Menggendong Popularitas
5 Aug 2009 Otak-otak
JELAS bahwa saya tak begitu mengenal Mbah Surip, demikian juga Anda. Namun, karena seringnya lagu Tak Gendong diputar di stasiun televisi dan radio-radio, bahkan melalui ring back tone (RBT) di ponsel-ponsel, membuat kita, mau tak mau, menjadi “lebih kenal” kepada penyanyi nyentrik yang kemarin sudah almarhum itu. Mbah Surip divonis gagal jantung oleh dokter dan telah meninggal sebelum sampai ke rumah sakit.
Bukan hendak bermaksud latah menulis tentang Mbah Surip, sebab seharian kemarin, baik media elektronik seperti televisi dan internet (bahkan jejaring sosial facebook), sudah dipenuhi dengan berita seputar kematian mantan pengamen yang suka nongkrong di TIM Jakarta itu. Mbah Surip adalah sosok yang muncul hampir sama seperti Gombloh (alm). Mereka tidak pernah membayangkan jalan hidupnya akan seperti apa. Semuanya mengalir dalam keniscayaan yang teramat sederhana.
Namun karena fenomena para pesohor di Indonesialah yang membuat saya tertarik menuliskannya. Di negeri ini, bahkan di banyak negara di dunia, orang begitu mudah menjadi terkenal, menjadi populer. Lihat saja Prita, yang tiba-tiba menjadi sangat terkenal karena kasus surat curhatnya tentang pelayanan sebuah rumah sakit di account email sahabatnya. Lalu ada Manohara Odelia Pinot, mantan model yang taklah hebat-hebat sangat, namun kemudian dinaikkan derajatnya menjadi keluarga Kerajaan Kelantan, lalu booming berbulan-bulan, hanya karena aib rumah tangganya di-blow up oleh media.
Sebelumnya, ingat kisah si dukun cilik Ponari, yang kemudian mengalami depresi. Adalah Seto Mulyadi alias Kak Seto yang memberikan amaran sejak awal bahwa Ponari bisa terganggu jiwanya ketika dia dia kehilangan dunianya kanak-kanaknya sendiri. Juga Puji, lelaki yang dipanggil Syekh yang mengawini anak di bawah umur. Pengusaha nyeleneh itu kini jadi bulan-bulanan aparat.
Semua sosok di atas yang awalnya bukan siapa-siapa bagi kebanyakan orang di luar habitatnya itu, dengan cepat melesat menjadi sangat terkenal hanya karena pemberitaan media, terutama media elektronik Jakarta yang sepertinya sangat getol membuat sensasi. Porsi yang diberikanpun terkadang terlalu berlebih-lebihan. Setiap hari kita disuguhi oleh pemberitaan yang itu-itu saja. Mulai dari bangun tidur di pagi hari, siang, sampai kita hendak berangkat tidur lagi, berita seputar pesohor mendadak itu terus disuguhkan kepada kita. Dan, anehnya, kita seperti tak kuasa untuk terlalu sering memindahkan channel televisi. Atau, barangkali kita juga menikmatinya? Bagi media televisi, alasannya apalagi kalau bukan soal rating, dan rating mendatangkan iklan! Belakangan, semakin banyak acara di televisi yang mengumbar aib keluarga, termasuk yang bukan dari kalangan artis.
Dalam konteks sedikit serius, mari kita ambil perumpamaan kepada pencitraan yang banyak dilakukan oleh para politisi maupun calon politisi. Instan saja dan tak memerlukan waktu panjang, maka seorang yang sebelumnya bukan siapa-siapa, dalam waktu cepat bisa menjadi siapapun atau dari bukan apa-apa seolah menjadi apapun. Istilahnya, from zero to hero. Dalam kasus ini, meskipun tidak benar-benar mirip, kita bisa melihat bagaimana SBY kemudian melejit menjadi “the rising star” di antara para tentara di era awal reformasi. Pencitraan yang dibangun secara terus-menerus terbukti mampu mengantarkannya menjadi presiden, bahkan untuk yang kedua kalinya. Presiden AS Barrack Husein Obama, adalah contoh lain di luar kita, yang menggunakan kekuatan pencitraan sebagai jalan pembuka bagi kariernya.
Tentu saja, ada perbedaan yang sangat signifikan antara para pesohor dengan politisi, meskipun para pesohor kemudian bisa menjadi politisi. Para pesohor kadang ada yang menggunakan cara-cara, misalnya dengan mengumbar aib pribadi ke tengah publik, lalu berharap popularitasnya terkatrol. Catatlah beberapa nama pesohor yang selalu saja menjadi news maker, seperti Dewi Persik, Azhari’s Family (Ayu, Sarah, Rahma, dan Ibra), Pasha Ungu, Ariel Peterpan, Manohara, Kiki Fatmala, dan banyak nama lain. Tak jarang di antara mereka, oleh karena lihainya manajemen artis yang menaunginya, mencari-cari sensasi agar popularitas tetap dalam genggaman. Kalau perlu, mengumbar aib keluarga!
Akan tetapi, bagi politisi, baik calon legislatif maupun calon kepala daerah, tentu sebaliknya. Menggendong popularitas dengan mengumbar aib pribadi, sangat dihindari (termasuk black campaign), karena ini akan mengakibatkan tingkat elektabilitas menjadi turun ke titik terendah. Intinya, popularitas bisa dilakukan secara mudah, cepat, dan efektif, melalui media, dengan tayangan berulang-ulang. Tinggal kini, apakah kita mau melakukannya dengan cara Mbah Surip –seorang yang dengan tujuan hidupnyapun dia lupa–, dengan cara artis –yang bahkan mengumbar aib pribadi–, atau dengan cara-cara lebih elegan? That’s your choice. ***
Catatan: tulisan ini sudah terbit di Batam News, Rabu (5/8).



Leave a Reply