Mudik (Bukan) Kampungan

Ketika kuliah dulu, ada pernyataan Rektor Unri Prof M Diah Zainuddin (bukan Muhctar Lutfie seperti tertulis sebelumnya, pen) yang sampai sekarang masih melekat di ingatan saya. Katanya kira-kira begini:

“Mahasiswa yang pulang kampung setiap lebaran itu kampungan”.

Begitulah pernyataan rektor yang dimuat di Surat Kabar Kampus (SKK) Bahana Mahasiswa Unri, sekitar awal 1990-an. Waktu itu saya salah seorang aktivis pers mahasiswa di Pekanbaru.

Sontak, banyak mahasiswa ketika itu bereaksi. Ada yang menyesalkan ungkapan rektor, ada yang cuek, dan ada pula yang membenarkan pernyataan rektor paling disegani sepanjang usia Unri itu.

Yang saya tangkap pada saat itu, latar belakang si rektor mengeluarkan pernyataan tersebut adalah karena banyaknya mahasiswa yang melakukan “korupsi” setiap liburan tiba. Termasuk liburan Hari Raya tentunya. Sebab, setelah berlibur di kampung masing-masing, ada saja yang memperpanjang libur hingga berhari-hari lamanya.

Padahal, saat itu Jusuf Kalla belum lagi menjadi menteri. Ketika menjadi menteri kesra di era Megawati, Kalla adalah menteri yang mengurusi persoalan “korupsi” libur di kalangan PNS. Itulah sebabnya kemudian dikenal dengan istilah libur bersama, di mana terjadi rapelan hari libur, jika tanggalan di almanak berdekatan dengan libur akhir pekan. Dengan cara ini, diharapkan para PNS tidak lagi “korupsi” hari libur akibat adanya istilah “harpitnas” alias “hari kejepit nasional” itu.

Dikaitkan dengan konteks kekinian, tradisi mudik yang entah sejak kapan dimulai di Indonesia itu, bisa relevan dengan pernyataan mantan rektor di atas. Hanya saja, tentu cakupannya sudah semakin luas, bukan lagi sebatas kalangan mahasiswa saja. Lalu, pantaskah mereka yang selalu pulang kampung alias mudik, khususnya di setiap lebaran, disebut sebagai orang yang “kampungan”?

Bagi daerah seperti Batam, di mana sebagian besar penduduknya adalah para perantau, tentu penggunaan istilah “kampungan” bagi mereka yang senantiasa mudik, bisa jadi tidak tepat. Akan tetapi, pulang kampung setiap lebaranpun, atau membelanjakan uang membeli tiket secara berlebih-lebihanpun pastilah tidak produktif dan hanya akan menguras hasil keringat yang sudah dikumpulkan berbulan-bulan.

Bukan rahasia umum, ketika tradisi mudik dijalankan, kita bukan hanya harus menyediakan tiket PP bagi seluruh anggota keluarga yang akan mudik, namun lengkap dengan berbagai risiko lainnya. Misalnya saja oleh-oleh untuk saudara dan handai tolan di kampung atau bingkisan untuk para keponakan. Maklum, kan baru datang dari Batam, pastilah banyak duitnya, pikir mereka. Padahal, saudara di kampung tidak mengetahui bahwa kita bisa saja baru saja menggadaikan beberapa harta untuk keperluan mudik tersebut. Rumah gadaipun jadi penyelamat sementara waktu.

Dalam konteks inilah saya melihat, ungkapan “kampungan” ala mantan Rektor Unri untuk mereka yang mudik setiap tahun saat lebaran, bisa pas jika dikaitkan dengan kondisi umumnya orang Batam hari ini. Bayangkan, mereka, para pekerja di Batam ini, sudah susah payah mengumpulkan pendapatan dari gaji mereka selama berbulan-bulan, tapi bisa dihabiskan dalam sekali mudik yang terlanjur menjadi ritual tahunan itu.

Akan tetapi, persoalan mudik tentu tidak bisa dilihat sesederhana itu. Ini bukan sekadar persoalan berhari-raya di kampung, bukan juga sebatas bagaimana membelanjakan hasil keringat setahun belakangan, serta bukan pula sekadar rutinitas tahunan. Ini persoalan tradisi yang sudah berlangsung puluhan tahun. Selain itu, sebagai mahkluk sosial yang beragama, suasana batin yang tercipta ketika menjalani tradisi mudik tersebut, bisa menjadi oase setelah bergelut dengan keterasingan selama di perantauan. Ada kebutuhan silaturahim di dalamnya.

Namun, jika kita menyikapi mudik dengan cara berlebih-lebihan, bahkan hanya sekadar memenuhi ritual tahunan semata, selain tidak produktif, saya khawatir, lama-lama kita hanya terjebak menjadi orang “kampungan” semata. Sebab, kalau tujuannya hendak berbagi dengan keluarga di kampung, bukankah bisa dengan jalan mengirimkan bingkisan atau uang alakadarnya sebagai “tanda ingat”, lalu janjikan insya Allah kita jumpa tahun depan? Wallahualam.***

Comments are closed.