Mengatur Penampilan, Menutupi Sisi Jelek
28 Nov 2008 (Jangan Baca) Tebar Pesona
SUATU kali, saya pernah dikomentari seorang kawan soal penampilan. Katanya, saya termasuk boros dalam membelanjakan uang untuk penampilan. Mungkin kalimat itu terlontar setelah dia melihat “terlalu banyak” asesoris yang saya pakai: jam tangan, cincin, dan gelang. Emas kuning pula!
Saya tak peduli dengan komentarnya. Toh, penampilan, bagi saya, sama pentingnya dengan potensi diri kita sendiri. Dia harus ditonjolkan untuk menutupi kelemahan kita yang lain. Sebab, bukan mustahil jika masih sangat banyak kekurangan dalam diri kita, sehingga kita memerlukan “wadah” untuk menutupinya.
Selain itu, bagi saya, penampilan tidak untuk dibuat-buat, melainkan dia harus wajar. Kalaupun ada perubahan dari waktu ke waktu, itu semata untuk menyesuaikan dengan alaf baru sebuah perubahan itu sendiri. Yang penting, wajar, tidak berlebih-lebihan.
Demikianlah pilihan saya dalam berbusana. Kalau dulu memang tidak pernah terbayangkan untuk berpenampilan sebaik mungkin, namun kini, terutama sejak menikah tahun 2000 yang lalu, penampilan menjadi sebuah pelayaran lain dalam diri saya. Berusaha untuk tampil menarik, tidak harus mahal, adalah sebuah keniscayaan agar kita tetap terlihat segar dari waktu ke waktu. Istri sayalah yang paling banyak berperan mengubah penampilan saya hingga lebih rapi. Sebelum nikah, wah, dekil abis…
Suatu ketika, dulu, saya suka sekali mengenakan pakaian casual, katun, atau kemeja lengan panjang. Untuk keperluan kantoran, biasanya saya memilih kemeja lengan panjang plus celana panjang berbahan katun. Waranya suka gak matching. Asesorisnya, jam tangan berbahan tali kuning. Lalu, biasanya ada cincin emas melingkar di jari manis. Kesannya, mewahlah, dengan asesoris serba kuning seperti itu. Norak, padahal.
Namun, lama kelamaan, seiring waktu, pastilah selera manusia mengalami perubahan. Saya, misalnya, suatu ketika keranjingan mengenakan pakaian berbahan jeans. Kalau perlu, bajupun bahannya jeans. Kesannya, lebih macho, gitu. Untuk asesoris, masih suka mengenakan cincin berbahan emas murni dengan mata yang agak besar. Sementara jam masih demen sama yang berbentuk bulat.
Terakhir, seperti mengikuti pola yang sedang ngetrend, saya mulai menyukai stelan ala eksekutif muda; celana katun berbahan sedikit berat dengan perpaduan kemeja garis-garis vertikal. Dengan pakaian ini, kesannya jadi agak update dengan lingkungan. Dan di usia yang tidak muda lagi ini, saya ikuti dengan mengubah asesoris, misalnya cincin sudah berganti dengan emas putih, lalu gelang putih, serta jam tangan bertali kulit dan futuristik keluaran Cerrutti 1881.
Begitulah saya dari waktu ke waktu. Perubahan ini bukan sekadar mengikuti trend, namun lebih kepada upaya saya menjaga citra dan penampilan. Saya juga berusaha menyesuaikan dengan posisi di mana saya bekerja. Kasarnya gini: kan gak mungkin berpenampilan kumal dan alakadarnya, sementara posisi kita adalah manajer, misalnya. Itu hanya akan membuat perusahaan kehilangan pamornya dan kita dianggap sangat pelit pada diri sendiri. Apalagi kalau perusahaan kita, misalnya, menempati sebuah komplek perkantoran elit, masa iya kita harus kumal, berkaos, sandal jepit, dan celana belel?
Untuk urusan rambut, meskipun saya tidak tahu apa namanya, saya sudah memilih model “jambul”. Dengan begini, saya tidak perlu harus membawa sisir yang diselipkan di saku celana. Jadul bangetlah. Sebab, dengan model rambut “sedikit berdiri” itu, cukup memoleskan cream minyak rambut setelah mandi, maka tahanlah sampai sore. Simpel dan tidak ribet. Dulu, beberapa tahun lalu, pernah saya pilih gaya plontos, hanya tersisa satu senti. Sekarang, teman saya, Ramon Damora, memilih botak. What’s up, man?!
Mungkin karena itulah, teman saya di alinea paling atas tadi menyebut saya royal dalam berpenampilan. Sebenarnya, bukan royal, tapi berusaha tampil rapi, agar enak dipandang. Sebab, dengan demikian, saya sudah berusaha menutupi banyak sisi lemah saya, di antaranya berwajah jelek. Ha..ha…ha…***



November 28th, 2008 at 7:24 pm
bang Candra,fhoto bareng anak ya? keren dech,salam ya buat keluarga.
November 28th, 2008 at 11:10 pm
pria dengan pekerjaan seperti ditekuni bang candra memang wajar dan pantas bergaya seperti itu.sehingga mencirikan eksekutif muda yang keren dan simple…
November 29th, 2008 at 12:38 am
Dikirain Bang Chandra masih single tuh!!..he2
November 29th, 2008 at 9:00 am
Penampilan, perhiyasan di badan sutu hal yang wajarlah. yo ndak.
Tapi kalau melihat awaktu bergaya, macam bintang film gitu lho..he,…
Yang pasti seperti orang kaya rendah hati lah… kan iko…
November 29th, 2008 at 9:16 am
Terimakasih semua atensinya to love, ina, dan farhan. khusus untuk haji yasril, ah, tidaklah, biasa aja kok ji, hahahaha
November 29th, 2008 at 9:28 pm
mas Farhan,saya sudah ibu dari 2 orang anak yang sudah besar,mereka sudah sekolah di SMA,dan SD,makasih ya mas,salam sukses selalu.