Penderitaan (Sudah) Milik Tiap Daerah

* Nukilan dari Pelantikan dan Seminar BPC Perhumas Batam

Sabtu lalu, saya menghadiri undangan pelantikan BPC (Badan Pengurus Cabang) Perhumas (Persatuan Hubungan Masyarakat) Kota Batam, di Hotel Goodway, Batam. Acaranya cukup meriah, karena selain dihadiri Wali Kota Ahmad Dahlan, juga Ketua Umum BPP Perhumas Muslim Basya yang melantik, Wakil Ketua Umum Ridwan Nyak Baik, serta ratusan praktisi humas dari pemerintahan dan instansi swasta di Batam. Hadir juga perwakilan dari humas Pemko Tanjungpinang, Desi.

Setelah pelantikan, acara dilanjutkan dengan seminar singkat. Materi disampaikan bergiliran oleh Muslim Basya, Ridwan Nyak Baik, Ketua PWI Kepri Socrates, dan moderator Guntur Sakti (Sekwan DPRD Batam). Ketiganya mengupas berbagai persoalan kehumasan dan hubungannya dengan pekerjaan jurnalistik. Intinya, mereka sepakat bahwa antara humas dan jurnalis memiliki kesamaan tugas, namun tak jarang berseberangan akibat misi yang diemban masing-masing pihak. Humas cenderung harus mengamankan kebijakan institusi di mana mereka bekerja, sedangkan jurnalis biasanya cenderung “mengorek” berbagai informasi yang belum tentu “mengena” di hati pekerja humas.

Yang cukup menarik, pemaparan Wali Kota Ahmad Dahlan sebagai keynote speaker. Dalam pidato singtatnya, mantan praktisi humas di Otorita Batam itu mengajak BPC Perhumas Batam yang baru saja dilantik dan diketuai oleh Yusfa Hendri (Kabag Humas Pemko Batam) untuk sama-sama mempromosikan serta menjadi humas bagi Visit Batam Year 2010.

“Anda semua adalah petugas humas di setiap instansi di mana Anda bekerja. Namun, setelah bergabung ke dalam BPC Perhumas Batam, maka tugas Anda tidak lagi sekadar menjadi humas d perusahaan atau kantor Anda saja, tapi harus menjadi humas bagi Kota Batam dengan segala dimensinya. Tugas pertama sudah menanti, bagaimana supaya Batam di era free trade zone ini bisa Anda promosikan ke luar daerah bahkan ke luar negeri. Selanjutnya, Anda juga harus membantu mempromosikan Visit Batam Year 2010,” ucap Dahlan yang disambut aplaus peserta.

Acara yang berlangsung dalam suasana santai tersebut, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Banyak yang melontarkan pertanyaan maupun harapan terhadap pran Perhumas ke depan. Saya yang mendapat giliran kedua, lebih banyak menyampaikan otokritik terhadap peran jurnalis yang merupakan “sparing partner” dari jajaran humas tersebut.

Dalam acara itu, saya kembali menyerukan bahwa semestinya pers atau jurnalis juga berkaca pada diri mereka sendiri. Sebab, selama ini, pers sudah ikut memberikan andil bagi semakin carut-marutnya kondisi Indonesia dewasa ini. Lihatlah, betapa pers nasional, dalam hal ini media televisi yang kesemuanya terletak di pusat kekuasaan (Pulau Jawa) telah meratakan penderitaan ke seluruh Indonesia.

“Satu kasus busung lapar di sebuah desa Jawa Timur misalnya, di-blow up sedemikian rupa oleh televisi swasta nasional. Informasi ini kemudian masuk ruang pribadi kita, masuk ke ruang makan kita, masuk ke ruang tamu kita, bahkan ke ruang toilet kita. Informasi itu menggeneralisir, seolah-olah Indonesia ini sudah sekarat, mati karena busung lapar, sudah tidak ada harapan, seolah-olah Indonesia sudah sekarat, sudah mau kiamat. Tidak ada lagi berita-berita baik yang disiarkan ke seluruh Indonesia. Seluruh penderitaan di suatu tempat, dipaksa ditelan oleh penduduk di tempat yang lain, yang telaknya jauh di sana. Padahal, kita di daerah pun punya persoalan masing-masing. Nah, mohon Bapak-Bapak narasumber menanggapinya. Terimakasih,” kata saya panjang lebar.

Saya tak tahu apakah pertanyaan saya itu kemudian akan menimbulkan reaksi atau tidak. Yang jelas, saya mendengar sebagian besar peserta bertepuk tangan panjang setelah saya menyampaikan pandangan dan otokritik dimaksud.
Sebab, yang saya maksudkan, tentu saja
berita buruk tetap harus diberitakan, karena itulah yang laku dijual ke pemirsa dan pembaca. Bad news is good news, kata kesepakatan lama.
Anjing menggigit orang, itu bukan berita. Sebaliknya, kalau orang menggigit anjing, itu baru berita. Ah, kuno sekali ungkapan itu, karena di beberapa
daerah malah anjing dimakan orang.

Kedua narasumber, kecuali Ketua PWI Socrates, menjawab pertanyaan dan otokritik saya itu. Sebelumnya, di sesi yang sama, seorang anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kepri Aulia, mendukung pernyataan saya. Bahkan, dia merasa terbantu karena saya telah ikut mensosialisasikan bahan yang kelak akan mereka jadikan masukan pada pertemuan KPID se-Indonesia. Jawaban yang mereka berikan standar saja. Mungkin karena waktu makan yang hampir tiba, sehingga jawaban mereka benar-benar tidak memuaskan saya.

Bukan itu yang saya
maksudkan. Sebab, kata Ridwan Nyak Baik, seorang panelis, “Pak Candra ini, sudah gaharu cendana pula”.

Tentu saja saya tahu bahwa pers lebih suka memberitakan hal-hal yang buruk, kegagalan demi kegagalan, skandal, korupsi,
kontroversi,
penderitaan, gosip, dan sebagainya yang negatif, karena memang itu lebih bisa dijual. Dia akan menaikkan rating kalau di televisi dan akan menaikkan tiras/oplah kalau di surat kabar/majalah. Tapi, senaif itukah jalan pikiran kita, peker pers, sehingga kalau ada berita atau informasi yang baik-baik kita kubur begitu saja? Bukankah good news is good news too? Bukankah masyarakat pembaca dan penonton juga harus disuguhi dengan harapan-harapan, pencerahan, hari baik, sehingga mereka tetap optimis menatap hidupnya di tengah himpitan ekonomi yang terus mendera itu?

Apalagi kalau bicara tentang Batam dan Kepri, sebuah kawasan harapan, tujuan investasi, tujuan pencari kerja, harapan segala suku untuk memperbaiki hidup mereka. Apa jadinya kalau kemudian berita yang muncul di media massa adalah berita penderitaan saja, kejahatan, huru-hara, kemelaratan, serta carut-marut politik lainnya yang datangnya nun jauh dari pulau lain? Bukankah Batam dan Kepri juga punya masalah yang tak kalah hebat dan memusingkan kepala? Listrik yang bakal naik, BBM dan ATB yang sudah duluan mendaki, kebutuhan pokok mahal, sembako mahal dan sulit didapat. Lalu, apakah kita masih tega mengimpor penderitaan dari daerah lain untuk kemudian kita suguhkan bagi masyarakat Batam dan Kepri? Teganya-teganya-teganya!***

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>