Menolak, Tetap Dibujuk Konsulat

Saya betul-betul bingung. Namun di sisi lain, saya merasa sangat tersanjung. Pasalnya, meskipun saya sudah mengirimkan SMS ke Konsul AS di Medan Mr Sean B Stein bahwa saya tidak bisa memenuhi undangan pihak AS ke Amerika, Januari mendatang, namun kemarin saya kembali ditelpon. Kali ini soerang staf Konsulat yang menelpon. (Baca juga “Menolak ke Amerika”).

“Maaf Pak Candra. Saya diberitahu Pak Sean bahwa Bapak sudah mengatakan tidak bisa ikut ke Amerika, namun kelihatannya, ini bocoran ya, Pak, dia sangat kecewa dengan keputusan Bapak. Meskipun Bapak menyatakan tidak lagi sebagai Pemred Batam Pos, atau malah pindah dari Batam Pos ke manapun, yang Pak Sean lihat adalah kapasitas pribadi Bapak. Dia tidak peduli apapun posisi Bapak saat ini dan nanti,” kata wanita itu dari balik telepon.

“Wah, saya sangat tersanjung nih…” jawab saya.

“Betul, Pak. Sebab, dari sekian banyak jurnalis di Sumatera, hanya Bapak yang diundang dan Pak Sean sangat respek”.

“Tapi maaf, Mbak, persoalannya tidak sesederhana itu. Ini kan masih lama, ya, Januari. Nah, kita kan tidak tahu apa yang bakal terjadi menjelang Januari itu. Saya ini kan cuma karyawan yang bekerja dengan orang lain. Saya tidak tahu bakal diizinkan atau tidak nantinya.”

“Soal itu, nanti biar pihak Konsulat atau Kedutaan yang atur, Pak. Kita sudah berpengalaman dengan hal-hal seperti itu sebelumnya, namun setelah pihak Kedubes menyurati pihak perusahaan, biasanya aman-aman saja. Itu nanti kamilah yang atur,” bujuknya.

“Tapi, bisa saja nanti saya malah dipindah oleh perusahaan ke Pekanbaru, atau Medan, atau Padang. Nah, di tempat yang baru kan saya mesti menyesuaikan diri lagi dengan pimpinan yang baru. Belum tentu semuanya lancar,” kata saya lagi.

“Oh, jadi persoalannya lebih kepada pekerjaan dan izin pimpinan ya, Pak? Oke deh, seperti saya katakan tadi, itu nanti pihak Kedubes yang akan melobi pimpinan Bapak nantinya. Kata Pak Sean, kesempatan ini sangat berguna bagi pengembangan Bapak ke depan”. Perempuan itu masih ngotot. Sepertinya, dia adalah staf yang loyal terhadap atasannya.

“Hm… saya sangat berterimakasih. Sampaikan pada Konsul, saya sangat mengapresiasi kepercayaannya. Tapi, ini tidak mudah bagi saya. Selain pekerjaan, saya juga harus meninggalkan keluarga dalam waktu yang cukup lama. Ini tidak mudah buat saya”.

“Kalau itu, maaf, Pak, kami tidak sampai ke sana. Tapi saya mengerti dengan kekhawatiran Bapak. Makanya, silakan Bapak pikir-pikir lagi. Yang jelas, Pak Sean sangat terkesan. Apalagi kemarin, buku yang Bapak berikan ke beliau, setelah dia baca, dia sangat menikmatinya. Dia pikir, o, ini orang yang tepat,” pujuk wanita itu lagi.

Saya ingat ketika bertemu Sean di ruang rapat redaksi Batam Pos awal tahun ini. Saat itu dia membawa Wakil Dubes AS. Setelah berdiskusi dengan awak redaksi Batam Pos, saya menyodorkan buku kumpulan catatan lepas saya “Membranding Batam, Menjual Kepri” ke mereka berdua.

Well, saya betul-betul terpojok saat berbicara dengan wanita staf Konsulat itu. Sudah semua jurus saya keluarkan untuk menolak, namun dia tetap “memaksa” saya menerima tawaran langka itu. Ahirnya, saya harus berkonsultasi dengan pimpinan saya, Pak Rida K Liamsi (CEO Riau Pos Group). Saya tulis email ke beliau. Saya akan tunggu jawaban, Pak Rida. Apapun itu.***

One Response to “Menolak, Tetap Dibujuk Konsulat”

  1. Silo Says:

    Selain yang paling utama menjaga diri dan Agama
    Memang yang paling berat itu jauuh dari keluarga…………


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>