Menimbang Sani, Meneroka Ismeth
27 Jan 2010 Catatan TP
JUMAT, 15 Januari 2010, Wakil Gubernur HM Sani, secara resmi mendeklarasikan keinginannya untuk dicalonkan sebagai kandidat Gubernur Kepri periode 2010-2015. Artinya, ini merupakan kali pertama Wakil Gubernur Kepri itu secara terbuka menyatakan maksud politiknya kepada publik. Sebelumnya, memang baru sebatas selentingan dan dalam forum terbatas. Sebab, sepertinya, Sani selama ini sengaja tidak mau gegabah, karena dia perlu membaca “arah angin”. Sehingga, terlihat seperti sebuah kebetulan, setelah Aida Ismeth dan Nyat Kadir mendeklarasikan niatnya untuk maju ke Pemilukada Kepri 26 Mei 2010, Sani pun tak mau ketinggalan. Di depan ratusan undangan yang umumnya mengenakan pakaian Melayu, Sani menyatakan kesiapannya untuk dicalonkan.
Momen ini menjadi menarik, sebab Sani selama ini adalah Wakil Gubernur Kepri mendampingi Ismeth Abdullah. Hampir lima tahun yang lalu, keduanya berpasangan dan berhasil mengalahkan dua pasangan lainnya, yakni Nyat Kadir-Soerya Respationo dan Rizal Zein-Firman Bisowarno. Peroleh suara Ismeth-Sani saat itu terpaut tidak terlalu jauh dengan Nyat-Soeryo. Sedangkan Rizal-Firman lebih dianggap sebagai bunga-bunga pilkada saja, karena keduanya seperti sengaja “dipasang” untuk memecah suara bagi kemenangan pasangan Ismeth-Sani.
Banyak yang beranggapan bahwa Sani selama ini terkesan tidak mau muncul menjadi pesaing Ismeth karena tidak ingin merusak hubunganya dengan suami anggota DPD RI Aida Zulaikha Nasution tersebut. Wajar saja, sebab keduanya adalah pasangan gubernur dan wakil gubernur yang harus menjalankan pemerintahan di provinsi ini. Tentu tidak bisa dibayangkan betapa akan terganggunya pemerintahan jika antara gubernur dan wakil gubernur terlibat persaingan terbuka sejak awal memerintah. Banyak kejadian di tanah air telah membuktikan terjadinya disharmonisasi, baik antara gubernur dengan wakilnya, wali kota dengan wakilnya maupun antara bupati dengan wakilnya pula.
Namun banyak pula yang gregetan dan tidak sabar melihat lamanya Sani membuat keputusan untuk maju sebagai calon gubernur periode mendatang. Apalagi setelah pendukungnya berkeyakinan bahwa kans Ismeth Abdullah untuk bertarung kembali semakin kecil, setelah ditetapkannya mantan ketua Otorita Batam itu sebagai tersangka pembelian mobil pemadam kebakaran oleh KPK, bulan lalu. Namun, lagi-lagi Sani sepertinya sengaja mengulur waktu sambil mencari moment yang tepat. Akan tetapi, komunikasi politik dengan beberapa partai sebenarnya sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari, termasuk dengan partainya sendiri, Partai Golkar. Di partai ini, Sani tercatat sebagai Wakil Penasehat. Setelah ada sinyal yang kuat dari beberapa partai itulah Sani memutuskan untuk mendeklarasikan diri sebagai kandidat gubernur.
Di sisi lain, beberapa hari sebelumnya, Nyat Kadir dan Aida Nasution sudah pula mendeklarasikan diri mereka masing-masing, meski dengan bungkus yang berbeda. Aida menamakannya sebagai “niat politik”, sedangkan Nyat tegas-tegas menyatakan maju sebagai kandidat. Keduanya memilih tempat deklarasi di Batam, Aida di sebuah rumah makan dan Nyat di kediaman. Namun Sani lebih memilih di Asrama Haji Tanjungpinang, ibukota Provinsi Kepri. Lucunya, malam sebelum Sani mendeklarasikan diri, Ir Sudirman Almon didaulat oleh GM BP3KR agar bersedia maju sebagai kandidat wakil gubernur. “Siapapun gubernurnya, Sudirman Almon wakilnya,” kelakar Ketua GM BP3KR Basyaruddin Idris, di sebuah rumah makan Kampung Bulang, Tanjungpinang.
Pertanyaan kemudian adalah, partai mana saja yang kelak akan mendukung ketiga kandidat gubernur dan satu calon wakil gubernur tersebut? Sebab, jika dilihat dari latar belakang bendera, tiga nama masih termasuk keluarga besar Partai Golkar. Seperti diketahui, Aida adalah anggota DPD RI Dapil Kepri, istri Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar Kepri Ismeth Abdullah, sedangkan HM Sani adalah Wakil Ketua Dewan Penasehat. Begitu juga Sudirman Almon, yang tercatat sebagai pengurus DPP Partai Golkar, membidangi Pemenangan Pemilu Wilayah Sumatera. Hanya Nyat Kadir yang bukan dari keluarga Partai Golkar, meskipun pernah menjadi Wali Kota Batam yang memiliki hubungan erat dengan partai beringin tersebut. Nyat juga pernah tercatat sebagai Ketua DPW PKB Kepri sebelum akhirnya diganti oleh DPP PKB. Demikian pula, Nyat kemudian pindah ke PKS, di mana pada sebuah acara di Kantor DPW PKS Kepri di Batam, Nyat ditabalkan sebagai warga PKS.
Di luar itu, yang tak kalah menarik adalah menunggu kemungkinan lain. Sebab, Aida pernah memberi sinyal bahwa munculnya dia di deklarasi sebagai bentuk persiapan kalau-kalau suaminya tidak bisa bertarung di Pemilukada, terkait statusnya sebagai tersangka. “Saya masih memprioritaskan Bapak, sebab Bapak lebih mampu dibanding saya,” katanya kepada wartawan.
Pernyataan Aida ini menjadi menarik, sebab di kalangan loyalis Ismeth masih terbersit harapan bahwa Gubernur Kepri itu masih bisa bertarung di Pemilukada tahun ini. Pasalnya, status hukumnya sebagai tersangka tidak serta merta menutup peluang Ismeth. Apalagi, jika dilihat secara hukum, ada kenyataan menarik lainnya jika melihat kasus Damkar yang kabarnya telah selesai disidik oleh Kejari Batam dengan tersangka Nur Setiajid, mantan anak buah Ismeth di Otorita Batam. Jika kelak Nur dan berkasnya sudah P 21 dan dilimpahkan ke pengadilan, bukan tidak mungkin Ismeth yang ditangani oleh KPK akan “diserahkan” ke Kejari Batam.
Seorang pengurus partai pengusung Ismeth-Sani di 2005 menyebutkan, jika kasus Nur Setiajid sudah dilimpahkan ke pengadilan, boleh jadi KPK tidak akan menahan dan memproses Ismeth. Sebab, adalah janggal jika kasus yang sama ditangani oleh dua lembaga penegak hukum, di mana prosesnya sudah sampai ke penuntutan. “Ketika proses lidik, bisa saja ditangani oleh Kejari dan KPK, namun alau sudah ke penuntutan, cukup satu lembaga saja kan?’’ katanya seperti bertanya. Artinya, dia menilai, peluang Ismeth untuk lepas dari jeratan hukum dan ikut Pemilukada, masih terbuka. Wallahualam.***
Catatan: tulisan ini sudah dimuat di Harian Tanjungpinang Pos, edisi 18 Januari 2010.



Leave a Reply