Sepi Idul Fitri
23 Sep 2008 Catatan Lepas
Sejak dua pekan belakangan, kalau Anda simak, hampir semua stasiun radio di Malaysia dan Singapura, terutama Warna FM dan Ria FM di Singapura, sudah sibuk memutar lagu-lagu bertema Hari Raya. Demikian pula iklannya, sudah banyak diwarnai iklan seputar barangan lebaran. Ada iklan baju kurung, iklan VCD lebaran, kue-mue, sampai iklan berinfak menjelang tutup Ramadan.
Lagu-lagu Hari Raya versi Melayu Malaysia atau Singapura bisa di-download (ah, saya tak suka pakai kata diunduh) dari internet. Dalam istilah Malaysia, bisa dimuat-turun (lebih elok bukan?) ke PC, laptop, atau langsung ke USB. Tentu ini untuk kalangan sendiri, bukan untuk diperbanyak melalui CD. Caranya gampang, tinggal buka google, lalu ketik Lagu Hari Raya.
Selain itu, jika Anda rajin mendengarkan siaran radio-radio di Malaysia maupun Singapura, sejak pekan kedua Ramadan, para pendengarnya sudah banyak pula yang meminta diputarkan lagu-lagu Hari Raya tersebut. Bahkan, disertai dengan ucapan “selamat hari raya” kepada sanak saudara yang menyebar di semerata semenanjung Malaysia, Singapura, sampai ke Belakangpadang, Indonesia.
Saya hanya mencoba membandingkannya dengan di sini. Sebab, meskipun Hari Raya tinggal sepekan lagi, namun belum terasa gemanya hingga ke rumah-rumah. Pasalnya, belum satupun siaran televisi nasional kita, apalagi radio lokal di Batam dan Kepri, yang sudah menyiarkan lagu-lagu bertema Hari Raya tersebut. Suasana menjelang lebaran, baru sedikit terasa jika Anda berjalan-jalan ke pusat-pusat perbelanjaan. Itupun lebih kepada mulai ramainya orang berbelanja keperluan lebaran, seperti pakaian, sepatu, dan perlengkapan lainnya. Sedangkan operator mal masih sibuk memutar lagu islami bernuansa puasa. Belum ada memutar lagu Hari Raya.
Padahal, menurut hemat saya, menyemarakkan penyambutan Hari Raya, tidak kalah penting dibanding syiar Islam lainnya. Betul bahwa puasa sedang berlangsung, tapi tidak salah kan jika dari jauh-jauh hari sudah digabung dengan penyambutan Hari Raya Idul Fitri itu sendiri? Ini dimaksudkan agar suasana penyambutan hari besar umat Islam itu bisa merasuki segala lapisan masyarakat. Baik Muslim maupun nonmuslim. Sebab, ketika pasar kaget dan bazaar Ramadan saja, bukankah merupakan “hiburan” tersendiri juga bagi warga nonmuslim? Buktinya, lihatlah di berbagai penjualan juadah berbuka, tak jarang terlihat warga nonmuslim ikut berbaur, baik menjual maupun membeli bahan perbukaan.
Hm…mungkin ini “kesalahan” para ustad juga. Sebab, sejak dulu, di tanah air, selalu saja kita “ditakut-takuti” dengan berbagai pemahaman oleh para juru dakwah. Di antara pemahaman itu misalnya sering para juru dakwah itu mengungkapkan kalimat-kalimat seperti: “yang berhak merayakan hari kememangan itu hanyalah mereka yang puasanya sempurna”, atau “yang lebih utama adalah puasa dan ibadah yang mengikutinya, bukan lebaran”, atau “puasa saja baru beberapa hari, kok sudah ngomongin lebaran” atau kalimat-kalimat lainnya. Padahal, ibadah puasa adalah urusan Allah dengan hamba-Nya. Kalimat-kalimat itu mengesankan seolah-olah suasana Hari Raya baru bisa digemakan kelak pada saatnya. Kita dibuat seakan-akan, cemas menunggu Hari Raya sama cemasnya dengan menunggu THR, ha…ha…
Begitulah kita. Dengan alasan jangan terlalu cepat bicara Hari Raya sebelum puasa berjalan sempurna atau tunggulah ketika sudah dekat waktunya, akhirnya suasana kebatinan menjelang lebaran pun seakan sayup-sayup sampai. Apalagi bagi kota pekerja seperti Batam, sudahlah sekarang sunyi-senyap saja dari geliat menjelang Hari Raya, eh, nanti pada saatnya ditinggal mudik pula oleh pemudik yang sebagian besar adalah pendatang. Maka, tinggallah Batam sepi-menyepi saat Hari Raya kelak.
Akhirnya, saya mengajak kita semua, terutama umat Islam, sejak jauh-jauh hari, marilah kita meriahkan penyambutan Idul Fitri ini. Mari kita stel kaset, CD, VCD, di rumah-rumah kita, di mal-mal, di mobil, di kantor-kantor, dan di tempat-tempat umum. Saya yakin umat lain tidak akan terganggu karenanya. Sebab, bukankah mal-mal dan pasar-pasar itu akan penuh sesak oleh kita-kita yang ingin berlebaran dengan pakaian baru? Selain itu, bukankah ketika hari besar agama lain kita juga menghormatinya? Selamat menyambut Hari Raya Idul Fitri 1429 H. Maaf lahir batin.***



Leave a Reply