Nyaris Celaka di Laut Tanjungpinang
25 Nov 2008 Ruang Keluarga
SAYA pernah punya pengalaman menyeramkan ketika anak pertama saya, Abin, masih di dalam kandungan ibunya. Kejadiannya di pelabuhan Tanjungpinang yang biasa digunakan menyeberang ke Pulau Penyengat. Pompong –kapal kecil terbuat dari kayu bermesin dompeng– yang kami naiki sengaja ditabrakkan ke pelabuhan beton!
Waktu itu, istri saya sudah saya “kirim” ke Penyengat, karena dia memang ingin melahirkan di Pulau Emas Kawin bagi Engku Putri Hamidah itu. Jadi, ketika kandungannya memasuki usia sembilan bulan, saya antar dia dari Pekanbaru menuju Batam, lalu menyeberang ke Tanjungpinang dan Penyengat.
Nah, suatu malam, kami hendak balik ke rumah dari sebuah keperluan di Tanjungpinang. Waktu itu sudah hampir pukul delapan malam. Saya dan istri sebenarnya tidak mau masuk ke pompong tersebut. Pasalnya, saya lihat gelagat “kaptennya” sudah aneh. Dia meracau karena sebelumnya minum minuman keras di pelabuhan. Namun karena sistem di sana memakai antrean, terpaksalah kami naik pompong tersebut.
Celakanya, dia tak sepenuhnya mabuk. Buktinya, begitu kami naik bersama penumpang lain, si pengemudi pompong langsung meracau:
“Aku tak peduli, mau anak polisikah, siapakah…” katanya di sela suaranya yang tak bagus itu.
Telinga saya agak berdenyar juga rasanya mendengar dia bicara soal anak polisi itu. Maklum, istri saya memang anak seorang polisi di KPPP Polresta Tanjungpinang, waktu itu. Belakangan, mertua saya pindah ke Polair, masih di kota yang sama.
Begitu pompong dijalankan, si pengemudi langsung menekan gas. Celakanya, dia mengarahkan haluan pompong ke pelabuhan beton di ujung. Dia tidak peduli. Dihajarnya terus pompong menghala ke pelabuhan beton di ujung dermaga.
Suasana menjadi panik. Seorang laki-laki yang berusaha mengambil alih kemudi, tidak berhasil, karena si pengemudi sedang memegang sebilah parang.
Pompong masih melaju di malam itu. Beberapa meter menjelang haluannya menabrak beton, seorang lelaki remaja memilih menjatuhkan tubuhnya ke air. Penumpang lainnya panik, termasuk istri saya dan tentu saja saya sendiri. Seorang ibu malah langsung ambruk, tak sadarkan diri.
Suasana mencekam. Saya berusaha menelpon mertua yang saat itu berada di rumah Penyengat. Namun batal, karena saya agak takut menelpon, karena khawatir didengar oleh si kapten gila itu. Saya peluk istri yang sedang mengandung anak pertama kami itu kuat-kuat sambil komat-kamit baca doa. Saya juga berteriak tak tentu arah. Suasana jadi makin kacau.
Syukur Alhamdulillah, Allah masih memberikan pertolongan-Nya kepada kami semua. Haluan pompong gagal menghantam beton, karena terhalang sebuah tonggak kayu bulat yang terpacak di sana, satu meter dari pelabuhan beton. Akibatnya, haluan pompong melenceng setelah menyenggol tonggak kayu itu. Pompong terus melaju meninggalkan pelabuhan beton.
Saya tak bisa membayangkan jika haluannya tadi menabrak pelabuhan beton itu. Pastilah pompong akan terbelah dua dan kami semua, penumpangnya akan berhamburan jatuh ke laut. Sementara anak saya, oh, anak pertama saya itu, entahlah….
Entah bagaimana caranya, akhirnya si lelaki di belakang tadi berhasil menjinakkan si “kapten makan sumpah” itu. Setelah parangnya diamankan, si lelaki itu mengajak si kapten sinting itu bergurau. Mereka bicara keras sekali sambil melakukan toast telapak tangan. Mungkin begitu cara mengamankan orang yang lagi mabuk.
Dalam perjalanan sekitar 15 menit, saya dan seluruh penumpang masih was-was. Siapa tahu si kapten berulah lagi. Kalau itu terjadi, tentu tak kalah seram, karena kami saat itu berada di tengah laut antara Tanjungpinang dan Penyengat. Maka, saya diam-diam langsung mengontak mertua saya. Saya katakan hal yang barusan kami alami. Dia terlihat geram dari nada bicaranya.
Alhamdulillah lagi, kami akhirnya selamat sampai ke pelabuhan di Pulau Penyengat. Di sana, sudah banyak masyarakat menunggu dengan pandangan cemas. Agaknya, sudah banyak penumpang yang menelpon saudara mereka di darat. Malam itu, saya baru bisa memejamkan mata menjelang pagi. Saat itu, 2002, saat yang takkan terlupakan.***



November 25th, 2008 at 8:36 pm
pendapat saya,bapak Candra,kita dapat memaknai setiap kejadian dengan campur tangan Tuhan dengan cinta kasih-Nya,serta mengucap syukur dalam segala hal.salam sukses dari depok.GBU
November 26th, 2008 at 2:04 pm
Hati-hati lo bang
November 26th, 2008 at 2:40 pm
trims ya atensinya… God bless you too