Repotnya Punya Pembantu Sok Gengsi

BEBERAPA hari ini, saya risau bukan main. Ini soal pribadi, bukan pekerjaan, apalagi karier. Masalahnya sepele saja. Pembantu saya sejak sepekan belakangan, jadi suka melamun. Pekerjaannya banyak tak tuntas. Cucian memang beres dan disetrika seperti biasanya. Tapi, itu tadi, sering melamun. Kerjanya tidak fokus. Kadang menyendiri di kamar, sambil terlihat memencet HP. Mungkin lagi SMS-an.

Saya coba tanya ke istri. Katanya, si pembantu berniat meninggalkan pekerjaannya di rumah kami. Dia tergiur tawaran saudaranya yang tinggal di Mega Legenda. Katanya lagi, ada tawaran kerja lebih bagus dengan penghasilan lebih bagus pula.

“Oh gitu? Trus, menurut Bunda gimana?”

“Ya, gak apa-apa, biarin saja dia mau berhenti. Kan Bunda gak lulus CPNS, jadi, lebih banyak waktu di rumah,” jawab istri saya.

“Waduh. Ayah ‘kan mau ke Amerika nih, siapa yang nemani Bunda dan anak-anak nanti di rumah?”

“Ah, gampang itu, Yah. Nanti Mak Niah dipanggil dari Pinang, suruh ke sini. Keluarga di sini juga banyak. Lagian, ‘kan Ayah gak lama perginya”.

“Ya sudah, kalau gitu. Kapan dia mau berhenti?”

“Secepatnya, Yah, nanti ada keluarganya yang jemput ke sini”.

Begitulah sepenggal pembicaraan saya dengan istri, sepekan yang lalu. Bagi saya sih, gak masalah kalau pembantu mau berhenti. Tapi yang buat saya kesal, ya itu tadi, dia jadi suka murung, melamun, dan kerjanya gak fokus. Kurang ajarnya lagi, pernah suatu kali istri saya meninggalkan HP-nya di atas TV, dan dia naik ke lantai atas, begitu turun, kelihatan phonebook-nya terbuka.

“Kamu yang buka HP Ibu, ya?”

“Iya, Bu”.

“Cari apa?”

“Cari nomor Atok (kakek) Abin, Bu”.

“Kok gak permisi dulu?”

“Maaf, Bu”.

Wah, saya jengkel sekali mendapat laporan dari istri. Ini pembantu kok makin kurang ajar, ya? Nyesal sekali saya harus repot-repot menjemputnya ke Pekanbaru, dua bulan yang lalu. Saya harus repot mencari tiket pesawat Batam-Pekanbaru (PP) dan satu tiket untuk membawa dia ke Batam. Mana waktu itu musim peak season lagi, tiket mahal. Dulu, yang membantu mencarikan pembantu di Pekanbaru, ya, ayah saya sendiri, yang ditulis sebagai “Atok Abin” di phonebook istri. Abin adalah nama anak sulung saya.

“Sudah, suruh saja dia cepat pergi dari rumah ini. Tapi nanti, kamu telpon orangtuanya, katakan anaknya sudah diserahkan ke keluarga dan bukan lagi jadi tanggung jawab kita,” kata saya kepada istri.

“Iya, Yah”.

Pusing saya melihat pembantu seperti itu. Dulu, orang tuanya datang meminta dipekerjakan kepada ayah saya. Kebetulan tempat tinggal mereka di Pekanbaru berdekatan. Katanya, si pembantu biasa bekerja di sebuah kota di Sumatera, sudah tiga tahun. Dia sendiri berasal dari salah satu provinsi tetangga. Bahkan sebelum berangkat ke Batam, orang tuanya minjam pula uang kepada saya Rp1 juta. Janjinya akan dilunasi melalui ayah saya di Pekanbaru. Tapi, karena tidak pernah dilunasi, saya potong gaji anaknya yang bekerja pada saya. Itupun atas persetujuan mereka. Sampai sekarang, masih tersisa utang itu.

Celakanya lagi, si pembantu itu memengaruhi pembantu teman saya pula, yang rumahnya berhadap-hadapan dengan rumah saya. Dia ajak temannya itu cabut untuk bekerja di sebuah tempat, yang katanya bakal dikontrak selama tiga tahun dengan gaji jauh di atas UMK. Padahal, siapa sih yang mau mempekerjakan orang yang hanya tamat SMP di Batam ini? Tanpa skill, lagi. Jangan-jangan….

Di rumah pun, kerjanya sering nelpon dan SMS. Pernah, malam-malam sibuk SMS-an, mana suaranya deringnya nyaring lagi. Anak-anak terganggu dan terbangun tengah malam. Setelah saya marahi, agak berkurang. Tapi kalau kami lagi di luar rumah, SMS dan telepon jalan terus, bahkan tambah sering. Para tetanggapun banyak yang bilang bahwa dia sering bicara di ponsel, entah sama siapa saja. Kalau ditanya orang di balik telepon, selalu ngakunya kerja di toko, bukan pembantu rumah tangga. Edan!

Hm… cerita ini memang tidak penting, tapi cukup mengganggu saya dan keluarga. Intinya, cari pembantu memang harus hati-hati, sebab tak banyak di antara mereka yang benar-benar ingin jadi pembantu. Sering sebagai batu loncatan, meskipun kita sudah mengeluarkan tak sedikit dana buat mereka. Tapi, sepanjang menggunakan jasa pembantu, baru kali inilah benar-benar membuat saya kesal luar biasa. Ah, sudahlah. Katanya siang ini akan cabut dari rumah saya. Thank’s God!***

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>