Kepri, masih ada tiga kabupaten di provinsi ini yang akan melangsungkan pemilu kepala daerah (pilkada, atau sekarang berubah pula penyebutannya menjadi “pemilu kada”), yakni Bintan, Lingga, dan Anambas. Persis, pemilu kepala daerah kali ini akan lebih ramai dibanding lima tahun lalu, di mana watu itu Anambas belum jadi kabupaten.

Namun, bukan soal daerah kontestan saja yang akan mewarnai dan meramaikan pemilihan kepala daerah kali ini, sehingag dia diperkirakan akan lebih menarik dari lima tahun lalu. Lebih dari itu adalah kontestan itu sendiri. Tanpa bermaksud mendahulu Yang Maha Kuasa, nampaknya tahun ini akan terjadi perubahan kontestan di tingkat provinsi. Pasalnya, setelah mantan ketua Otorita Batam Ismeth Abdullah ditetapkan sebagai tersangka pengadaan mobil pemadam kebakaran (damkar) oleh KPK, konstelasi politik di tingkat lokal diyakini akan banyak berubah. Sebab, kabar terakhir menyebutkan bahwa Ismeth tidak akan ikut berkompetisi mempertahankan kursinya. Kalaupun aturannya kelak tetap memberikan kesempatan bagi seorang tersangka dengan ancaman di bawah 5 tahun untuk ikut berkompetisi, tentu akan terjadi pergeseran dukungan. Minimal, dukungan para loyalis diyakini tidak akan sebesar ketika Ismeth tidak terkena masalah seperti saat ini. Terlebih dari itu, dukungan finansial tidak akan sekuat masa lalu. Namun bisa jadi sebaliknya; arus simpati akan mengalir ke kelompok Ismeth, jika kalimat “merasa dizalimi” laku di pasaran. Apalagi kalau yang bersangkutan tidak ditahan.

Oleh sebab itu, sejak beberapa waktu lalu mulai ramai dibicarakan sosok yang paling mungkin dimunculkan untuk menggantikan posisi Ismeth pada Pilkada mendatang. Kelompok ini dianggap sebagai kelompok incumbent, ada pula yang menganggapnya sebagai kelompok “status quo”. Pasalnya, selain dia sebagai incumbent, juga dianggap sebagai “wajah lama” dari kelompok non-putera daerah. Meskipun tak bisa dipungkiri bahwa Kepri adalah daerah terbuka yang sangat akomodatif terhadap siapapun, termasuk kaum pendatang. Itu sudah dibuktikan sejak zaman kerajaan Melayu Riau hingga hari ini. Sehingga, banyak organisasi formal maupun nonformal di Kepri diisi oleh “saudara jauh” dari berbagai etnis dan daerah. Kepri sangat welcome terhadap pendatang, masyarakat Melayu sangat egaliter, sampai-sampai SDM Melayu sendiri sudah banyak dilupakan dalam konteks kekinian.

Lalu, jika peluang Ismeth benar-benar tertutup untuk menjadi kontestan pada Pilkada Mei ini, siapa yang dianggap paling sesuai menggantikan Ismeth yang sudah terlanjur dianggap sebagai “payung” bagi kelompok pendatang di Kepri? Adalah Aida Zulaikha Nasution, anggota DPD RI dari Dapil Kepri, dianggap pas menggantikannya. Aida yang juga istri Ismeth itu dianggap sudah teruji, karena sudah dua periode terpilih menjadi anggpta DPD RI dengan suara terbanyak. Paling tidak, sinyal itu sudah diberikan oleh Partai Golkar, sebagai partai pemenang pada Pemilu 2009 yang lalu. Meskipun masih terkesan malu-malu, namun Ketua DPD Partai Golkar Kepri sudah menyebutkan nama Aida sebagai salah satu figur yang dipersiapkan. Bahkan namanya teratas setelah nama Ismeth Abdullah. Di bawahnya baru muncul nama-nama Wagub Kepri HM Sani, Nurdin Basirun, Ahmad Dahlan, Nyat Kadir, dan Huzrin Hood. Meskipun itu semua masih menunggu hasil survey yang akan diumumkan, namun besar kemungkinan nama Aida akan keluar di posisi paling atas. Lalu, masih ada partai besar lain yang kini mulai mengelus jago mereka.

Tetap munculnya nama Aida pada penjaringan versi Partai Golkar, tidak semata-mata karena pertimbangan perolehan suara pada Pemilu 2009 yang lalu. Agaknya ini pun tidak bisa dipisahkan dari koneksitas Partai Golkar dengan kekuasaan di masa lalu dan saat ini. Pasalnya, Ismeth duduk sebagai Ketua Dewan Pembina di partai tersebut bersama HM Sani sebagai wakilnya. Pada Pilkada 2005 yang lalu, Partai Golkar bersama PKS dan beberapa partai lainnya mengusung pasangan Ismeth-Sani. Selain itu, hubungan kausalitas antara Ismeth dengan pengurus Partai Golkar, terutama dengan sang ketua, Ansar Ahmad, sudah banyak orang yang mahfum. Keduanya ibarat bapak dengan anak bergandengan tangan memenangkan Pilkada lima tahun yang lalu; Ismeth di provinsi, Ansar di Kabupaten Bintan. Keduanya tampil sebagai pemenang pada tingkatan masing-masing. Saat itu, calon Golkar hanya kalah di Lingga.

Lalu, di mana posisi “putera daerah” pada Pilkada 2010 ini, sebagai mana stressing catatan perdana saya di awal tahun ini? Di sinilah, calon dari ”kalangan dalam” harus pintar-pintar membaca peluang. Perseteruan lima tahun lalu semestinya menjadi pelajaran paling penting. Saat itu, Wako Batam Nyat Kadir yang berpasangan dengan Soerya Respationo, dikalahkan Ismeth-Sani. Ini tidak terlepas dari terpecahnya suara kelompok Melayu di luar Batam yang tersebar sebagai pendukung Ismeth-Sani, Rizal Zein-Firman B, dan Nyat-Soerya sendiri. Adu strategi dan trik politik ketika itu berjalan sangat ketat. Ismeth yang memiliki nama besar sebagai Plt Gubernur dan mantan ketua Otorita Batam, memiliki suara siginifikan di Batam, karena di mata “kaum imigran” Ismeth dianggap sebagai representasi dari mereka. Sebagaimana diketahui, hampir 60 persen pemilih Kepri tinggal di Batam. Sehingga, “siapa yang menguasai Batam, dialah yang menguasai Kepri”. Namun, itu lima tahun yang lalu. Jika dilihat tipikal penduduk Batam yang tingkat mobilitasnya amat tinggi, kondisi itu bisa berubah. Floating mass diperkirakan akan sangat mendominasi.

Pertanyaannya, seperti di awal tulisan ini, apakah tahun ini akan kembali menjadi milik kelompok Ismeth atau Aida yang boleh disebut sebagai kelompok “status quo” atau merupakan masa transisi bagi kelompok putera daerah untuk tampil sebagai pemimpin di daerahnya sendiri? Jawabannya sangat tergantung kepada dewasa atau tidaknya serta taktis atau tidaknya cara pikir kelompok putera daerah itu sendiri. Kekuatan kelompok ini harus bersatu untuk merebut kekuasaan yang sudah terbentang di depan mata. Sebab, yang dikhawatirkan adalah ketika mereka, kelompok putera daerah itu, dilanda euphoria dengan kondisi politik akhir-akhir ini, sehingga semua merasa pede untuk maju “sorang-sorang”. Tak ada yang mau mengalah untuk kemudian menyatukan kekuatan. Persoalan yang membelit Ismeth telah membuat mereka berubah pikiran; dulu merasa perlu bersatu, kini merasa percaya diri mampu melawan sendiri-sendiri. Jika ini terjadi, maka 2010 akan “melepas lagi”. Tidak akan terjadi transisi itu! Wallahualam.***

Catatan: tulisan ini sudah dipublikasikan di Harian Tanjungpinang Pos, edisi Senin (4/1/10)

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>