Menggesa Batam Digital Island
27 Nov 2008 Catatan Lepas
SEJAK beberapa hari ini, saya gak bisa lagi menikmati fasilitas hotspot di Graha Pena Batam. Maklumlah, entah karena kebetulan, ketika mati lampu mendadak beberapa hari lalu di Graha Pena, hotspot-nya tiba-tiba down. Padahal sebelumnya, di kantor saya dan di kafe depan, bisa menikmati internet gratis melalui fasilitas wifi. Fasilitas ini biasanya bisa dinikmati melalui laptop, mulai dari lantai dasar (basement) hingga ke lantai tiga Graha Pena.
Beruntung di ruangan kerja saya juga terhubung dengan kabel dari server Batam Pos yang berlangganan internet kabel. Jadinya, walaupun hotspot-nya sudah ditutup oleh MNet, saya tetap bisa berselancar di dunia maya. Yah, daripada berlangganan internet secara pribadi, kan masih mending make yang gratisan, ha…ha… Sebab, untuk berlangganan internet, misalnya di rumah, saya belum menganggapnya sebagai sebuah kebutuhan mendesak. Bukan businessman, sih. Lagian, tiap hari saya masuk kerja dan di tempat kerja ada koneksi internet via kabel.
Memang, hidup di zaman sekarang, kita memang kudu melek internet. Sebab, semua memang tersedia di sana. Mau cari apa? Bahan skripsi, bahan kantor, atau cuma berselancar memperbanyak teman di blog, friendster, atau lainnya, semua tersedia di internet. Termasuk kalau iseng mau cari-cari gambar “pembanding”, wah, banyak sekali di dunia maya itu. Cuma mesti hati-hati. Sebab, jangan-jangan UU Pornografi bakal menjerat kita ke penjara.
Saya kemudian teringat dengan gawe Pemko Batam yang ingin menjadikan kota ini sebagai digital island atau cyber island. Wah, sebuah azam yang cukup memiliki greget. Sebab, sebagai kota yang letaknya berhadapan dengan sebuah negara yang menjadi hub-nya teknologi Asia Tenggara seperti Singapura, Batam memang harus “membayanginya”. Caranya, warga Batam harus melek internet.
Itulah sebabnya, beberapa waktu belakangan ini, Pemko gencar menggandeng Telkom untuk mendirikan beberapa hotspot gratis di kota ini. Langkah awal sudah dimulai di Dataran Engku Puteri Hamidah, dekat tanah lapang milik Pemko Batam. Hasilnya, cukup lumayan; setiap hari ada saja warga kota yang berselancar dengan laptop mereka. Sebagai langkah awal pula, ini sudah cukup bagus, karena, meskipun masih dalam kuantitas terbatas, warga Batam mulai diberikan fasilitas gratis untuk berselancar di dunia maya.
Namun, itu semua tentunya hanya bisa dinikmati oleh warga yang memiliki notebook yang dilengkapi dengan fasiltas wireless atau pemilik handphone wifi. Bagi yang “cuma” punya PC, ya tidak mungkinlah membawa PC-nya ke Engku Puteri. Ribet amat. Lagipula, ke mana mau dicolokkan? He..he…he…
Saya memang tak begitu mengikuti perkembangan kiprah tim IT Pemko akhir-akhir ini. Tapi saya dengar, di beberapa titik keramaian, kini mulai dirintis untuk membuat hotspot juga. Salah satunya di sekitar Mukakuning, sebuah kawasan industri paling padat di Batam. Di beberapa tempat lain juga ada, misalnya di Masjid Raya Batam Center. Kalau yang diusahakan pihak swasta, tengoklah di beberapa kafe, restoran dan hotel, sudah banyak disediakan hotspot gratis. Meskipun, untuk menggunakannya, tetap saja harus memesan segelas juice atau penganan ringan. Selain itu, pakai password pula, yang “hanya” diberikan kepada pengunjung.
Sebagai langkah awal, terobosan yang dilakukan Tim IT Pemko di bawah koordinasi Wakil Wali Kota Batam Ir Ria Saptarika, patutlah diberi apresiasi. Hanya saja, sebenarnya, hal itu bisa dilakukan secara lebih maksimal lagi. Saya mencoba membayangkan, jika suatu saat, setiap developer “dipaksa” oleh Pemko atau OB untuk menyisihkan sedikit keuntungannya untuk menyediakan hotspot bagi penghuninya. Kalau bisa, ya tetap gratis. Toh, warga harus membeli laptop lagi, bukan?
Kalau hotspot gratis di setiap perumahan di Batam sudah terealisasi, saya pikir, kota ini kelak benar-benar bakal menjadi the digital island. Tinggal lagi, semua pihak, terutama pihak penyedia saluran, melakukan proteksi terhadap situs-situs berbau pornografi. Bagaimana caranya? Itu urusan orang IT-lah, mana saya tahu caranya. Yang jelas, langkah menuju digital island itu bakal semakin mudah, jika di setiap perumahan tersedia hotspot, baik berlangganan, maupun yang gratisan.***



November 28th, 2008 at 1:04 am
dukung juga nih BDI bang… Jadi tserharu
:)
semoga BDI milik semua orang batam
November 28th, 2008 at 9:33 am
Ya, demi kemajuan, harus didukung, soalnya di kota semodern Batam, masih banyak yang kampungan dan hanya modal nekad dari kampung, hehehe…
December 6th, 2008 at 8:29 pm
Mantab itu idenya, Bung candra!
Insya Allah kedepan kita akan cari sponsor lebih banyak lagi.
Silahkan yg mau bantu loby2 sponsor!
biar batam kita sirami dengan internet hotspot.
Thanks & Wassalam
Ria
December 7th, 2008 at 6:33 pm
Wah, surprise nih dikunjungi sama yang punya gawe BDI, Pak Wawa. Salut usahanya, Pak… keep trying… GBU.