Menagih Kiprah Ismeth di DK FTZ
14 May 2008 Feature
Hari ini hujan kembali mengguyur Batam. Dari pagi sampai sekitar pukul 13.30 WIB tadi. Seperti biasa pula, jalanan menjadi macet dan tergenang air. Namun, kondisi kali ini semakin diperparah dengan matinya listrik milik PT PLN Batam di beberapa ruas jalan. Celakanya, di beberapa simpang, seperti Simpangjam, ikut mati. Akibatnya, polisi lalu-lintas terpaksa berhujan-hujan mengatur arus lalu-lintas di simpang terpadat di Batam itu.
Gambaran menjelang diberlakukannya free trade zone (FTZ) atau sering disebut kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas di Batam, Bintan, dan Karimun, memang demikianlah adanya. Ada lampu yang idup-mati bergiliran tiap hari, jalan yang masih berlubang di sana-sini, dan pejabatnya yang masih terkena penyakit “bebalisme”. Bebal, karena kondisi jalan di Batam sampai hari ini belum ada perbaikan berarti, walaupun di sana-sini lubang-lubang besar menganga di banyak ruas jalan.
Alasan mereka, baik Otorita Batam maupun Pemko Batam, selalu saja anggaran yang terbatas, sehingga memaksa mereka membuat skala prioritas. Padahal, era FTZ yang sudah di depan mata, sangat menuntut pelayanan dan fasilitas yang prima. Sebab, di mata calon investor, kenyamanan adalah hal mutlak ketika mereka hendak menanamkan dananya di suatu tempat.
Hmm.. saya hanya bisa membayangkan bahwa Ketua Dewan Kawasan (DK) FTZ BBK Ismeth Abdullah, akan segera membuat langkah-langkah cepat dan tancap gas untuk merealisasikan kawasan yang bakal menjadi paling kompetitif di Indonesia itu. Sebab, selama ini, Ismeth yang juga Gubernur Kepri itu selalu mengeluhkan dan “melempar” kesalahan kepada pemerintah pusat yang lambat membentuk DK FTZ. Nah kini, setelah Perpres DK Nasional dan DK BBK ditandatangani Presiden SBY, itu berarti bola sudah di tangan Ismeth Abdullah sebagai ketua DK BBK.
Tinggal kini, sebagai Gubernur Kepri sejaligus Ketua DK FTZ di BBK, Ismeth perlu menunjukkan kelasnya sebagai tokoh yang memang mumpuni dalam mengelola kawasan ekonomi. Modal sebagai mantan Ketua Otorita Batam dan Gubernur Kepri, setidaknya membuat banyak pihak tidak meragukan kemampuan Ismeth dalam mengelola dan mendatangkan investor ke kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas di Batam, Bintan, dan Karimun.
Di depan mata, ada PR besar yang kini menanti tangan dingin Ismeth untuk bertindak: listrik yang masih byar-pet, khususnya di Batam dan Tanjungpinang, serta fasilitas umum, seperti jalan yang masih bolong-bolong di Batam. Well, kita tunggu kiprahnya. Selain itu, tentu nasib Dam Baloi ke depan bakal ikut menyita perhatiannya. Sebab, ketika terjadi perjanjian alih-fungsi lahan Dam Baloi dulu, saat itu Ismeth menjabat ketua OB.***



Leave a Reply