Pesan Jelang Pilpres
15 Apr 2009 Otak-otak
PALING tidak, saya mulai berani membuat kesimpulan kecil: orang yang selalu “dizalimi” –terlepas bagaimanapun cara dia mengemas “penzaliman’ sebagai sebuah komoditi–, akan mendapat simpati dari masyarakat. Itu sudah dibuktikan oleh SBY dan Demokrat, dua kali malah.
Dulu ketika 2004, setelah “dizalimi” oleh Megawati, dalam Pilpres saat itu suara untuk SBY yang berpasangan dengan JK mengantarkan pasangan ini menjadi RI 1 dan RI 2. Kini, 2009, SBY kembali meraih simpati setelah “dizalimi”. Dan bukan tidak mungkin, SBY kembali akan menjadi presiden untuk periode kedua.
Ya, sekali lagi, terlepas bahwa kemudian penzaliman dalam tanda petik itu berhasil dimanfaatkan secara cerdik oleh tim SBY sebagai sebuah komoditi politik, nyata sekali bahwa rakyat Indonesia telah mengirim sinyal kepadanya, “lanjutkan”, seperti juga sinyal yang dikirimkan Demokrat kepada rakyat Indonesia dalam iklan kampanye mereka.
Kalau lima tahun lalu, ketika Mega masih menjadi Presiden RI, SBY adalah salah satu menteri yang kemudian mengundurkan diri dari kabinet. Saat itulah terjadi “insiden amplop” ketika Mega hanya melambaikan amplop surat pengunduran diri SBY dari kabinet, ketika menjawab pertanyaan wartawan. Visualisasi inilah yang di-manage sedemikian rupa oleh tim sukses SBY, yang menjadikannya seolah-olah sebagai sebuah penghinaan kepada laki-laki asal Pacitan itu. Aibatnya, pada Pilpres 2004, berpasangan dengan JK, SBY melenggang ke istana. Dalam perjalanannya, JK tampil sebagai Ketua Umum Partai Golkar, dan sejak saat itulah Golkar menjadi partner Demokrat.
Demikian pula di Pemilu Legislatif yang baru saja berlangsung, Demokrat kembali menuai simpati rakyat, terlepas dari protes yang sampai hari ini masih dilontarkan berbagai pihak. Ledekan demi ledekan yang dilancarkan partai lain, misalnya PDI Perjuangan, yang beberapa kali mengkritik kebijakan BLT yang digawangi Demokrat dan Golkar. Anehnya, meskipun beberapa kali Megawati menyindir BLT, termasuk ketika tampil dalam wawancara khusus di sebuah stasiun televisi swasta, namun dalam iklan kampanyenya, PDIP malah menjadikan BLT sebagai jualan juga. Walaupun dengan kemasan bahwa PDIP-lah yang mengawal BLT sampai ke tangan si penerima.
Tidak itu saja, dua partai anyar yang sama-sama digawangi purnawirawan TNI, Hanura dan Gerindra, ikut pula mengkritik berbagai kebijakan pemerintah. Sayangnya, ejekan demi ejekan, serangan demi serangan dalam iklan kampanye Hanura dan Gerindra, lebih ditangkap oleh masyarakat sebagai iklan layanan masyarakat semata. Sesuatu yang utophia, barangkali. Kedua partai ini, plus PDIP, hanya menjanjikan berbagai hal yang ingin dilakukan (jika menjadi pemenang pemilu), sementara Demokrat tampil dalam iklan yang dikemas sebagai sesuatu yang “sudah pernah dan telah berhasil” mereka lakukan.
Hari-hari belakangan, koalisi mulai dijajaki. Ada yang ingin ke formasi awal, ada yang main ancam, seperti PKS, yang mengancam akan keluar dari koalisi kalau Golkar ikut bergabung. Besar kemungkinan, karena Golkar memang lebih berpengalaman sebagai partai pemerintah, maka partai itu akan kembali merapat ke SBY. Akan tetapi, pesan yang disampaikan oleh Demokrat jelas, “lanjutkan”. Pertanyaannya, apakah dalam Pilpres kelak, rakyat masih akan mengirimkan sinyal yang sama kepada SBY –terlepas siapapun cawapresnya–? Bisa jadi, who knows? ***
Catatan: tulisan ini sudah dimuat di koran Batam News, Rabu (15/4).



Leave a Reply