sendiri meragi
19 Jun 2008 seolah puisi
ingat tidak, ketika narsismu mengangguku…
katamu…. itu penting
sepenting perempuan berharap bunting
tapi tak kacak di dedaun kering
sebab ranting tak rindukan tebing
katamu kau plural, prodemokrasi
tapi nepotismemu terpacak
segak di antara muak semuak-muak
memantik di antara bau apak
katamu kau sayangiku
tapi dendammu telah membatu
tak hendak berkata tentang aku
sebab mindamu makin kuragu
kini…
marahku telah meragi
menukik ke selasela sendi
merecup ke sumsum dan nadi
hingga….sendiri…
lalu berdiri aku
mencoba mengecup putingmu
tapi lagilagi
kecutmasam ragimu
menekukku ke dalam ragu…



Leave a Reply