Melihat Malaysia Mengemas Truly Asia (2)
29 Jul 2008 Kaki
Ada yang “Berendut” di Tepi Teluk Danga
Malaysia memang cerdik memanfaatkan setiap moment untuk dipromosikan ke luar negara. Visit Malaysia, Truly Asia, mereka manfaatkan secara luas. Batam yang sebentar lagi memulai Visit Batam 2010, patut iri dengan cara mereka. Maka, secara berseloroh, saat masih di Johor, petang menjelang wellcome diner untuk 158 jurnalis dan puluhan travel agent dari berbagai negara di dunia, di Hyat Hotel Johor Bahru, saya mengirim SMS ke Wali Kota Batam Ahmad Dahlan.
“Aslm Pak Wako. Kami sedang mengikuti promosi wisata Malaysia di Johor. Mereka mengundang media seluruh dunia. Mestinya kita bisa belajar bagaimana mempromosikan Visit Batam Year 2010 dengan melibatkan media dan travel agent. Maaf, Pak, sekadar diskusi. Wass”.
Begitulah. Perjalanan wisata saya dan teman-teman pers dari Batam, setelah di kawasan bebas pajak The Zon, Stulang Laut, mengarah ke Danga Bay, alias Teluk Danga. Konon, tak jauh dari sini, tepatnya di Kota Tinggi, bermula cikal-bakal kota Johor. Namun, di Danga Bay, persis di tepi selat Tebrau menghala ke Singapura, Malaysia rupanya tengah membangun kerajaan bisnis di bawah bendera Iskandar Development Region (IDR). Mereka menamakan Danga Bay sebagai Vision City of The South.
Jika melihat konsep pembangunannya yang berjangka 15 tahun, Danga Bay bakal menjelma sebagai sebuah destinasi wisata dan bisnis masa depan paling penting di Malaysia. Lokasinya yang berdepan-depan dengan Singapura, pesaing terdekatnya, setidaknya memperkuat sinyal tersebut. Di sini, selain bakal dibangun komplek terintegrasi, seperti shopping mall, villa, busines center, wisata air, resort, dan segala macam tetek bengek wisata, juga bakal dibuat semacam tempat concert bagaikan Esplanade alias “gedung durian” seperti yang terdapat di tepi Kalang River, Singapura.
Menurut Direktur Danga Bay Kamarul Ariffin, tepat di atas sebuah pulau (persisnya daratan yang terhubung di sepanjang Selat Danga ke daratan Johor), bakal dibangun 500-an villa mewah. Harganya sekitar Rp1,8 miliar perunit. Hm… lokasinya hampir mirip Coastarina di Batam Center.
Menyusuri selat Tebrau, menggunakan sebuah speed boat milik Danga Bay, selain bisa menggunakan Danga Cruise berukuran besar, di hadapan nampak daratan Singapura. Jaraknya hanya sepelemparan batu saja. Uniknya, agar tak masuk ke batas kedua negara, tepatnya di Selat Johor-Singapura, hanya pakai kira-kira, meskipun ada suar yang mengapung di permukaan laut.
“Kalau naik boat, kita kena hati-hati, pasal kalau telajak ke laut Singapura, kita dikejar polis
Singapura. Jadi, boat mesti tak boleh terlalu jauh ke tengah,” kata Ghino, tourist guide yang memandu saya. Hal itu dibenarkan Saad, manajer Danga Bay berbadan tambun itu.
Benarlah kiranya bahwa Malaysia sungguh cerdik memanfaatkan posisi mereka. Melongok ke darat, di
sekitar selat Tebrau, dipasang kursi berjejeran. Suasana tercipta begitu nyaman. Asyik untuk
menghabiskan beberapa cangkir kopi dan penganan kecil di tepi laut itu. Tak jarang pula muda-mudi Malaysia memadu kasih, yang dalam istilah setempat disebut berendut itu. Sepasang kekasih itu tak menghiraukan kami yang lewat. Mereka bercengkrama, senda-gurau, tapi masih dalam batas wajar. Mirip gaya pacaran anak-anak muda zaman film P Ramlee.
Di kesempatan lain, 158 jurnalis dan puluhan travel agent dari berbagai negara di dunia, dijamu dan
disuguhi pertunjukan seni. Jurnalis yang diundang datang dari Singapura, Indonesia, Vietnam, Laos,
India, Pakistan, Uni Emirat Arab, Rusia, Inggris, Amerika, Australia, dan Spanyol. Acara yang ditaja
Tourism Malaysia itu berlangsung menarik dan tak membosankan.
Keesokan harinya, Sabtu (26/7), barulah berlangsung festival bunga, Flora Parade 2008, di Dataran
Bandaraya Johor Bahru. Sebanyak 17 kendaraan berlapis bunga segar melintasi jalan tepi laut di hadapan Yang Dipertuan Agong Tuanku Mizan Zainal Abidin dan PM Abdullah Ahmad Badawi itu. Mirip festival bunga yang biasa dibuat di Pasadena, Amerika, meskipun kalah meriah.
Namun, bukan berarti Malaysia sangat sempurna menggalakkan tahun kunjungan wisata. Tetap ada sisi
lemahnya yang bisa diambil pelajaran oleh Indonesia, khususnya Batam. Misalnya, menurut seorang guide yang tidak mau disebut namanya, sebenarnya pemerintah Malaysia terlalu mubazir menghambur-hamburkan uang untuk promosi. Sebab, yang diinginkan rakyat sebenarnya adalah program yang menyentuh ke rakyat kecil itu sendiri. Dengan banyaknya iven dan festival, banyak duit negara yang terbuang di kementerian pariwisata setempat.
Ini tentu saja suara masyarakat yang tidak mengetahui kegunaan dan manfaat dari berpromosi. Sebab, dengan meningkatnya kunjungan turis, pastilah terjadi multiplier effect terhadap sektor lain. Puncaknya,
devisa akan mengalir deras ke kas negara. Kondisi ini tentu sangat berbeda dengan negara kita, di mana
budget yang disediakan untuk sektor ini tidak memadai. Bagaimana mengharapkan kunjungan wisata, jika budget untuk promosi, iven, dan menciptakan impresi bagi wisatawan saja cekak alias kecil?(bersambung)
Teks foto: Salah satu atraksi Flora Parade 2008, di Johor Bahru.



Leave a Reply