Menata Jalan Merdeka
3 Feb 2010 Catatan TP
SEORANG teman di jejaring sosial facebook pernah mengomentari status saya tentang wacana menjadikan Jalan Merdeka Tanjungpinang sebagai salah satu pusat wisata kuliner di kota ini. Katanya, jika Pemko Tanjungpinang serius menjadikan kota ini sebagai salah satu destinasi wisata kuliner, selain wisata budaya dan bahari yang sudah terkenal itu, mestinya ada sebuah areal di tengah kota yang ditata sedemikian rupa untuk para wisatawan menikmati beragam menu makanan. Saat itu saya menyebut, alangkah indah kalau Jalan Merdeka ditata untuk keperluan tersebut. Sebab, sebagai salah satu jalan paling tua, Jalan Merdeka juga terletak di jantung bisnis Kota Tanjungpinang. Sayang sekali, jika salah satu pusat perniagaan paling ramai ini berubah jadi sepi bak sebuah jalan mati di malam hari.
Betul, selama ini Pemko sudah menata areal di sekitar Tugu RHF sampai ke sekitar Gedung Daerah. Salah satu kawasan yang sudah dibina sejak beberapa tahun lalu yakni Melayu Square. Meskipun nama ini agak rancu, akibat menggunakan dua pendekatan sekaligus: Melayu dan Inggris. Sebab, jika hendak menggunakan Bahasa Melayu, mestinya boleh jadi bernama Simpang Melayu. Atau jika mau menggunakan istilah Inggris juga, dia harus menjadi Malay Square, sebab Melayu dalam bahasa Inggris itu ‘kan Malay. Nah, penyebutan Melayu Square mungkin dimaksudkan untuk mempermudah pengucapan saja dan itu sah-sah saja.
Akhir-akhir ini, kawasan yang dijadikan tempat mangkal sejumlah gerobak penjual makanan dan minuman di sekitar Melayu Square itu, terutama yang berjejer di sepanjang jalan di tepi laut yang menghadap ke pulau bersejarah, Penyengat itu, sudah dirasa agak mengganggu. Jalannya sempit jadi makin sempit. Dalam perjanjian awal disebutkan, gerobak itu boleh berjejer di tepi jalan, dengan syarat tidak boleh melewati areal muka Gedung Daerah. Sebab, di gedung bersejarah itu berdiam orang nomor satu di provinsi ini. Tentu tak elok jika dipandang, apalagi oleh para turis. Akibatnya, beberapa waktu lalu terjadi sedikit ketegangan antara Satpol PP dengan beberapa pedagang yang menggunakan gerobak dorong tersebut.
Nah, melihat inilah, saya kemudian berpikir, mengapa tidak kawasan Jalan Merdeka saja yang dijadikan salah satu pilihan untuk dijadikan sebagai tempat menjual berbagai makanan khas yang dapat menarik minat wisatawan? Bukankah setelah petang tiba, toko-toko di jalan yang sebagian ruasnya dijadikan satu arah jika siang dan kembali dua arah pada malamnya, hampir sebagian besar tutup, sehingga suasananya menjadi sepi dari lalu-lalang? Sedihnya lagi, setelah malam tiba, kawasan ini menjadi agak gelap, bagai sebuah kawasan mati. Lampu yang hiduppun tidak semuanya, kaena banyak pemilik ruko di sini mengurangi jumlah lampu yang dinyalakan. Kondisinya akan semakin parah saat PLN menggilir kawasan ini dengan kebijakan pemadaman listriknya. Pemandangan ini kontras sekali jika dibandingkan dengan kondisi siang hari, karena kawasan ini termasuk salah satu yang paling sibuk di Tanjungpinang.
Pemandangan lain yang terlihat di Jalan Merdeka, selain toko sudah banyak yang tutup sejak petang hari, adalah deretan mobil yang diparkir di depan ruko. Memang, sebagian pemilik ruko memarkirkan kendaraan mereka di sini. Namun, tidak semua halaman ruko terlihat diisi oleh kendaraan roda empat. Tentu ada pula ruko yang hanya ditunggui oleh orang yang sengaja dibayar untuk itu, sehingga tak nampak ada mobil diparkir. Sedangkan si pemilik ruko ada juga yang menginap di rumah mereka di luar kawasan ruko.
Nah, melihat kenyataan tersebut, tidak ada salahnya jika Pemko Tanjungpinang kemudian merancang sebuah iven yang tidak saja dampaknya akan semakin menarik minat wisatawan datang berkunjung, tapi juga menyajikan sebuah hiburan wisata kuliner bagi mereka. Kawasan Jalan Merdeka dapat disulap dengan berbagai iven kuliner, dilengkapi hiburan ringan. Dalam hal ini, Dinas Pariwisata boleh lebih aktif bekerja sama dengan Dinas Perindustrian, untuk mengemas sebuah paket wisata kuliner atau semacam festival makanan. Sebut saja misalnya iven “Every Night Food Festival” yang ditaja setiap malam sepanjang tahun. Setiap malam diisi dengan berbagai hiburan ringan, music tradisional, dengan sajian utamanya aneka makanan khas Melayu dan Nusantara. Lokasi Jalan Merdeka sangat memadai untuk itu, karena posisinya memang sangat strategis. Nah, jika ini dilakukan, maka memindahkan deretan gerobak dorong yang sekali-sekali melanggar batas di depan Gedung Daerah itu ke lokasi baru ini menjadi lebih mudah. Bahkan, bukan tidak mungkin beberapa tenan di Potong Lembu, Pemedan, atau Bintan Center, akan membuka cabang mereka di sini.
Memang, ada informasi bahwa tidak mudah menata Jalan Merdeka untuk dijadikan sebagai kawaan wisata kuliner di malam hari. Pasalnya, para pemilik ruko di sini khawatir dengan kebersihan pasca pedagang makanan berjualan. Sampah dan limbah akan sangat mengganggu. Ditambah lagi, mereka, para pemilik ruko itu, akan kehilangan lahan untuk memarkir kendaraan mereka. Namun, tidak ada masalah yang tak bisa dicarikan jalan keluarnya, jika semua pihak berpikir untuk kemajuan kota ini. Penataannya bisa saja dibuat sistem selang-seling. Misalnya, dalam radius sekian meter, ada kawasan bebas pedagang makanan, sehingga si pemilik ruko bisa tetap membuka toko mereka. Atau, bisa saja dibuat sistem buka-tutup, di mana ada kawasan tertentu yang digilir setiap malam, sehingga ruko yang sekarang sudah tutup sejak sore hari, bisa memperpanjang jam buka hingga tengah malam. Ini ‘kan peluang menambah omset mereka sendiri. Masa tak mau? Soal sistem dan kebersihan, bagaimana cara menatanya? Tentu pemkolah yang harus berpikir, bukan saya!***
Catatan: tulisan ini sudah dimuat Harian Tanjungpinang Pos, edisi 3 Februari 2010.



Leave a Reply