Nyat Kadir setelah Terdepak dari PKB

“Tidak Menguntungkan jika Saya Bertahan”
Waktu menunggu keberangkatan perdana Linus Airways ke Natuna, Selasa (26/8), di Sanur Cafe, Bandara Hang Nadim Batam, saya berbincang dengan Nyat Kadir. Mantan Wako Batam 1999-2004 tersebut tampil sangat santai hari itu. Masih dengan gayanya ketika menjabat Wako Batam, rambut disisir rapi ke belakang, Nyat menyeruput minumannya dari gelas putih kecil.

Saya menghampiri mantan ketua DPW PKB Kepri yang baru saja dilengserkan Muhaimin Iskandar-Lukman Edy tersebut. Saat itu, dia duduk bersama beberapa orang yang juga akan ikut penerbangan Linus ke Natuna.

“Apa kabar, Pak?” tanya saya. Dia mengulurkan tangan menjawab jabatan tangan saya. Tersenyum tipis, namun tampak tanpa beban.

Penampilannya masih rapi, namun tentu saja berbeda ketika masih jadi orang nomor satu di Pemko Batam beberapa tahun lalu. Perawakannya sedikit lebih kurus. Lalu, Ramon Damora, sahabat saya, mengingatkan posisi saya di Batam Pos dan Batam News kepada Nyat Kadir.

“Oh ya, apa kabar Bung Candra?” balasnya seraya mempersilakan saya duduk di sebelahnya.

Tanpa basa-basi, saya langsung masuk ke diskusi seputar kiprahnya di partai politik, hingga akhirnya didepak dari ketua DPW PKB Kepri. Awalnya, wajah laki-laki itu tegang, namun kemudian mampu mengendalikan situasi.

“Yah, itu ‘kan biasa, politik memang seperti itu,” katanya.

Kemudian, pembicaraan kami makin menukik ke berbagai persoalan seputar kisruh di partainya kaum nahdliyin tersebut. Juga di Kepri, sampai akhirnya dia digantikan oleh Endy Maulidi, anggota DPRD Bintan dari posisi ketua tanfizd DPW PKB Kepri.

Saya kemudian mencecarnya dengan kalimat-kalimat yang agak memojokkan.

“Ketika upaya lobi-lobi dilakukan oleh Lukman Edy yang saat itu masih Sekjen DPP PKB sebelum jadi menteri untuk mendudukkan Anda di PKB Kepri, saya waktu itu ada di (Hotel) Harmoni. Saya bahkan sempat berbincang dengan Pak Lukman Edy soal peluang Anda atau Huzrin Hood memimpin PKB Kepri. Kalau kemudian Anda yang terpilih jadi ketua, itu tidak terlepas peran Pak Lukman Edy dan Muhaimin,” kejar saya.

“Betul, saya tidak menampiknya,” katanya pelan.

“Tapi kemudian, mengapa Anda meninggalkannya dengan menyatakan bahwa Anda pendukung setia Gus Dur, ketika kaukus 15 mendukung Muhaimin?” kejar saya.

“Lho, Gus Dur itu kan memang bapaknya PKB. Sampai saat ini pun Gus Dur masih di sana,” elaknya.

“Terus, mengapa kemudian Anda ikut MLB di Parung yang dilaksanakan kubu Gus Dur, namun tidak ke Ancol di MLB kubunya Muhaimin?” tanya saya lagi.

Lama dia terdiam. Setelah menyeruput minuman hangatnya, Nyat Kadir melempar senyum.

“Saya sebenarnya adalah orang tengah. Cuma, Pak Muhaimin dan Pak Lukman Edy tidak mengetahuinya. Waktu awalnya Gus Dur mau MLB (yang akan mengganti Muhaimin), saya termasuk kelompok yang mencegahnya,” kata Nyat, kemudian.

“Tapi, bukankah ketika Lukman Edy menelpon Anda, setelah keluarnya keputusan MA yang memenangkan kubu Muhaimin, Anda tidak menjawab teleponnya? Padahal, dialah orang yang telah mendudukkan Anda di PKB Kepri?” kejar saya lagi.

“Ah, tidak ada telpon dari dia. Anda tahulah, saya dengan Lukman Edy itu masih saudara, dari garis istri. Jadi, sebenarnya hubungan kami baik,” jawabnya.

“Lagipula, kalau saya tetap di PKB, tidak akan ada manfaatnya, baik jika saya di kubu Gus Dur maupun Muhaimin. Perpecahan ini akan terus terjadi ke depannya dan itu tidak menguntungkan politik kaum nahdliyin. Jadi, lebih baik saya tidak di situ lagi,” katanya kemudian.

Pembicaraan kami terputus, karena beberapa tamu lain datang menghampiri kami. Sementara itu, anouncer sudah mengumumkan waktu untuk boarding. Mungkin karena tidak puas dengan perbincangan di Hang Nadim, ketika pesawat yang membawa kami sudah mendarat di Bandara Ranai, Natuna, waktu acara makan bersama, bersempena peresmian penerbangan perdana Linus Airways ke Natuna, Nyat Kadir kembali menghampiri saya.

“Nantilah, setelah saya wawancara saya dimuat di Batam Pos, silakan awak analisa, sebenarnya apa yang terjadi pada diri saya serta sikpa saya seperti apa,” kata Nyat.

Saya tersenyum mengiyakan. Dia kemudian mengatakan bahwa dirinya akan bergabung ke sebuah partai berbasis Islam, meskipun tidak akan mencalonkan diri di Pemilu 2009 mendatang.

“Anda mulai mencari perahu lain untuk 2011 nampaknya?” pancing saya.

“Ah, itu nantilah,” katanya tersenyum.***

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>