Parkir Punggur Tetap Semrawut

KETIKA menjemput istri dan anak di pelabuhan Telagapunggur, petang Ahad (7/12), saya menemukan kenyataan bahwa pelabuhan tersebut masih sangat jauh dari kesan nyaman. Parkir masih semrawut, taksi mendominasi di mana-mana, kadang berhenti dan ngetem seenaknya. Taksi resmi pula yang seperti itu. Plat kuning!

Padahal, areal parkir dekat terminal kedatangan, sudah sedemikian luasnya. Sudah dipindahkan ke arah bawah, dekat terminal VIP yang tengah dibangun. Artinya, sudah lebih lapang. Namun, karena belum ada rambu-rambu penunjuk arah –mana lajur masuk, mana lajur keluar, dan mana lajur berbelok– dan markah ke mana seharusnya arah parkir, jadinya tetap saja parkirnya awut-awutan bak benang kusut.

Misalnya kemarin, setelah saya turun ke pelabuhan ponton untuk menjemput istri dan anak, saya kemudian melewati terminal kedatangan yang, nauzubillah baunya. Aroma debu begitu kental menyeruak ke hidung. Debu dan tanah nampak menumpuk di berbagai sudut gedung terminal kedatangan. Tak ada kesan bahwa pelayanan akan diberikan secara maksimal kepada penumpang. Yang menonjol justru kursi dan meja bagi petugas Perdaduk berjejer untuk pemeriksaan pendatang, meskipun kemarin kosong karena bertepatan hari libur.

Begitu keluar dari terminal kedatangan, sudah ditunggu dengan teriakan para supir taksi. Kendaraan mereka berjejer saling mendahului. Serabutan dan awut-awutan. Saya langsung mengajak istri dan anak-anak menuju mobil yang diparkir agak jauh dari pintu keluar. Maklum, sudah didominasi taksi yang berjejer.

Celakanya, di belakang mobil saya, eh, sudah ngetem pula sebuah taksi plat kuning dalam keadaan mesin masih menyala, namun tak ada orang di dalamnya. Saya celingak-celinguk mencari sang supir. Saya bertanya kepada orang-orang disana tentang siapa pemilik taksi itu, namun tak ada yang menjawab pertanyaan saya. Mereka cuek-bebek, seakan tak mendengar. Di samping mobil saya, ada sebuah mobil lain yang juga terhambat hendak keluar. Di dalamnya, berisi sekitar 6 penumpang. Sepertinya, mobil itu milik sebuah travel. Pastilah di dalamnya wisatawan, kalau bukan domestik, ya wisatawan asing.

Sekitar tiga menit mencari sang supir taksi, akhirnya seorang laki-laki separuh baya dengan santainya menghampiri taksi tersebut. Busyet! Laki-laki itu ‘kan salah satu tempat saya bertanya tadi. Mengapa tadi dia cuek saja?

“Siapa punya taksi ini, Pak?” tanya saya kemudian, pura-pura.

“Ada apa?” dia balik bertanya.

“Susah keluar nih, Pak, tolong jalan, Pak,” kata saya dengan tekanan suara kesal.

Dia kemudian memundurkan taksinya. Namun dia tidak langsung ke barisan taksi, tapi menyuruh supir travel tadi mundur, lalu dia mengambil posisi di tempat mobil travel tadi parkir. Selanjutnya, saya mengikuti mobl travel itu. Sialnya, sampai di ujung jalan, buntu ternyata. Di sana jalan keluar ditutupi pula oleh taksi lain dalam keadaan kosong. Benar-benar kacau sistem parkir di pelabuhan itu. Tak jelas mana jalan masuk dan jalan keluar.

Akhirnya, terpaksalah saya dan mobil travel itu mundur ke arah semula. Agak terbawa emosi, saya menggeber gas sampai di tikungan, lalu saya injak gas agak dalam melewati kerumunan taksi yang berjejer tak beraturan itu. Saya lihat para supir taksi itu melotot ke arah kami. Saya tidak peduli. Toh, mereka yang salah, parkir dan ngetem seenaknya.

Sampai di luar areal parkir, saya masih harus memutar ke arah terminal keberangkatan, karena jalan ditutup dengan beton yang dipasang berjejer. Sungguh tak nyaman situasinya.

Saya kemudian berpikir, kalau begini sistem parkir dan perilaku supir taksi di Punggur, bagaimana mungkin bisa menyambut tahun kunjungan wisata, Visit Batam Year 2010, kelak? Parkirnya saja awut-awutan dan tak beraturan. Kapan beresnya? Padahal, pelabuhan merupakan entry point yang sangat penting. Oh, mungkinkah menunggu terminal VIP yang bakal digunakan para pejabat itu rampung nantinya, baru Punggur ditertibkan? Entahlah. ***

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>