Pemred ala Otomatis Romantis

Filmnya memang sudah turun dari studio 21 di tanah air. Namun, ada yang tersisa dari peran yang dimainkan Marsha Timothy (benar gak, ya, tulisannya?) sebagai pemimpin redaksi (pemred) sebuah majalah di film tersebut. Kayaknya, jadul sekali karakter yang dia mainkan. Padahal, setting filmnya zaman sekarang, zaman mutakhir. Lho, apa hubungannya antara setting dengan peran Marsha yang jadul itu?

Begini ceritanya:
Di film Otomatis Romantis itu digambarkan sosok pemred yang diperankan Marsha adalah wanita keras, tegas, tanpa pandang bulu. Bahkan, di beberapa dialog terkesan sangat naif, introvert, dan munafik dalam hal percintaan. Masa iya, pemred begitu berkuasa, bahkan menjadi muara dari semua persoalan di penerbitan? Namun, di adegan lain, dia digambarkan sebagai seorang wanita yang amat rapuh dan cengeng, ketika bicara soal cinta. (Ingat adegan ketika tiga perempat tubuhnya masuk ke bawah tempat tidur, sementara dari batas leher hingga kepala tersembul keluar, karena pusing soal asmaranya dengan Tora Sudiro yang berperan sebagai karyawan bagian umum?)

Lalu, ingat juga ketika dalam sebuah adegan digambarkan bahwa pemred bisa memutuskan untuk meloloskan usulan pinjaman uang dari seorang karyawan? Bah! Pemred apa pula ketika dia bisa “mencampuri” urusan usaha sebuah penerbitan? Bahkan, di pintu ruang kerjanya tertulis “Pimpinan Redaksi”, yang seharusnya Pemimpin Redaksi. Ini ada filosofinya, bahwa pemred bukanlah seorang “pimpinan” yang memiliki konotasi bisa “menguasai”. Namun dia adalah seorang “pemimpin” dari sebuah komunitas yang lebih sejuk. (Soal ini, pernah disinggung sedikit dalam blog sahabat saya, Ade Adran Syahlan).

Nah, begitulah. Kalau jaman dulu (ini tulisan yang salah, mestinya zaman dulu. Namun saya pakai sekadar menyesuaikan dengan istilah “jadul” di atas), mungkin pemred sangat berkuasa. Apalagi ketika jaman (lagi) Menpen masih dipegang oleh Harmoko, pers dikawal secara ketat oleh pemerintah. Ada SIUPP, ada STT. Nah, waktu itu di boks redaksi, biasanya pemred dirangkap atau merangkap pimpinan umum. Artinya, pemred bisa memakai dua baju sekaligus ketika dia memimpin sebuah penerbitan. Istilahnya, dia anggota MPR (lebih tinggi dari presiden), dia juga anggota DPR (setara dengan presiden). Dalam praktiknya, jangan coba-coba melawan pemred, karena dia bisa pakai baju “MPR”-nya.

Sebab itulah, (lho, tulisannya jadi serius, ya?), peran yang dimainkan oleh Marsha itu terasa janggal. Saya tidak tahu apakah dia juga sebagai pemimpin umum alias penanggungjawab. Tidak dijelaskan dalam film tersebut. Yang saya tahu, dalam sebuah adegan, masih ada atasannya. Artinya, dia hanya pemred thok (saja).

Belakangan, terjadi share of power yang lebih jelas antara pemred dengan pimpinan lain di perusahaan penerbitan. Artinya, pemred tidak bisa bertindak di luar batas kekuasaannya. Apalagi, pers hari ini adalah pers yang terbuka dan setiap saat bersinggungan dengan demokrasi. Pekerja pers pun hari ini sudah banyak yang mengecap pendidikan tinggi, sehingga pendekatan jadul tidak relevan lagi dilakukan pada pekerja pers hari ini. Apalagi, misalnya, kalau ada pemred yang membentak atau bahkan mengata-ngatai stafnya dengan kalimat tak pantas. Karena, apa yang dilakukan oleh Marsha Timothy saja sudah terasa sangat janggal dalam kacamata pers yang tumbuh hari ini.***

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>