Melihat Malaysia Mengemas Truly Asia (3-habis)
29 Jul 2008 Kaki
Pesta Durian, Barbeque, dan Mangga Semarang
Sebenarnya, cara Malaysia mengemas iven pariwisata mereka cukup sederhana. Misalnya, untuk mendatangkan turis dari Singapura, Jepang, dan Korea, salah satunya mereka lakukan dengan cara tradisional. Di Desaru Fruit Farm, misalnya, sekitar 1,5 jam dari Johor, mereka mengemas paket kunjungan ke kebun buah. Di sini, ditanamlah berbagai jenis pohon yang menghasilkan buah-buahan, seperti durian, jambu, buah naga, markisa, dan kelapa. Selain itu, diternakkan pula unggas, seperti burung unta, monyet, kera, buaya, ayam, dan kambing.
Bagi kita di Indonesia, tentu ini tidaklah menarik, karena hampir semua orang di tanah air pernah akrab dengan objek di atas. Bahkan lokasi di Desaru, juga di Pulai Beach and Resort, tidak lebih bagus dibanding Nongsa, Batam. Namun bagi orang Singapura, kesempatan melihat buah-buahan langsung di pohonnya serta berbagai binatang ternak, adalah sebuah impresi yang langka mereka dapatkan di negaranya. Pasalnya, Singapura kini lebih menjadi hutan beton dibanding sebuah destinasi alami.
Menariknya, di antara jambu yang ditanam, terdapat jambu air yang bibitnya didatangkan dari Semarang. Itulah sebabnya, menurut Zaki, pemandu wisata sekaligus penjaga kebun yang berasal dari NTB itu, jambu tersebut dikenal dengan nama jambu jenis Semaranggis. Soal pekerja Indonesia seperti Zaki, menurut pengelola Desaru Fruit Farm Henry Gooh, hampir 80 persen berasal dari Indonesia.
Di sini juga, setelah melihat-lihat perkebunan dan ternak, turis diajak ke sebuah tempat untuk mencicipi makanan ala barbeque. Ada kambing guling, ayam pangang, ikan bakar, dan puncaknya turis dijamu dengan durian yang langsung dipetik di perkebunan tersebut. Pandainya mereka, durian baru disuguhkan setelah perut para turis kekenyangan oleh barbeque.
Atraksi lain yang sebenarnya biasa-biasa saja, namun dijual ke para turis, utamanya turis Singapura dan Jepang, adalah kunang-kunang terbang, yang terletak di muara Sungai Johor. Lokasinya dekat Kota Tinggi, Johor. Atraksi ini hanya bisa dinikmati selepas Magrib hingga tengah malam. Biasa-biasa saja, melihat ribuan kunang-kunang yang hidup di sekitar pohon merembang. Tentu saja akan terlihat menarik, karena kunang-kunang adalah jenis binatang yang mengeluarkan sinar atau cahaya di malam hari. Selebihnya, biasa-biasa saja. Tapi tetap saja laku dijual ke turis Singapura. Nah, kabarnya, dulu di Belakangpadang, ada hal yang sama, tapi mengapa tak bisa dijual?
Sekadar catatan, sebenarnya, masih ada objek wisata lain yang tak sempat kami kunjungi, yakni makam Sultan Mahmud dan Laksamana Bintan. Konon, Laksamana Bintanlah yang membunuh Sultan Mahmud, raja tanah Melaka. Dikisahkan oleh driver yang membawa kami ke mana-mana selama tur, kondisi makam Sultan Mahmud terawat baik, namun makam Laksamana Bintan hanya dijaga oleh penduduk setempat. Anehnya, waktu banjir besar melanda Kota Tinggi dua tahun lalu, meskipun daerah lain terendam air, namun lokasi makam Laksamana Bintan tak terendam sama sekali.
Dari cerita di atas, bersempena Visit Batam 2010 yang logonya sudah diluncurkan beberapa hari lalu di Stadion Temanggung Abdul Jamal, Batam, banyak pelajaran yang bisa dipetik oleh Pemko Batam dan pelaku wisata di sini. Bahwa pariwisata adalah bisnis, tentu saja sangat tergantung dari buyers (pembeli), yakni para turis.
Di sini berlaku hukum permintaan dan penawaran. Karena itu bisnis, maka yang harus diketahui adalah kebutuhan turis itu –kalau mereka ingin berkunjung– apa sebenarnya? Seterusnya, impresi apa yang kita tawarkan? Buah tangan apa yang kita siapkan? Kenyamanan seperti apa yang bisa kita berikan? Meminjam istilah seorang teman, dalam hal ini, harus ada rekayasa untuk meng-create agar pariwisata Batam yang “biasa-biasa” saja bisa memiliki daya tarik kuat bagi para turis. Itu semua, memerlukan kesadaran, perubahan mindset, kerja keras semua stake holders, dan bantuan media tentu saja.***
Teks foto: Zaki (bertopi), guide dan karyawan Desaru Fruit Farm asal NTB, menjelaskan jenis binatang yang mereka ternak. f: candra ibrahim



Leave a Reply