Pemred (Tak Boleh) Masuk Partai
27 Mar 2008 Catatan Biasa
Ketika masih bertugas di Pekanbaru, saya aktif di salah satu partai politik tingkat Provinsi Riau. Duduk sebagai salah satu pengurus harian, membuat akses saya ke orang parpol cukup terbuka. Hal itu membuat keasyikan tersendiri bagi saya. Oleh teman-teman, saya disebut-sebut akan mencalonkan diri menjadi anggota legislatif di provinsi dengan daerah pemilihan Kampar. Sebab, saya memang memiliki darah Kampar, meskipun saya lahir dan dibesarkan hingga tamat SMP di Natuna.
Nah, oleh ketua umum parpol tersebut, saya memang dijanjikan untuk mendapat akses. Karenanya, di sela-sela kesibukan saya sebagai jurnalis/wartawan, saya sempatkan berkiprah di kegiatan kepartaian. Tercatat, tahun 2006 yang lalu, saya menjadi ketua panitia halal bi halal partai tersebut. Bahkan, ketika hari Raya Kurban pun saya didapuk menjadi salah satu ketua di kepanitiaan partai.
Di mata saya, terbayang jalan menuju gedung DPRD Riau nan megah itu. Terbayang pula bagaimana kiprah yang akan saya mainkan kalau kelak menjadi anggota legislatif. Meskpun untuk mewujudkan itu semua tidaklah gampang. Perlu materi, perlu waktu, dan perlu perjuangan. Sebab, sebagai pendatang baru di partai, tentulah saya akan banyak mendapat tentangan dari pengurus yang lebih senior. Meskipun sebenarnya saya menjadi salah satu koordinator daerah untuk Rokan Hilir di partai besar tersebut.
Namun, keinginan tersebut terpaksa saya kubur dalam-dalam, karena di akhir 2006 saya ditugaskan memimpin redaksi Batam Pos. Jadilah, per 2 Januari 2007 saya bertugas di Batam. Namun, sebelum keberangkatan, saya sempat pamit ke ketua umum partai.
“Jadi, bagaimana dengan rencana Anda di Kampar?” tanya sang ketua.
“Yah, mau bagaimana lagi, Pak Ketua? Saya ini kan hanya karyawan biasa yang bisa dipindahkan kapan saja dan ke mana saja. Mungkin belum rezeki jadi anggota dewan,” kata saya bergurau.
Akhirnya, sang ketua memberi jalan.
“Oke, kalau begitu, Anda nanti sounding saja ke ketua partai kita di Kepri. Mungkin Anda bisa melanjutkan kiprah di sana,” kata sang ketua. Saya pamit dan menjabat tangannya.
Setelah saya sampai ke Kepri dan bertemu dengan ketua partai yang sama dalam sebuah pertemuan di Tanjungpinang, saya utarakan maksud saya untuk bergabung. Gayung pun bersambut.
“Oke, nanti Anda ikut saja, karena kebetulah akan ada beberapa pergantian pengurus di partai kita. Nanti Anda bicara lebih lanjut dengan sekretaris umum,” kata ketua parpol di Kepri itu, sambil melirik sekretaris umum yang duduk semeja dengan kami.
“Baik, Pak Ketua. Nanti saya akan bicara lebih lanjut dengan Pak Sekum. Tapi nanti setelah saya kembali ke Batam,” kata saya. Kemudian saya pamit dan kembali ke Batam, tempat saya bekerja sebagai Pemimpin Redaksi Batam Pos.
Persoalannya, ketika saya sowan ke bos tertinggi saya melalui telepon, responsnya negatif.
“Anda pemimpin redaksi, tidak baik masuk partai. Sebab, bagaimana Anda bisa bersikap independen terhadap partai lain kalau Anda jadi pengurus sebuah partai?” kata bos besar saya.
Artinya, itu jelas penolakan dan tidak diizinkan. Sebagai karyawan, saya patuh, karena memang alasan bos besar saya sangat masuk akal. Lain halnya kalau saya tidak menjabat posisi pemred, orang paling berpengaruh di redaksi, saya yakin akan diizinkan. Sebab, saya tahu bos saya itu juga salah pengurus partai yang sama dengan saya di Pekanbaru.
Saya agak kecewa, karena dengan demikian, peluang saya untuk berkiprah di partai, tertutup sudah. Terlebih lagi, peluang untuk menjadi anggota dewan di provinsi tempat saya dilahirkan, pupus juga. Namun demikian, sebagai karyawan, saya harus patuh, karena memang dapur saya ngebul dari perusahaan tempat saya bekerja itu. Lebih dari sepuluh tahun saya dihidupi oleh perusahaan ini. Sehingga, apapun keputusan pimpinan, tentu harus saya terima dengan lapang dada.
Namun, bagaimana dengan saat ini, ketika saya tidak lagi menjabat pemimpin redaksi di Batam Pos? Sebab, di Batam Pos, saya kini duduk sebagai Wakil Pimpinan Umum Bidang Redaksi dan IT dan di Batam News (Grup Batam Pos) menempati posisi pimpinan umum. Tentu ceritanya bisa lain, sebab, saya tidak lagi selalu mewarnai kebijakan redaksi. Cuma, saya belum berniat bertanya kepada bos besar saya, karena saya pikir, waktu yang tersisa sebelum Pemilu 2009 pun tinggal sebentar lagi. Adalah terlambat kalau Pemilu 2009 saya jadikan sebagai tujuan jangka pendek, ha..ha…
Ah, sudahlah. Biarlah kenangan saya bergabung di partai politik menjadi catatan tersendiri dalam hidup saya. Setidaknya, untuk saat ini, saya belum berniat kembali ke partai politik. Mungkin setelah 2009, siapa tahu ada kesempatan dan bos besar mengizinkan. Itupun kalau masih ada partai yang mempersilakan saya bergabung di dalamnya. Cuma, hati kecil saya bertanya, siapa sih elo?***



Leave a Reply