RUPS Sukses, Mendaratpun Mulus
27 Feb 2008 Catatan Biasa
Hmmm…capek juga ikut RUPS di Medan (26-27 Februari). Bukannya karena ikut mempertanggungjawabkan kinerja perusahaan, tapi lebih karena suasana yang kurang nyaman di Medan. Maklum, kota terbesar di Sumatera itu, selain sangat sibuk, lalu-lintasnyapun lumayan semrawut. Habis itu, bandaranya pun tengah direnovasi, sehingga kenyamanan pun terganggu.
“We are apology for this inconvenient” Begitulah tulisan yang banyak terpajang di dinding-dinding bandara, di beberapa sudut. Maksudnya, pengelola minta maaf atas semua ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Maklum, bandara tersebut pernah terbakar beberapa aktu lalu. Tentu saja ini menimbulkan ketidaknyamanan.
Kalau sebelumnya Polonia terkenal dengan kesemrawutannya, kini masih ditambah situasi pascakebakaran, maka bertambah lengkaplah ketidaknyamanan itu. Ruang tunggu di luar bandara hanya dilengkapi dengan tenda raksasa. Orang hilir-mudik di sana, berbaur dengan pedagang asongan, seperti kacamata, voucher isi ulang, dan penjual bika ambon di sisi tenda. Pokoknya, mirip terminal bus, ha..ha..
Situasi ini masih ditambah dengan posisi bandara yang masih berada di tengah kota. Ingat ketika dulu terjadi kecelakaan Mandala? Nah, saya pergi-pulang Batam-Medan menggunakan pesawat Mandala itu. Maka, sepanjang perjalanan di atas pesawat Airbus A320 itu, jantung saya berpacu cukup kencang. Sebab, tak lama setelah kecelakaan dulu, saya sempat ke Medan dan masih melihat sisa-sisa insiden yang merenggut Gubernur dan mantan Gubernur Sumut, beberapa tahun lalu itu.
Suasana hampir sama saya jumpai pula di dalam ruang check in dan ruang tunggu. Semua penumpang berbaur di ruangan yang tidak terlalu besar. Kata seorang penumpang yang berada dekat saya menunggu panggilan pesawat, ruangan yang kami duduki itu dulunya tempat lalu-lalang calon penumpang. Nah, di ruangan itulah kini dijadikan ruang tunggu sekaligus tempat check-in counter. So, bisa dibayangkan betapa “ketidaknyamanan” selama menunggu anouncement dari petugas bandara itu.
Trus, ketika saya ke toilet, suasana kacaupun terlihat jelas. Lantai toilet kotornya minta ampun. Jejak alas kaki penumpang tercetak meninggalkan lumpur yang tak enak dilihat. Mestinya harus sering dikeringkan supaya tak terlihat kotor. Ya iyalah, meskipun habis kebakaran, namun kenyamanan penumpang tetap harus dijaga bukan?
Beruntung Mandala tidak delayed seperti ketika berangkat dari Batam, Senin lalu. Waktu itu, hampir setengah jam penerbangan dimundurkan. Nah, kembali ke Batam kemarin, tak satu menitpun terlambat. Mendarat di Hang Nadimpun mulus-mulus saja. Tak seperti ketika mendarat di Polonia, karena pesawat sempat berputar-putar sebelum mendarat dengan agak hard landing. Dalam hati saya berpikir, mungkin karena pengaruh kebakaran hutan di Riau, selain memang lokasi bandara yang berada di tengah kota, sehingga susah untuk didaratkan dengan mulus. Ini pikiran saya yang awam ini, he..he…
Syukurlah, waktu RUPS kemarin, pertanggungjawaban manajemen Batam Pos, di mana saya sebagai salah satu pimpinannya, dapat diterima secara mulus. Ya iyalah, sepanjang 2007, pencapaian Batam Pos lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Dalam hati, saya bangga juga, karena sejak 2006 sampai akhir 2007, saya menjabat pemimpin redaksi di koran terbesar di Kepulauan Riau itu.***



Leave a Reply