NPWP Tertinggal, Berharap Pesawat Delay

Menjelajah Amerika, dari DC ke San Francisco (2)

BAIKLAH, saya akan mulai bercerita soal persiapan keberangkatan. Misalnya, bagaimana saya kemudian pusing mencari baju dingin alias jaket untuk dibawa ke sana nantinya. Mulailah saya ajak sahabat saya Andra S Kelana untuk cari-cari “baju salju”. Awalnya kami surfing ke beberapa toko di Nagoya. Namun, saya tidak sreg, karena dari informasi yang saya dapatkan, suhu di beberapa tempat di Amerika kelak bisa minus 4 derjat celcius, sementara baju yang dijual di Batam kebanyakan untuk suhu tropis. Kalaupun ada jaket kulit, baru untuk kelas “musim dingin” ala Indonesia.

Setelah penat berputar-putar di Nagoya, akhirnya saya dan sahabat saya itu ke salah satu pasar pakaian bekas di Jodoh. Di sini, kami mengitari beberapa kedai, barulah dapat baju yang dimaksud. Lucunya, kepada penjualnya, saya mengaku mencari baju dingin untuk mendaki gunung. Iyalah, masa mau ke luar negeri belinya baju bekas? Kan malu. Ke luar negeri sanggup, beli jaket musim dingin malah tidak sanggup. Tapi saya tak peduli. Toh, hanya untuk sekali pakai ke Amerika. Belum tentu bakal ada kesempatan lagi ke negara bersalju. Kemudian cari topi, tidak ada. Begitu juga sarung tangan. Ya, sudahlah, nanti di Jakarta saja beli yang lain, pikir saya.

Keesokan harinya, saya bangun agak pagi. Sebelumnya, semalam, saya bersama istri ke salah satu supermarket di Batam untuk membeli beberapa perlangkapan yang akan dibawa, misalnya odol, sikat gigi, minyak rambut, shampoo, sabun mandi, mie gelas, abon, dan beberapa perlengkapan lainnya. Semuanya saya beli dalam kemasan mini, karena ingin menghemat kopor. Maklum, kopor yang saya pinjam dari teman lainnya, Ramon Damora, tidak begitu besar. Ditambah satu tas ransel yang saya beli, hanya cukup untuk pakaian dan beberapa perlengkapan lain. Malamnya, sibuk mengepak barang-barang ke koper.

Nah, pagi-pagi sekali, dengan perasaan sedikit berdebar, saya menciumi anak-anak satu persatu, tak ketinggalan ibunya. Maklum, ini akan menjadi perjalanan terpanjang yang pernah saya alami. Karena anak pertama saya sekolah pagi, jadilah kami berempat ke Bandara Hang Nadim. Maksudnya, setelah dari bandara, baru kemudian istri mengantarkan anak ke sekolahnya di Batam Center. Sementara yang kecil ikut ibunya terus ke mana-mana, karena di rumah memang tidak ada pembantu.

Setelah berpisah di pintu ruang keberangkatan, saya bergegas untuk check in, karena waktunya memang sudah mepet. Terburu-buru, saya kemudian langsung ke ruang tunggu. Celaka! Saya baru sadar bahwa kartu NPWP saya tertinggal di tas istri. Maksudnya kemarin, dia mau ke Singapura bersama teman-temannya, jadi harus difoto kopi NPWP saya, supaya tidak terkena kewajiban bayar fiskal.

Wah, gawat. Dalam hati saya berdoa supaya pesawat Garuda ke Jakarta delay. Mungkin jarang orang minta delay, sebab kalau di Indonesia, itu adalah keinginan yang aneh. Lha, tak diminta pun sering delay, kok, hahaha… Akhirnya, saya mendapatkan NPWP tersebut, setelah istri mengantarkannya usai dari sekolah anak. Hebat juga dia nyetir, bisa secepat itu. Saya menunggunya di pintu luar bandara, one more kiss, lalu berlari ke ruang tunggu. Sampai di sana, para penumpang sudah boarding.

Singkat cerita, sampai di Jakarta, saya dan beberapa teman lain diinapkan di sebuah hotel kawasan Cikini. Keesokan harinya, kami (empat jurnalis Indonesia) menghadiri briefing di Kedubes AS, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta. Di sanalah kami menerima beberapa brosur penting seputar rute yang akan ditempuh, tempat penginapan selama di Amerika, peraturan penerbangan di AS, sampai beberapa larangan yang harus dipatuhi selama di AS. Termasuk soal larangan membawa laptop yang software-nya bukan original. Bakal disita pihak imigrasi atau bea cukai Amerika!

Sabtu (24/1), saya dan teman-teman bertolak dari Soekarno-Hatta dengan tujuan Changi, Singapura. Di Soekarno-Hatta, kami check in flight through dengan last stop di Dulles International Airport, Washington DC. Ini dimaksudkan agar bagasi yang dibawa nanti ketemunya langsung di DC (sebutan Washington DC sebagai distrik khusus yang terletak di eastern time zone, paling timur Amerika. Washington lainnya adalah sebuah state, di sebelah pasific, paling barat Amerika).

Setelah urusan check in beres, kami ke konter pemeriksaan NPWP. Tidak rumit, cukup menunjukkan kartu NPWP, lalu petugas akan memberi cap di atas boarding pass. Setelah itu, baru urusan boarding, tentu sebelumnya harus antre dan memperlihatkan paspor serta sedikit menjawab pertanyaan petugas imigrasi di Soekarno-Hatta. (bersambung)

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>