Mafirion ke Batam, Utusan Nurdin Halid?

Siang kemarin, bertemu dengan Mafirion, senior saya di dunia pers. Dia kini masih aktif di PSSI dan lebih banyak berperan sebagai juru bicara PSSI. Dia juga dikenal pembela Nurdin Halid, si ketua umum PSSI yang tersandung masalag itu. Saya bertemu di rumah makan khas ikan sembilang Tanjungriau. Dia bersama Pemred Batam TV Andra S Kelana dan mantan wartawan Sijori Pos (sekarang Batam Pos) dan Batam TV Abdul Hamid, dan dua teman lainnya yang saya tidak kenal.

Lama tak jumpa dengan dia, saya lihat kondisinya stabil saja. Tidak bertambah gemuk, tidak pula terlalu kurus.

“Wah, Abang stabil saja, nih, badannya,” kata saya. Dia tersenyum.

“Acara apa di Batam, Bang? Mewakili Lukman Edy atau Nurdin Halid, nih?” goda saya.

“Ah, tidak, ini urusan pribadi,” elaknya.

Maklum, selain sebagai juru bicara PSSI Pusat, dia juga dikenal sangat dekat dengan Menteri PDT HM Lukman Edy. Bahkan, ketika Lukman Edy beberapa kali ke Riau dan Kepri, selalu saja ada Mafirion dalam rombongan. Maklum saja, mereka sudah kenal sejak lama, selain memang satu kampung di Indragiri Hilir, Riau, sana.

Meskipun saya lebih duluan masuk ke Riau Pos Pekanbaru, namun di dunia jurnalistik, dia lebih senior, karena pernah bekerja di Kompas sebelum bergabung dengan Riau Pos pertengahan tahun 1990-an. Sementara saya sudah gabung ke Riau Pos sejak 1990-an awal.

Di dunia pers, kariernya di Riau Pos Group cepat melesat. Meskipun baru bergabung, namun
pengalamannya di Kompas membuat big boss menaruh kepercayaan besar terhadapnya. Begitu masuk, dia langsung menempati posisi koordinator liputan (KL). Hal ini sempat beberapa lama menimbulkan persoalan di Riau Pos, karena dianggap melangkahi “senior” lainnya yang lebih dulu bergabung dengan koran induknya Batam Pos itu. Maklum, di jajaran senior Riau Pos, masih banyak “generasi Cempaka” atau “generasi Agussalim”. Kedua tempat itu adalah markas awal Riau Pos sebelum pindah ke Kuantan Raya dan kemudian ke Jalan Subrantas, Panam.

Di Riau Pos, saya memang tidak pernah menjadi bawahan langsungnya. Karena, ketika dia jadi KL, saya sudah menjadi redaktur. Saya masih ingat, waktu masih di kantor Kuantan Raya, dia belum bergabung. Setiap kali bertemu dengan saya, dia selalu mengangguk ramah. Tapi, saya tetap menghormatinya karena faktor usia dan pengalamannya di koran besar. Dia kemudian meninggalkan Kompas karena merasa tidak punya harapan akan diangkat jadi karyawan, karena tidak tamat sarjana lengkap. Dia memang drop out dari Universitas Riau, karena memang jiwanya cenderung “pemberontak” dan lebih menyukai dunia bisnis.

Nah, saya baru menjadi bawahan langsungnya ketika dia menjadi Pimpinan Umum Pekanbaru Pos (waktu itu koran kriminal) dan saya pemrednya. Itu tahun 2000-an awal. Bekerja dengan Mafirion, asyik-asyik mencemaskan, geli-geli sedap. Sebab, ketika jadi KL Riau Pos, dia termasuk KL yang garang dan tempramental. Kadang suka ngomong jorok kalau sudah marah dengan reporter.

“Jangan pulang ke kantor sebelum kau dapatkan berita ini. Dasar…” berhamburanlah kalimat-kalimat “mantap” dari mulutnya, ha..ha..ha…

Tapi, dia memang berkualitas. Artinya, dia pemarah, pengamuk, karena dia memang punya kelebihan dalam jurnalistik. Tidak seperti kawan-kawan yang lain: hanya asal marah, tapi mereka sendiri tak punya kemampuan jurnalistik memadai. Mentang-mentang jadi bos saja, istilahnya.

Nah, bekerja sama dengan dia terakhir kali ketika di Pekanbaru Pos itulah. Pasalnya, kemudian dia memilih keluar dari grup dan menjadi direktur di salah satu BUMD milik Pemprov Riau. Saat itu, Rusli Zainal, orang sekampungnya, sudah jadi Gubernur Riau. Mafirion memang berdiri di belakang Rusli waktu suksesi gubernur, karena dia memang “membenci” Saleh Djasit, Gubernur Riau sebelumnya.

Sebelum meninggalkan Pekanbaru Pos, dia sempat bicara kepada saya.

“Candra. Aku keluar, tapi kau harus tetap di sini sampai kau nanti menggantikan posisi yang aku tempati sekarang”. Tenang sekali saat dia mengucapkannya.

Kalimat itu terngiang-ngiang dalam benak saya. Sampai akhirnya ketika dia digantikan oleh Sutrianto (kini PU Riau Pos), saya masih teringat ucapannya itu. Namun, apa hendak dikata, saya bukanlah tipe yes man. Terkadang saya bisa sangat emosional. Saya suka berbeda pendapat dengan siapa saja. Waktu itu, saya terlalu confidence dengan kemampuan dan pendapat sendiri. Termasuk dengan Sutrianto ketika itu. Akhirnya, timbul masalah “kecil” dan itu membuat saya ditarik kembali ke Riau Pos, meninggalkan posisi saya sebagai Pemred Pekanbaru Pos. Saya diparkir cukup lama di Biro Direksi, lalu masuk lagi ke redaksi Riau Pos, sampai akhirnya, singkat cerita, “diperintahkan” pindah ke Batam awal 2006 untuk jadi Pemred Batam Pos oleh Pak Rida K Liamsi, big boss saya.

Mafirion memang tidak lagi di pers, meskipun sempat membidani sebuah harian di Pekanbaru pascakeluar dari Riau Pos Group, dulu. Kini dia lebih banyak di PSSI Pusat dan mengurus bisnis yang dia rintis sejak era Rusli Zainal. Hanya saja, kedatangannya ke Batam yang makin sering akhir-akhir ini, mungkin saja ada agenda khusus seputar PSSI. Cari dukungan untuk Nurdin Halid, misalnya? Sebab, sebagaimana diketahui, PSSI kini sedang mendapat sorotan, tidak saja dari publik bola dalam negeri, juga oleh FIFA. Bahkan FIFA mendesak Nurdin diganti. Urusan itukah dia ke Batam? “Bukan…ini urusan pribadi”, bantah Ion, sapaan akrab Mafirion. ***

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>