Libur Panjang, Bosan Luar Biasa
29 Dec 2008 Ruang Keluarga
LIBUR berpanjang-panjang sungguh menyiksa batin saya. Bukannya mau sok hebat dan menganggap libur tidak penting, namun kelamaan istirahat dari rutinitas, juga membuat bosan. Apalagi bagi saya yang kondisi keuangan juga tidak hebat. Lain bagi mereka yang kaya, tentu liburan bisa jadi ajang untuk pelesiran ke luar daerah atau ke luar negeri.
Gara-gara libur juga, saya gagal melakukan transaksi untuk menjual mobil tua kami. Padahal, harga sudah deal, sistem pembayaranpun sudah oke. Hanya karena libur, bank tutup, di calon pembeli tidak bisa menarik dananya. Keesokannya, sudah Sabtu dan Ahad, bank tutup (lagi).
Saya termasuk orang yang tida betah berlama-lama di rumah. Berbagai cara sudah saya lakukan untuk membunuh rasa jenuh itu. Misalnya nonton film, ngopi bareng teman di kafe-kafe, trus jalan-jalan bersama istri dan anak-anak, tetap saja tidak bisa membuat saya happy seratus persen. Perasaan bosan seringkali menghinggapi. Di rumah pun, paling saya hanya cari kesibukan, misalnya nonton TV, baca buku, bersih-bersih halaman, lalu nyuci mobil. Yang ada hanya capek dan bosan lagi.
Seperti seharian Ahad kemarin, saya memutuskan untuk tidak ke mana-mana. Padahal, banyak undangan sudah sampai ke saya. Misalnya undangan launching sebuah pusat wisata, perayaan tahun baru Islam oleh Pemko, undangan khitanan anak bos di Tanjungpinang, ultah anak teman, serta undangan khitanan anak tetangga, tak ada satupun yang saya datangi. Padahal, saya tahu, memenuhi undangan itu tinggi keutamaannya. Tapi yang namanya lagi off the mood, ya mau gimana lagi?
Pagi tadi, saya coba menemani istri ke Pasar Raya Batam Center. Beras, ikan, sayur, dan cabe habis, katanya. Ya sudah, saya temani dia. Sebelumnya kami sarapan di Seloka, lalu kemudian beranjak ke pasar basah itu. Usai berbelanja seperlunya, kami kembali ke rumah.
Dalam perjalanan pulang, teman saya, Andra, menelpon. Dia bermaksud ngajak sarapan. Tapi sayang, saya sudah lebih dulu sarapan bersama istri di pasar tadi. Padahal, biasanya, ketika hari-hari kerja, saya dan beberapa teman di Graha Pena Batam, selalu menyempatkan diri sarapan pagi di sebuah kedai, Mie Tarempa, namanya. Lokasinya di Sungaipanas, Batam. Menunya khas masyarakat Pulautujuh alias Natuna. Ada luti goreng, mie goreng khas Tarempa, lempa, gado-gado, mie basah, dan lain sebagainya.
Kemarin siang, karena tidak memenuhi undangan manapun, saya lalu buat janji bersama beberapa teman untuk nonton. Awalnya, mau nonton bertiga. Tapi, sampai film mau diputar, yang satunya tidak muncul di Studio XXI Maga Mall. Film-nya IP Man, sebuah film laga kungfu khas China. Tapi saya tidak akan menceritakan detailnya, karena saya memang bukan tukang resensi yang baik. Yang jelas, film ini asyik dinikmati, terutama bagi mereka yang etnis China, karena sarat dengan pesan “dendam” masa lalu terhadap masa pendudukan Jepang. Bagi orang Indonesia, tentu ini menarik untuk disaksikan, karena Indonesia juga pernah sangat menderita di bawah pendudukan Jepang.
Lucunya, meski saya tidak menghadiri launching pusat wisata Ocarina yang katanya bakal terbesar di Batam itu, namun hari ini, keluarga saya malah ramai-ramai ke sana. Tadi saya ditelpon bahwa mertua, istri, ponakan, dan anak saya sedang menjajal beberapa permainan di sana. Mertua dan ponakan saya baru datang dari Tanjungpinang. Dari Punggur mereka minta dijemput istri saya dan langsung ke tempat wisata itu.
Hmm…. haruskah saya ke sana untuk membunuh perasaan boring ini? Tapi… saya agak ragu, sebab, banyak fasilitas di Indonesia, yang gaungnya hanya besar di publikasi media, namun ternyata tidak ada apa-apanya setelah kita masuk ke dalamnya. Entahlah… baiknya saya dengar saja cerita dari keluarga saya itu, kelak.***



Leave a Reply