San Francisco, The Last Stop
17 Feb 2009 Dari Amerika
KOTA terakhir di Amerika yang saya kunjungi, bersama tiga jurnalis Indonesia lainnya, adalah San Francisco, California. Kota yang terkenal dengan Golden Gate-nya itu, menghadap ke Samudera Pasifik, terletak di bagian paling barat benua Amerika.
San Francisco (SF) boleh dibilang kota paling sibuk di Amerika setelah New York City. Keberagaman SF telah menjadikannya sebagai kota paling welcome terhadap berbagai etnis. Selain “orang asli” Amerika, di sini dapat dengan mudah ditemukan wajah-wajah Asia, terutama China. Bahkan China Town di SF diklaim sebagai kawasan pecinan terbesar di seluruh dunia. Beruntung, saya juga menemukan dua restoran Indonesia; Borobudur dan Indonesia Restaurant.
Setelah penerbangan panjang dari Austin (Texas) - Denver (Colorado) yang ditempuh selama dua jam, lalu Denver - SF dua setengah jam, sampailah di kota yang dijuluki sebagai Bay City tersebut. Dari bandara, melewati highway Soma (south of market), nampak pemandangan yang cukup menakjubkan. Kota di tepi laut itu begitu indah, karena terdiri dari perbukitan yang menghadap ke laut. Sekilas, melihat rumah-rumah berjejer di atas bukit, mirip beberapa perumahan di Batam. Bedanya, Batam lebih gersang. Sayang, saat itu mendung agak tebal, sehingga pemandangan tidak leluasa.
Lepas dari highway Soma, downtown SF langsung terhampar di hadapan. Menariknya, saya melihat sebuah bus memajang “iklan” tentang Islam sedang parkir. Di dindingnya tertulis “Islam? You just search to know”. Sebuah imbauan agar orang SF lebih mengenal Islam, cukup buka internet. Di sana tertulis sebuah alamat web yang saya lupa namanya.
Tak jauh dari sana, mulai terlihat kawasan padat. Di kiri-kanan jalan yang agak sempit, berjejer beberapa toko. Beberapa gerai seni berjejer. Di sini, menurut supir yang menjemput kami ke bandara, Edward, seorang Rusia, banyak pertunjukan, karena memang terdapat banyak gerai seni. Sayang, di antara gerai-gerai itu, terdapat sebuah kawasan rawan yang dikenal dengan nama Tenderloin.
Di Tenderloin, banyak terdapat pencopet, yang biasa dilakukan para homeless alias tuna wisma, juga pengangguran. Kerja mereka, sebagian besar kulit hitam, hanyalah meminta-minta di jalan dan mencopet. Mereka suka berkumpul di kawasannya. Tiap hari menyerbu sebuah gerai yang memang disediakan dinas sosial dan LSM bagi mereka untuk dijatahi makanan. Anehnya, begitu memasuki blok di sebelahnya, para penjahat itu sudah tidak nampak lagi. Rupanya mereka hanya “berani” beraksi di kawasan kecil saja yang dikuasai “turun-temurun”.
Ada cerita menarik tentang asal-muasal Tenderloin tersebut. Dulunya, kawasan ini sering jadi sasaran para polisi bengal. Mereka datang menangkap siapa saja di situ, lalu minta dibelikan tenderloin, jika tidak ingin digelandang ke kantor polisi. Tenderloin sendiri adalah sejenis steak yang terbuat dari daging sapi, di bagian paling empuk. Sejak saat itulah, kawasan ini dikenal sebagai Tenderloin.
Di sekitar Union Square, terdapat beberapa toko pemegang merek terkenal, seperti Burberry, Luis Vuitton, Johnston & Murphy, dan beberapa merek lain. Meskipun harga barang-barangnya selangit, namun jangan khawatir bakal ada barang tiruan, karena pemalsuan termasuk pelanggaran berat di AS.
Uniknya, seperti beberapa kota tua di negeri Obama itu, jalur trem masih dipertahankan, bahkan di SF membelah kota hingga ke sekitar Golden Gate Area. Jalur trem ini tepat berada di tengah jalan raya dan wisatawan dapat menaikinya. Namun, jangan khawatir bakal bertabrakan dengan lalu-lalangnya kendaraan, karena lalu-lintas cukup teratur.
Salah satu icon SF yang sempat saya kunjungi adalah Golden Gate Bridge. Beberapa kali sebuah helikopter melewati kolong jembatan yang selesai dibangun tahun 1937, setelah empat tahun masa kontruksi itu. Helikopter itu sengaja terbang rendah dari Pulau Alcatraz, bekas pulau penjara yang terletak tak jauh dari jembatan. Sementara Golden Gate dicat sepanjang tahun dari ujung yang satu ke ujung lainnya. Pemenang tendernya dipegang sebuah keluarga secara turun-temurun
Tentang Alcatraz, pulau pembuangan bagi napi kelas kakap bak Nusakambangan itu terakhir kali dipakai tahun 1963 dan dibuka kembali empat tahun kemudian sebagai objek wisata. Dua di antara napi kakap yang pernah dipenjara di sini adalah Al Capone dan “the killing gun” Kelly. Al Capone bahkan sempat melarikan diri dan menghebohkan Amerika.
Seperti kota-kota besar lainnya di AS, kota yang menjadi home base sebuah surat kabar bertiras 350 ribu eksempar, The San Francisco Chronical itu, juga menawarkan beberapa jenis hiburan malam. Karena aturan di AS memberikan kebebasan kepada setiap state menentukan hukumnya sendiri, state California dikenal sangat liberal. Bahkan sebuah aturan, California Propotion 8, saat ini masih diperjuangkan kaum gay dan lesbian agar pernikahan sesama jenis diakui menurut konstitusi.
Jenis hiburan malam “bergenre” nudis alias telanjang, tersebar di banyak tempat. Namun tempat hiburan sehat juga bermacam-macam dan tidak melulu menampilkan ketelanjangan. Ada cabaret, teater, konser, nightclub, bar, dan pub.
Untuk jenis nudis, celakanya dipromosikan di brosur-brosur sebagai adult entertainment. Nama-namnya, seperti dalam brosur itu, misalnya Broadway Showgirls Cabaret, Condor, Crazy Horse Gentlement’s Club, Deja vu Centerfolds, Garden of Eden, Gold Club, Hungry I, dan Little Darling. Di klub bugil itu menampilkan show girls on the stage, topless, exotic dance, erotic, all nude, sampai menyediakan private room untuk kalangan member dan kaum jetset.
Hmmm… Amerika memang lebih maju dan liberal. Tapi, apa bedanya dengan beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta? Tinggal Anda, apakah mau menikmati berbagai ketelanjangan itu atau cukup sekadar tahu saja, seperti saya misalnya. ***
Catt: tulisan ini juga dimuat di koran Batam News, 17 Feb ‘09. Foto: penulis berfoto dengan latar belakang The Golden Gate, San Francisco.



Leave a Reply