Meneroka Lawan Tanding Ismeth
15 May 2009 Otak-otak
KETIKA panggung politik nasional sedang “demam panas” untuk menentukan koalisi yang bakal mengusung pasangan capres/cawapres 2009-2014, aura politik lokal di Kepri pun mulai menghangat. Pasalnya, setahun kemudian bakal dihelat pemilihan Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Periode 2010-2015. Selain itu, bakal digelar pula pilkada bupati di daerah lain di Kepri, seperti Bintan dan Anambas. Tentu saja, secara geografis, politik lokallah yang paling menarik perhatian di sini.
Seperti diketahui, pasca-pemilu legislatif yang digelar 9 April lalu, peta politik lokal sedikit banyak mulai berubah, seiring perubahan di tingkat nasional. Meskipun partai baru, seperti Gerindra dan Hanura, belum begitu menarik perhatian di Kepri, namun mereka sudah berhasil menempatkan beberapa wakil di legislatif. Dan inilah yang bakal mewarnai politik lokal lima tahun ke depan.
Akan tetapi, seperti juga di tingkat nasional, Demokrat-lah yang dianggap sebagai the rising star. Posisi perolehan suara di Kepri tahun ini menempati urutan kedua setelah Golkar. Ini artinya, bargaining position partai besutan SBY itu akan ikut mewarnai perpolitikan Kepri, khususnya dalam mengusung cagub/cawagub yang akan mereka usung tahun depan.
Dari beberapa perkembangan yang coba saya pantau, eskalasi politik di Kepri mulai meninggi. Ini seiring “deklarasi” media yang sudah dilakukan Huzrin Hood, seorang tokoh pejuang pembentukan Provinsi Kepri. Konon, pada 15 Mei mendatang, tokoh yang pernah dihukum dengan dakwaan korupsi APBD ini, akan mendeklarasikan Gerakan Kris, sebuah gerakan yang kabarnya akan menjadi grup untuk memperjuangkan Huzrin. Saat ini, mantan napi dibenarkan ikut suksesi sepanjang jarak antara masa pembebasan dengan suksesi sudah mencapai lima tahun.
Sekadar flash back, tahun 2000 yang lalu, ada tiga pasangan cagub/cawagub yang meramaikan Pilkada Kepri. Mereka adalah Ismeth Abdullah/HM Sani, Nyat Kadir/Soerya Respationo, dan Rizal Zein/Firman Bisowarno. Huzrin yang disebut-sebut bakal ikut bertarung, saat itu sudah berada di Lapas Sukamiskin. Dukungan yang kuat terhadap Ismeth, mantan Ketua Otorita Batam yang tengah menjabat Plt Gubernur Kepri pasca pemekaran dari provinsi induk, Riau, mengantarkannya menjadi gubernur pertama. Ini seakan mengulangi sejarah mertuanya, M Amin Nasution –ayahanda Aida Zulaikha–, yang pernah menjadi gubernur pertama untuk Riau, ketika ibukota Provinsi Riau masih berada di Tanjungpinang.
Yang menarik adalah ketika hasil Pemilu 2009 ini telah menempatkan Partai Demokrat sebagai pemenang kedua di Kepri. Beberapa partai lain, seperti PKS, PAN, PPP, mengalami penurunan perolehan suara. Ini artinya, jika dulu Golkar-PKS mengusung Ismeth/Sani, ditambah beberapa partai lain, bukan tidak mungkin formasinya akan berubah tahun depan. Kuda hitam bisa saja muncul dari Demokrat. Apalagi, konon, Golkar Kepri hari ini, masih menyimpan calon yang akan mereka usung, kelak. Bukan tidak mungkin, Golkar akan mengusung ketua umumnya, Ansar Ahmad, untuk berlaga di suksesi Kepri, minimal di posisi Kepri 2.
Di sisi lain, Ketua DPD Demokrat Kepri, H Saptono Mustakim, disebut-sebut mulai dielus oleh pihak internal. Wakil Bupati Lingga itu dikabarkan akan diusung untuk Kepri 2. Pertanyaannya, dengan siapa Saptono akan dipasangkan, masih sedikit kabur. Namun, kuat dugaan, jika SBY yang diusung Demokrat kembali memenangkan pilpres, ini akan menjadi amunisi bagi kader Demokrat untuk berlaga di pilkada, termasuk Pilkada Kepri.
Hanya saja, menjadi agak sulit ditebak, karena incumbent, Ismeth Abdullah, belum pernah secara terang-terangan mengaku akan kembali berlaga di Pilkada Kepri. Apalagi hasil Pemilu Legislatif yang lalu, gagal mengantarkan putranya, Dhani Ismeth, duduk di kursi legislatif pusat. Hanya Aida-lah, yang sudah dua kali pemilu berhasil meraih suara yang sangat signifikan. Bahkan, suara Aida untuk DPD tahun ini, lebih merata di seluruh Kepri. Tidak seperti lima tahun lalu yang banyak terkonsentrasi di Batam. Nah, kondisi inilah yang menurut sebagian kalangan, akan menjadi salah satu pertimbangan bagi Ismeth untuk melangkah tahun depan. Sebab, konon, Dhani sengaja dipasang untuk melihat sejauh mana “pengaruh” nama besar Ismeth
di kawasan ini.
Namun kuat dugaan, melihat keseriusan Ismeth menggarap FTZ BBK –karena tak bisa dipungkiri bahwa dialah tokoh yang paling getol memperjuangkan FTZ– dia bakal maju lagi untuk bertarung tahun depan. Apalagi jika dihubungkan dengan proyek prestisius pembangunan komplek ibukota provinsi di Pulau Dompak, maka dugaan itu akan semakin mendapat pembenaran. Sebab, melihat progress yang terjadi di lapangan, kecil kemungkinan proyek multiyears itu akan selesai sebelum masa tugas Ismeth berakhir.
Pertanyaan selanjutnya adalah, jika Ismeth kembali maju, siapakah bakal pendampingnya? Sebab, satu hal yang tak bisa dipungkiri adalah, jika dia terpilih kembali, maka lima tahun ke depan adalah periode kedua, dan setelah itu tidak boleh maju lagi. Artinya, wakil Ismeth adalah bakal incumbent yang punya peluang besar menggantikannya kelak tahun 2015. Yang kedua, wakil Ismeth, mestilah orang tempatan, karena akan sangat berpengaruh terhadap kepemimpinannya. Apalagi secara kasat mata, lima tahun sudah provinsi ini dipimpin oleh “saudara jauh” bahkan kemungkinan bisa berlanjut di periode kedua, maka adalah wajar jika kelak putera daerah tampil memimpin provinsi ini. Di sinilah nilai strategis pendamping Ismeth ke depan.
Namun, siapakah “lawan tanding” sepadan bagi Ismeth? Masih sangat sulit ditebak, sebab dari beberapa nama yang mulai muncul –Huzrin Hood, Nyat Kadir, dan beberapa nama lain– belum tentu akan membuat suara Ismeth terpecah. Sebagai incumbent, Ismeth sudah sangat diuntungkan. Dia juga sudah memiliki tabungan suara di Batam, sebagai daerah berpenduduk terbesar. Sehingga, kalau boleh berandai-andai, suksesi Kepri kali ini akan sedikit mirip dengan yang tengah terjadi di Jakarta. Jika diibaratkan, Ismeth adalah SBY. Maka, lawan tandingnya akan sedikit sulit dicari. Namun bukan tidak mungkin bakal muncul lawan sepadan, sepanjang tokoh yang muncul sama kalibernya dan cukup satu saja. Inilah kemungkinan yang bisa head to head dengan Ismeth. Wallahualam.***
Catatan: tulisan ini sudah dimuat di Batam News, Rabu (13/5).



Leave a Reply