Lengkingan Abin Ramaikan Tarawih

Sering orang berkata, buah jatuh takkan jauh dari pohonnya. Tapi anakku, Abin, benar-benar jauh dari “pohonnya”. Bayangkan, meski aku tidak setiap malam selama Ramadan ini berkesempatan salat Tarawih, dia sangat rajin mendatangi masjid yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah itu. Jalan kaki lagi.

Kadang, aku malu pada diri sendiri. Sehabis berbuka, usai salat Magrib, dia biasanya langsung mencari baju kurung Melayu yang masih pas di badannya. Dengan pakaian warna pink itu, plus kopiah ala anak-anak, dia berkata,

“Yah, ayo kita Tarweh,” katanya menyebut Tarawih dengan Tarweh.

“Tunggu, Nak, Ayah masih kekenyangan ini. Baru saja selesai salat, mau makan dulu,” kataku.

Kebiasaanku sejak beberapa tahun belakangan, kalau berbuka, selalu ditemani minuman hangat, juadah manis, dan beberapa buah kurma. Aku tak bisa mengkonsumsi minuman dingin waktu buka. Setelah itu, biasanya aku langsung salat Magrib. Baru kemudian melanjutkan dengan makanan agak berat, seperti nasi atau makanan berat lainnya.

Namun, khusus tahun ini, setelah terkena penyakit maag sejak beberapa bulan lalu, aku lebih hati-hati mengkonsumsi makanan, terutama ketika berbuka. Aku menghindari makanan pemicu meningkatnya asam lambung, seperti kacang-kacangan, kubis, sawi, sambal, kol, dan lainnya. Demikian juga dengan minuman mengandung gas dan bahan pengawet, tidak kusentuh sama sekali.

Karena pola konsumsiku sedikit berubah sejak sakit maag itu, jadinya berbuka puasa memerlukan waktu yang cukup lama buatku. Sehingga, ketika anakku sudah siap berangkat ke masjid, aku masih meluruskan perut di kursi. Hmm… menderita juga sakit maag, pikirku. Namun alhamdulillah, selama Ramadan tahun ini, belum pernah perutku bermasalah. Itu semua karena keyakinanku terhadap pertolongan Allah. Bukankah ibadah puasa memang khusus dipersembahkan untuk-Nya?

Kalau sudah begitu, biasanya Abin akan berangkat sendirian ke masjid. Bukan karena kewajiban mengisi buku pengajian Ramadan dari sekolah seperti anak-anak lain, sekolah Abin tak menerapkan program itu, tapi karena dia suka saja ikut Tarawih di masjid kami yang baru. Alhamdulillah, di sana dia baik-baik saja.

Ketika dia pulang, aku selalu membukakan pintu untuknya. Seperti biasa, ucapkan salam dan mencium tanganku. Sementara ibunya sudah sibuk pula menidurkan adiknya yang baru berusia 3 tahun. Memang, tahun ini kami agak sibuk, karena tidak ada lagi orang yang biasa membantu istriku di rumah. Praktis, di rumah hanya kami berempat sejak tiga bulan lalu.

Nah, malam tadi, perutku agak ringan. Usai makan, aku mengajak Abin ke masjid. Kami berjalan kaki saja, walaupun beberapa tetanggaku biasanya memilih naik mobil atau motor. Jarak 500 meter mungkin cukup jauh bagi mereka.

Sampai di masjid, aku berpapasan dengan mantan Kepala Dinas Pendidikan Kepri Ibnu Maja. Rumah Maja tak jauh dari rumahku. Tentu saja tipe rumahku kalah jauh. Rumah mantan orang kepercayaan Ismeth Abdullah itu terdiri dari beberapa rumah yang direnovasi menjadi satu. Aku mengenalnya, tapi dia tidak mengenalku. Aku sengaja tak memperkenalkan diri, karena ketika aku masih Pemred Batam Pos, koranku termasuk sering menyoroti kebijakan dinasnya. Sungkan jadinya.

Waktu lagi khusuknya salat, aku terkejut mendengar suara lengkingan anak kecil. Aku syak, itu pasti suara Abin. Dia mengikuti imam dengan suaranya yang nyaring. Setelah berpikir bahwa itu suara Abin, aku hampir terbahak dalam salat. Lucu sekali. Dia tiba-tiba mengikuti suara imam di sebagian bacaannya dengan suara melengking. Setelah itu, diam. Lalu, di bacaan lain yang dia tahu, kembali Abin melengking, lalu diam lagi. Aku betul-betul hampir terbahak dibuatnya. Jadi kurang khusuk, ha..ha…

Usai salam rakaat keempat, aku menoleh ke belakang. Kulihat Abin tenang-tenang saja. Sepertinya tidak terjadi apa-apa. Barulah setelah Witir dan doa, aku menghampirinya. Dalam perjalan pulang, aku bertanya kepadanya,

“Bin, tadi Abin ikut suara imam ya?”

“Iya, Yah”.

“Kok suaranya keras gitu?”

Dia hanya tersenyum.

“Nggak boleh. Suara makmum hanya boleh dinyaringkan ketika amin. Selain itu tidak boleh bersuara,” kataku.

“Abin gak tahu, Yah,” katanya sedikit meringis.

“Ya, sudah. Besok-besok jangan gitu lagi”. Dia mengangguk.

Apapun, aku sangat bersyukur. Anakku yang belum genap 7 tahun itu mulai menyenangi masjid. Sejak bertugas di Batam tahun 2006 yang lalu, baru tahun inilah kami berkesempatan tinggal tidak jauh dari masjid. Kalau dulu, pada dua perumahan yang kami tempati sebelumnya, di Mediterania, masjidnya jauh, yang kedua, Baloi View, sama sekali tidak ada masjid. Di Batam, memang tidak semua perumahan dilengkapi masjid.***

One Response to “Lengkingan Abin Ramaikan Tarawih”

  1. Silvie Nukie Says:

    Blog yang bagus neh, bagus bgt artikel, update terus ya, biar aku bisa baca2 terus…


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>