Menolak ke Amerika

Saya baru saja membuat keputusan cukup penting dalam hidup saya. Padahal, ini adalah kesempatan langka bagi seorang jurnalis seperti saya, yakni pergi ke Amerika, mengunjungi empat negara bagian dan beberapa penerbitan di negara Paman Sam itu.

Ya, kemarin, Konsul AS di Medan Sean B Stein, menelpon saya. Dalam Bahasa Indonesia yang masih patah-patah, dia memberitahu bahwa saya dinyatakan lolos dari seleksi yang saya ikuti tahun lalu.

“Well, saya tahu Anda sibuk, tapi saya ingin memberitahu soal tes yang kami lakukan untuk journalist visit ke Amerika. Anda dinyatakan lolos oleh tim seleksi,” katanya.

Saya terkejut dan tidak menyangka. Sebab, testingnya sendiri sudah berlangsung hampir setahun yang lalu. Sejak itu, tidak ada kabar berita dari Konsulat AS di Medan, walaupun saya masih sering kontak dengan mereka. Misalnya, ketika dua kali kapal perang mereka merapat di Kabil, saya diminta menghubungi beberapa wartawan untuk ship tour. Saya juga menghubungi Ketua Dewan Pendidikan Kota Batam Hardi S Hood supaya dia bisa mengerahkan rombongan pelajar ke kapal perang AS itu.

“Oh, terimakasih Pak Sean. Ini luar biasa. Saya sendiri sudah hampir lupa. Jadwalnya kapan?”

“Sekitar Januari-Februari 2009. Memang masih lama, tapi kami harapkan Anda beri konfirmasi hari ini atau besok, karena kami akan atur semuanya di sana,” tambah Sean dari balik telepon.

“Baik. Akan saya pikirkan”.

“Ya, saya tahu Anda sibuk, tapi saya berharap Anda bisa ikut. Di sana kita akan kunjungi sekitar empat negara bagian dan beberapa surat kabar. Ini untuk menambah pengalaman Anda. Tapi semua tergantung Anda,” katanya.

Setelah pembicaraan berakhir, saya berpikir keras. Haruskah saya lewatkan kesempatan ini? Tapi, apakah perusahaan akan mengizinkan saya meninggalkan pekerjaan sebulan lamanya? Apalagi jadwalnya adalah Januari-Februari, saat di mana intensitas perusahaan biasanya sedang sibuk-sibuknya.

Well, maaf Pak Rida (bos Riau Pos Group), saya tidak sempat berkonsultasi dengan Anda. Saya tak yakin perusahaan akan mengizinkan saya meninggalkan pekerjaan sebulan. Lagipula, saya rasa, saya sendiri belum siap dalam berbagai hal. Selain bahasa Inggris yang masih pas-pasan, banyak hal lain yang saya pikirkan saat ini. Saya putuskan saja menolak kesempatan itu secara halus. Pagi tadi, setelah berpikir semalaman, saya kirimkan SMS ke Sean setelah saya ketahui HP-nya sedang off.

“Dear Mr Stein. Saya ucapkan terimakasih atas kepercayaan pihak AS terhadap saya. Ini suatu kesempatan langka dapat mengunjungi AS. Namun saya harus katakan maaf, karena saya tidak dapat pergi, karena pada bulan Januari adalah masa-masa sibuk di perusahaan kami….. Saya persilakan Anda mencari pengganti. Tks, candra ibrahim”.

Itulah SMS yang saya kirimkan pagi tadi. Namun sampai sekarang belum dibalas oleh Konsul AS di Medan itu. Saya harap dia tidak kecewa, karena alasan yang saya sampaikan sangat masuk akal.***

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>