Melihat Malaysia Mengemas Truly Asia (1)
29 Jul 2008 Kaki
Mau Alkohol Lebih, Simpan Saja dalam Perut
Suasana di lantai 5 The Zon Regency Hotel, Johor, malam itu, Jumat (25/7), tampak meriah. Kepulan asap rokok dan cerutu memenuhi udara, mengepul hingga ke atap hotel berlantai 16 tersebut. Botol arak dan gelas-gelas bening berpinggang langsing, seperti berpindah dari meja yang satu ke meja yang lain. Sementara di panggung yang luasnya hampir sebesar lapangan voli, tiga gadis berpakaian ala Trio Macan, pendek-seksi, menghempaskan vokal mereka yang renyah. Yeah…!
The Zon, memang sebuah kawasan yang oleh pemerintah Malaysia dijadikan sebagai wilayah free of duty alias bebas pajak. Di kawasan yang terletak di Stulang Laut ini, terdapat komplek shopping lengkap dengan hotel berbintang, menghala ke laut di selat Johor-Singapura. Selain shopping mall, dilengkapi berbagai restoran, baik di dalam kawasan The Zon Regency Hotel maupun di luarnya, seperti De Paradise KTV. Untuk mencapainya, 1,5 jam saja dari terminal feri Batam Center.
Nah, di sinilah surga bagi penikmat berbagai merek rokok dan cerutu, maupun para alcoholic. Minum dan merokoklah sepuasnya. Semuanya bebas dinikmati dan bisa dibeli dengan harga di bawah harga pasar. Bebas pajak. Mereknya? Apa saja ada. Syaratnya, tentu saja hanya untuk dinikmati di kawasan The Zon saja. Keluar dari sana, bersiap-siaplah dengan Kastam yang akan memborbardir Anda dengan pajak yang luar biasa tingginya; bisa 200 persen!
Di panggung itu, tiga penyanyi yang mengenakan pakaian seksi motif macan, terus saja memindahkan nada dari lagu yang satu ke lagu lainnya. Mereka bersemangat, seakan menyatu dengan adrenalin pengunjung yang asyik-masyuk dengan asap rokok dan aroma alkohol. Penyanyi yang berdiri di tengah, sekali-sekali membetulkan roknya yang tersingkap agak tinggi. Maklum, pahanya yang kuning berkilat, nampak semakin sekal dijilat lampu dan mata-mata yang masih nyalang malam itu.
Begitulah salah satu fasilitas yang bisa dinikmati dengan bebas di The Zon Regency Hotel. Saat-saat week end, tempat ini semakin ramai dikunjungi. Umumnya mereka datang dari Singapura, Malaysia sendiri, Indonesia, Jepang, Korea, dan tentu saja para bule. Di hotel berbentuk segitiga jika dilihat dari atas itu, tersedia pula berbagai fasilitas lain, sama seperti hotel kelas bintang lima. Ada business center, spa, beragam restoran, fitness centre, laundry, karaoke, dan lain sebagainya.
Di hari-hari tertentu, The Zon Regency banyak digunakan oleh corporate untuk menggelar konvensi atau seminar. Sesudahnya, nikmatilah beragam fasilitas free of duty di komplek tersebut. Saya dan teman-teman jurnalis dari Batam sempat mencicipi makanan khas Thailand di Sukhothai Restaurant, lantai 6 hotel tersebut. Rasa dan suasananya mengingatkan saya ketika berkunjung ke Thailand, beberapa tahun lalu.
Soal bebasnya para pelancong menikmati alkohol di sini, ada joke menarik dari Janete Chin, Kepala Pemasaran The Regency Hotel. “Kalau mau puas, silakan minum sebanyak-banyaknya di sini, simpan dalam perut, karena begitu Anda keluar dari sini dengan membawa beberapa botol arak atau rokok, petugas Kastam sudah menunggu Anda di pintu keluar kawasan,” katanya.
Situasi berbeda akan diperlakukan kalau Anda keluar dari kawasan The Zon menuju Indonesia. Anda boleh membawa keluar alkohol dan rokok bermacam merek itu. Soal nanti di pelabuhan Batam Center, Anda akan berhadapan dengan petugas Imigrasi Indonesia, itu tentu masalah lain. Tapi, selama PP 63/2003 masih diberlakukan, tentu sebaiknya Anda tidak melakukannya.
Malam terus saja merambat ke tepian pagi. Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB, berarti sudah pukul 00.00 waktu setempat. Beberapa kursi di meja bundar sudah mulai ditinggalkan penghuninya. Hotel yang terkoneksi dengan shopping mall itu mulai mengemas malam. Tiga cewek berpakaian seksi pun sudah meninggalkan panggung. Mereka menyeka keringat yang mulai meleleh di dahi dan leher.
Melihat berbagai fasilitas bebas pajak yang ditawarkan oleh kawasan yang salah satu direkturnya adalah Datuk K, suami penyanyi Malaysia Siti Nurhaliza itu, saya teringat nasib FTZ Batam-Bintan-Karimun yang masih terkatung-katung. Hingga kini, tak banyak yang bisa diharapkan dari rencana penerapan kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas di BBK tersebut. Lalu, bagaimana pula persiapan Batam menyambut tahun kunjungan wisata Batam 2010? (bersambung)
Note: Tulisan ini sudah dimuat di Harian Batam Pos, Selasa (29/7/2008).
Keterangan foto: Miss Janete Chin, saya, dan Rizal, berpose di dalam salah satu ruangan konvensi di The Zon Regency Hotel, Johor.



Leave a Reply