Kenyamanan yang Begitu Mahal

Sudah beberapa hari Batam diguyur hujan lebat. Hampir merata di semua tempat. Kadang diiringi petir dan kilat. Akibatnya, bisa ditebak: di beberapa lokasi terjadi genangan air. Jalanan yang masih banyak lubangnya di kota ini, menjadi perangkap tersendiri bagi pengguna jalan. Sebab, kalau tak begitu hafal dengan kondisi jalan, bisa-bisa roda kendaraan terperosok jatuh ke dalam lubang akibat genangan air yang menutupi asesoris jalan di Batam itu.

Maka, di Batam semakin tinggilah biaya hidup. Mulai dari mahalnya harga sembako, sayur-mayur, transportasi, sampai ke persoalan pemeliharaan kendaraan. Setiap pekan, ada saja onderdil kendaraan yang harus dicek ulang. Tirood atau kapak-kapak kendaraan roda empat dan stabilizer-nya, selalu harus dicek kelayakannya, karena sering terjerembab ke dalam jalanan berlubang. Satu kapak-kapak saja, jika yang baru, harganya di atas Rp500 ribu untuk mobil standar. Bayangkan kalau yang kena itu mobil-mobil mewah; sudahlah mahal, langka pula barangnya.

Melihat kondisi jalan Batam hari ini, jika diukur, mungkin masih banyak yang baik dibanding jalanan berlubang. Namun, jalanan berlubang itu terdapat di beberapa titik yang padat penduduk dan padat lalu-lintasnya. Tiap hari dilewati. Ada yang memang sudah diperbaiki, namun tetap masih banyak yang memerlukan perbaikan segera. Yang diperbaikipun, kondisinya seperti koyok yang ditempelkan di badan jalan: bergelombang dan cepat mengelupas.

Kondisi ini sudah berlangsung sejak beberapa tahun belakangan. Alasan klasik selalu saja didengungkan: dana yang kurang, hujan yang menggerus jalan, kendaraan berat yang menambah cepatnya kerusakan. Seperti tidak punya perencanaan ketika para penguasa membangun kota ini. Tidak pernah ada solusi konkret terhadap berbagai persoalan yang terus muncul dan menjadi langganan tiap tahun itu. Maka, ini seperti menjadi proyek tahunan yang sudah barang tentu jelas pula komisi yang bisa bisa dibagi-bagi. Ibaratnya, tiap tahun diperbaiki akan lebih bagus, karena dengan itu akan ada terus proyek yang dianggarkan. Dan… komisi proyek pun tetap terbagi secara adil.

Hm…. tak tahulah. Untuk kota yang “hanya” mengandalkan sektor jasa dan indsutri seperti Batam, memang yang paling utama diperhatikan oleh pemerintah, termasuk OB, eh, BPK Batam, adalah kenyamanan. Kenyamanan itu tentu saja meliputi berbagai fasilitas dan sarana, misalnya jalan, lampu jalan, keamanan, taman, serta kenyamanan lainnya. Sebab, bagaimana mungkin Batam bisa bersaing dengan kawasan indsutri lain, jika kenyamanan saja begitu mahalnya di sini.***

3 Responses to “Kenyamanan yang Begitu Mahal”

  1. love Says:

    bang Candra hidup di Batam mahal ya ? kalau di depok,banyak perumahan khusus daerah SAWANGAN karena ada MESJID KUBAH MAS,jalan tidak rusak,tetapi tidak lebar,jadi macet terus,dan kehidupan tidak mahal.


  2. mur Says:

    pindah aja ke amrik bang, he he


  3. candra ibrahim Says:

    to love n mur….
    negara kita memang belum tertata dengan rapi… yah, begitulah… but, indonesia is my lovely country (koes plus), hehehe


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>