Puak Melayu di Pilgub Kepri

TERLALU jauh kalau saya harus ikut-ikutan menulis tentang Pilpres yang akan digelar 8 Juli 2009. Biarlah itu menjadi urusan masyarakat luas untuk menentukan siapa yang terbaik menurut mereka. Toh, pasangannya sudah jelas: Megawati Soekarnoputri - Prabowo Subianto, Susilo Bambang Yudhoyono - Boediono, dan Jusuf Kalla - Wiranto. Tinggal bagaimana masyarakat secara cerdas menggunakan haknya masing-masing. Siapapun yang terpilih, secara jurdil, maka itulah pasangan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk lima tahun mendatang.

Yang menarik dalam konteks politik lokal tentulah pemilihan gubernur dan wakil gubernur Kepri periode 2010-2015. Perhelatan ini memang baru akan dilangsungkan akhir tahun depan, namun auranya sudah terasa, paling tidak pembicaraan sudah sampai ke kamar setiap partai politik dan para elitenya di provinsi ini. Tidak itu saja, DPP beberapa partai pun nampaknya sudah mulai memasang kuda-kuda, mengelus siapa yang akan mereka dukung kelak, meskipun baru sebatas pertemuan informal.

Akan tetapi, perhelatan Pilgub Kepri, tidak bisa dilepaskan dari eskalasi politik nasional. Pemenang Pilpres, komposisi kabinet, maupun komposisi pimpinan dewan di pusat dan daerah, akan ikut mempengaruhi ke arah mana Pilgub Kepri hendak diarahkan. Sebab, kontestan partai politik pengusung capres, kelakĀ  partainya akan berlomba-lomba pula dalam mengusung gubernur di provinsi yang pada Juli mendatang pemerintahannya genap berusia lima tahun ini.

Terlepas dari berbagai perkiraan dan formasi politik di tingkat nasional, paling tidak, untuk Pilgub Kepri, sudah mulai bermunculan beberapa nama. Selain incumbent Ismeth Abdullah (gubernur saat ini), sudah mulai mengemuka pula Wakil Gubernur HM Sani. Bahkan, mantan rival Ismeth di Pilgub empat tahun lalu, Nyat Kadir, mulai memasang kuda-kuda untuk bertarung kembali di Pilkada tahun depan.

Selain nama di atas, juga ada nama lain seperti Huzrin Hood, Harry Azhar Aziz, sampai mantan Ketua Pansus Pembentukan Provinsi Kepri di DPRD Riau HM Lukman Edy. Untuk posisi cawagub, bermunculan pula beberapa nama yang cukup menarik untuk disimak, di antaranya Ahmad Dahlan, Nurdin Basirun, Ansar Ahmad, Saptono Mustakim, dan Sudirman Almon. Bahkan, jika Batam bisa dianggap sebagai lumbung suara, bukan tidak mungkin akan ada cawagub alternatif yang bisa mewakili gender, seperti Ketua Kadin Batam Nada Soraya. Komposisinya bisa akan sangat dinamis.

Nama-nama yang disebut di atas, masih akan terus bergulir dan setiap partai sedang mengelus jago yang kemungkinan akan mereka usung. Tidak sederhana, memang, namun paling tidak, sejak sekarang partai politik sudah harus berhitung, figur seperti apa yang layak dijual dan tentu saja bisa memenangkan pertarungan di periode kedua sejak provinsi ini terbentuk kelak.

Suara-suara yang mulai terdengar nyaring adalah, adanya keinginan warga tempatan untuk mendudukkan wakil mereka menjadi gubernur periode lima tahun ke depan. Sebab, di periode pertama, posisi orang Melayu hanyalah sebagai wakil gubernur, yakni HM Sani. Ada yang beranggapan bahwa era Ismeth Abdullah mestinya sudah harus diakhiri. Toh, Ismeth dapat dianggap sebagai sosok yang sudah ikut mengantarkan Kepri menjadi provinsi dan meletakkan dasar-dasar pembangunan dan pemerintahan di provinsi ini. Maka, saatnyalah Ismeth menyerahkan estafet kepemimpinan kepada anak watan, anak Kepulauan Riau.

Namun, tentu tidak sesederhana itu, sebab politik bukanlah hitungan matematis semata. Politik penuh dengan perhitungan strategis. Meskipun konon, dulu ketika maju sebagai cagub berpasangan dengan HM Sani, Ismeth pernah mengatakan bahwa dirinya hanya akan menjadi gubernur satu periode saja. Persoalannya, Ismeth tentu dapat saja memiliki pertimbangan lain. Dia boleh saja beranggapan bahwa tugasnya di Kepri belumlah berakhir, kecuali jika kelak ditarik menjadi salah satu menteri maupun dubes oleh capres yang kelak memenangkan Pilpres 2009.

Dalam politik, adalah wajar mempersiapkan putera mahkota yang kelak akan melanjutkan visi dan misi serta kepentingan penguasa yang kelak akan “lengser”. Maka, ketika kans untuk kembali menjadi orang nomor satu dirasa cukup besar, sudah barang tentu Ismeth akan mengambil “orang yang tepat” untuk mendampinginya di periode kedua. Dan itu, nampaknya disadari betul oleh Gubernur Ismeth Abdullah.

Dalam hitung-hitungan secara teori, Ismeth bisa saja masih akan mendapatkan dukungan besar, namun belum tentu signifikan. Sebab, siapapun yang berada pada posisi incumbent, sebenarnya memiliki peluang untuk lebih mengecewakan masyarakat. Karena secara kasat mata, seorang incumbent akan lebih banyak memberikan janji-janji kepada masyarakat dalam berbagai kesempatan turun ke bawah, ke tengah masyarakat. Nah, ketika janji-janji itu tidak terealisir, maka hampir dipastikan masyarakat yang sudah dijanjikan akan memendam kekecewaan. Ini tentu berbeda dengan orang di luar kekuasaan atau yang aksesnya demikian kecil untuk ikut mengubah kebijakan. Sebab, mereka yang berada di luar kekuasaan belum terbiasa menebar janji kepada masyarakatnya.

Oleh sebab itu, anggaplah Ismeth yang bukan Melayu nantinya akan benar-benar maju sebagai cagub, maka dia mutlak harus menggandeng tokoh Melayu yang benar-benar dapat diterima kalangan Melayu. Sebab, jika pertimbangannya hanya untuk “pengamanan” periode selanjutnya tanpa mempertimbangkan sisi ketokohan dan keterwakilan Melayu, maka resistensi akan demikian besar. Dalam hal ini, jika Ismeth salah dalam memilih wakil, maka dia bisa menjadi common enemy atau musuh bersama akibat akumulasi kekecewaan puak Melayu.

Tapi persoalannya tidak lantas menjadi sederhana. Sebab, jika Ismeth salah dalam menggandeng pasangan, meskipun itu dari orang Melayu, bukan tidak mungkin akan timbul perlawanan dari calon yang lain. Sebutlah misalnya HM Sani, Nyat Kadir, serta Huzrin Hood. Jika salah satu di antaranya tidak digandeng oleh Ismeth, maka salah satu di antaranya bisa akan sangat merepotkan bagi pertarungan ke depan. Jikapun Ismeth akhirnya tetap menang, maka ongkosnya akan lebih mahal dibanding jika Ismeth menggandeng salah satu dari mereka.

Yang menjadi tidak kalah menariknya adalah jika kemudian para anak Kepri itu bersatu menghadang Ismeth. Katakanlah misalnya Ismeth menggandeng orang yang dianggap tidak mewakili Melayu dari sisi ketokohan dan keterwakilan, maka akan membuka celah bagi pasangan lain untuk menjadi rival berat. Perlawanan akan menjadi sangat sengit ketika HM Sani, Nyat Kadir, Harry Azhar Aziz, Lukman Edy, atau Huzrin Hood, menemukan kombinasi yang pas di antara mereka. Maka, dalam hal inilah Ismeth akan dianggap sebagai common enemy dimaksud. Wallahualam.***

Catatan: tulisan ini sudah dimuat di Batam News, edisi Kamis (18/6).

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>