Kenangan Masa Kecil dan Masa Kini
19 Nov 2008 Ruang Keluarga
Waktu menjejakkan kaki di bandara Ranai tahun 2006 yang lalu, perasaan bangga langsung menyeruak dalam dada saya. Pasalnya, inilah kali pertama saya naik pesawat ke ibukota Kabupaten Natuna tersebut. Tahun 1991 yang lalu, waktu saya pulang kampung ke Midai, Natuna, naik kapal dari Tanjungpinang. Perjalanan ketiga ke Ranai, beberapa bulan lalu, ketika Linus Air melakukan penerbangan perdana ke sana dari Batam.
Ya, setelah meninggalkan Midai tahun 1987 yang lalu, saya memang baru sekali pulang kampung, yakni tahun 1991 yang lalu. Waktu itu libur sekolah. Dua minggu saya di Midai, lalu kembali ke Pekanbaru.
Tapi pada penerbangan tahun 2006, saya hanya sampai di Ranai, tidak balik ke Midai. Pasalnya, saat itu saya hanya menghadiri pelantikan Bupati/Wakil Bupati Natuna, Daeng Rusnadi/Raja Amirullah. Demikian pula kedatangan saya ke Ranai tahun ini, pun hanya sampai di bandara saja, karena langsung pulang beberapa jam kemudian dengan Linus Air.
Sebenarnya, ada keinginan yang kuat untuk kembali menginjakkan kaki di tanah kelahiran saya, Midai. Saya merindukan saat-saat bermain di pantainya yang bersih sambil mencari remis (sejenis kerang kecil berkulit putih). Waktu kecil, saya memang suka bermain di pantai seperti anak-anak laut lainnya. Bahkan sering saya dan teman-teman bermain sampai ke perbatasan antara karang dengan laut kalau air sedang surut. Asyik sekali sambil memandang laut lepas. Saat kapal perintis akan merapat, bahkan kami bisa melihat penumpang kapal dari atas karang.
Saya lahir dan dibesarkan di Midai, sebuah pulau di gugusan Laut China Selatan. Kami lima beradik, semuanya lahir dan dibesarkan di sana. Ayah saya, perantau asal Kampar. Sejak kecil, ayah sudah merantau ke Midai. Tak jelas ayah waktu itu ikut siapa. Tapi saudara ayah memang sudah banyak yang menetap di Midai sejak tahun 1950-an lagi. Keluarga almarhumah ibu juga perantau dari Kampar. Nenek (alm) membawa anak-anaknya ke Midai, bahkan ada yang lahir di sana. Menurut silsilah, keluarga kami merupakan perbancuhan antara Kampar dan Johor, Malaysia. Jadi, saya ini Melayu tulen dan saya bangga karenanya.
Kami ada lima orang adik-kakak. Dua perempuan, tiga laki-laki, semuanya lahir di Midai. Saya adalah anak nomor dua, kakak saya perempuan, lalu di bawah saya perempuan, laki-laki, trus laki-laki lagi sebagai penutup. Mereka kini tersebar di Pekanbaru dan ada yang masih menetap di Midai. Ayah saya masih ada dan tinggal di rumah kami di Pekanbaru. Beliau kini sudah beristri lagi dan memiliki satu anak kandung dan satu anak tiri. Keluarga ibu tiri saya tinggal di Danau Bingkuang, Kampar. Ayah bolak-balik Pekanbaru-Danau sekali dalam sepekan. Sementara ibu sudah meninggal akibat batu ginjal tahun 2000 yang lalu setelah sebulan dirawat di rumah sakit.
Sejak kecil, ibu sangat protektif kepada anak-anaknya. Bahkan, saking protektifnya ibu, jarang kami diberi kesempatan bermain berlama-lama di pantai. Sebagai anak laut, saya malu karena sampai sekarang tak pandai berenang. Kalau sekadar menimbulkan badan, bisalah. Pernah suatu ketika, saat bermain-main di bom –penyebutan untuk pelabuhan– saya ditolak seorang teman hingga terjatuh ke air. Saya kaget bukan main karena tak bisa berenang. Walaupun airnya hanya sebatas leher, namun saya lemas dan langsung menangis. Sejak saat itulah, saya memohon kepada ibu untuk boleh main di air laut. Tapi, tetap saja saya tak jago berenang sampai sekarang.
Di Midai dan banyak pulau-pulau lainnya di Natuna, memang banyak perantau dari daratan Sumatera. Ada yang dari Kampar, Talukkuantan, Pekanbaru, Bengkalis, Kalimantan Barat, dan tentu saja dari daerah lainnya di Sumatera. Penduduk asli Midai dulunya adalah Suku Laut. Jumlahnya waktu saya kecil boleh dihitung jari. Bahkan saat itu, hanya ada beberapa suku asli yang masih hidup. Sepertinya, kini sudah tak ada lagi.
Makanya, ketika orang-orang bertanya saya ini dari mana, pastilah dengan bangga saya menyebutkan dari Midai, Natuna. Tapi kalau orang bilang saya dari Kampar, saya juga tak menolaknya, karena memang keluarga ayah dan ibu dulunya berasal dari sana. Di dalam rumah, kami masih pakai bahasa Kampar yang dicampur dengan dialeg pulau. Jadinya, terdengar lucu kalau kami berdialog. Misalnya, menyebut “mau pergi” menjadi “nak gi”, lalu “iya” menjadi “aok”, dan “ke pasar” menjadi “ke pasau”, dan seterusnya.
Kini, sudah 21 tahun saya meninggalkan Midai dan hanya pulang sekali yakni tahun 1991. Saya hijrah ke Pekanbaru tahun 1987 setelah tamat SMP. Saya kemudian melanjutkan sekolah ke SMAN 6 (dulu SMPP 49), dan kini berubah jadi SMAN 8 di Jalan Abdul Muis Pekanbaru. Empat tahun di SMA karena tinggal kelas. Setelah dua tahun lulus SMA, barulah saya melanjutkan kuliah ke Universitas Riau (Unri), itupun harus sampai 14 semester plus dua tahun masa langkau. Seperti dalam postingan sebelumnya, memang usia saya banyak terbuang sejak di bangkus SMA hingga kuliah. Sudah tua baru terasa, ha..ha…
Dalam hati, pernah terbersit bahwa saya suatu saat harus kembali ke Midai, untuk menyumbangkan pemikiran bagi kemajuan daerah. Pernah pula saya berkhayal ingin berkiprah di legislatif atau eksekutif di Natuna. Tapi, saya sungguh tak ada potongan untuk ke sana. Apalagi saya kini bekerja di industri pers, sudah barang tentu tidak bisa jadi birokrat. Kalau ke legislatif, tentu harus masuk partai. Sementara mau jadi bupati, aha, jauh panggang dari api.
Perjalanan Kerja
Sejak 1993 saya memang sudah magang di koran Riau Pos Pekanbaru. Waktu itu saya masih kuliah dan diperbolehkan oleh pimpinan Riau Pos Group Pak Rida K Liamsi untuk bekerja sambil kuliah. Setelah dua tahun bergabung dengan Riau Pos, saya ikut tes jadi anggota muda PWI Riau. Saya lulus tes PWI tahun 1995.
Sambil terus honor di Riau Pos –alasan Pak Rida, selagi kuliah belum bisa diangkat jadi karyawan tetap– saya beraktivitas pula di Surat Kabar Kampus (SKK) Bahana Mahasiswa Unri. Di Bahana, saya sampai ke level Wakil Pemred. Pernah mau diangkat jadi Pemred, namun saya nenolak. Alasan saya, pekerjaan di Riau Pos sudah sangat menyita waktu saya.
Waktu pertama berkarya di Riau Pos, saya masih ingat, yang menjadi mentor saya adalah Bang Sofyan Samsir (kini anggota DPRD Kepri), Bang Ace (Taufik Munthasir), dan Bang Ade Adran Syahlan (kini Pimum Posmetro Batam). Dari mereka bertigalah saya dapat pelajaran jurnalistik di masa-masa awal, sambil juga menimba ilmu di Bahana Mahasiswa. Kelak saya tahu bahwa Ade Adran Syahlan sebaya dengan saya, sehingga saya tak lagi memanggilnya abang, ha…ha…
Awalnya, saya sering menulis untuk Riau Pos ketika masih SMA. Banyak bahan kliping yang saya kumpulkan dan saya ramu ulang. Saya mulai merasakan honor tulisan. Lumayan untuk nambah ongkos sekolah. Sejak kelas dua SMA, alhamdulillah, saya sudah membiayai diri sendiri. Bahkan ketika lulus perguruan tinggipun, awalnya kedua orang tua saya tidak tahu. Mereka terharu setelah saya beritahu sesudahnya.
Alhamdulillah, Pak Rida pula yang memberi jalan bagi saya untuk bergabung ke Riau Pos. Suatu waktu, beliau minta Bang Sofyan mengajak saya bergabung. Waktu itu, wartawan olahraga memang diperlukan setelah para wartawan olahraga sebelumnya (Ace dan Ade) naik pangkat menjadi redaktur. Jadilah pos pertama saya di desk olahraga. Liputan pertama: pertandingan voli ibu-ibu antar-RW!
Tak lama di lapangan, karir saya terus naik. Saya pernah mengecap redaktur olahraga, redaktur kota, dan redaktur pelaksana di Riau Pos. Tahun 2001, saya dipercaya jadi Pemred Tabloid Politik Watan (Grup Riau Pos). Saya menggantikan Norham Wahab yang ditarik ke Riau Pos. Di sanalah saya kemudian dipercaya memimpin beberapa orang yang kemudian memiliki nama besar, seperti Raja Isyam Azwar (kini Wapemred Riau Pos), Hendrizal Ruslan (Manajer RTV), Rizal Saputra (Pemred Batam News), Ramon Damora (Pemred Posmetro), dan beberapa nama lain seperti Rinaldi AM, Yulianti Sabikis, Dawami, Tatang, dan Kasmawati (istri Rizal).
Tak lama di Watan, akibat krisis kertas, tabloid yang sempat ditakuti itu kemudian diakuisisi oleh Riau Pos jadi jadi suplemen Riau Pos edisi Ahad. Ketika dipanggil Pak Rida, saya diberi opsi untuk Tabloid Watan. Pertama, Watan dibubarkan, kedua, diakuisisi Riau Pos. Tentulah saya harus ikut memikirkan nasib kawan-kawan lainnya, sehingga saya memilih diakuisisi Riau Pos, sehingga seluruh kru Watan jadi karyawan Riau Pos. Saya juga kembali ke Riau Pos dan menjadi koordinator liputan bersama dua asisten, Isyam Azwar dan Zulmansyah Sekedang (kini Pemred Riau Pos). Tak lama setelah itu, di tahun yang sama, 2001, saya kembali dipercaya memimpin Pekanbaru Pos, sebuah koran kriminal di Grup Riau Pos.
Setahun setengah jadi Pemred Pekanbaru Pos, saya minta pindah kembali ke Riau Pos. Alasannya, tak usah saya ungkapkan di sini. Pak Rida melihat persoalannya secara jernih dan menarik saya ke Riau Pos. Karena tidak ada posisi lagi, saya parkir cukup lama di Biro Direksi Riau Pos. Di sinilah saya merasakan bahwa karir saya “sudah tamat” di Riau Pos. Parkir di Biro Direksi, tanpa pekerjaan, sungguh bukan sebuah kondisi yang menguntungkan. Sekitar enam bulan saya di posisi itu. Kemudian, atas permintaan Pemred Riau Pos (waktu itu) Kazzaini KS, saya diminta bergabung lagi ke redaksi dengan posisi mentereng: redaktur senior.
Tapi, posisi itu sebenarnya tetap saja tidak menguntungkan. Tanpa meja, tanpa kerja, tanpa wewenang. Namanya saja senior, tapi tugas utamanya tetap mencari berita. Namun saya perlahan mencoba bangkit dari “hukuman” itu. Saya selalu introspeksi diri atas segala kesalahan saya di Pekanbaru Pos tempo hari. Kelemahan saya yang paling menonjol adalah tidak bisa bekerja sama dalam tim. Kalau saya suka, akan sangat saya perlihatkan. Sebaliknya, kalau saya tidak suka dan tidak cocok dengan orang lain, maka akan terlihat pula secara terang-terangan.
Kalau dihitung, sejak saya diparkir di Biro Direksi sampai jadi redaktur senior, ada sekitar 1,5 tahun! Selama itu pula saya sangat tersiksa; tanpa posisi, tanpa jabatan, tanpa pekerjaan yang jelas. Namun, dewi fortuna masih berpihak kepada saya. Saya kemudian ditarik lagi menjadi redaktur pelaksana di Riau Pos, sebuah level yang pernah saya duduki tiga tahun sebelumnya. Saya tetap bersyukur, karena inilah sesungguhnya awal kepercayaan pimpinan, khususnya Pak Rida, terhadap saya. Saya menjalaninya dengan ikhlas.
Sebenarnya, masih ada “kesalahan” lain yang saya lakukan. Ketika ditarik dari Watan dan menjadi koordinator liputan (KL) di Riau Pos, saya membuat kesalahan lain. Waktu itu, Pak Rida menghampiri meja saja dan bertanya,
“Gimana, Candra, istrimu masih kuliah?”
“Masih, Pak, lagi nyusun skripsi”
“Anak kau?”
“Masih kecil, Pak,” saya menjawab tanpa beban.
“Hm, gimana aku mau memindahkan kau?”
“Oh, ke mana, Pak?”
“Ke Batam. Edy mau ke Pekanbaru tu,” kata Pak Rida menyebut nama Pemred Batam Pos Eddu Mohd Yatim. Belakangan barulah saya tahu bahwa saya masuk dalam daftar yang akan menggantikan Edy Yatim.
Itulah “kesalahan” saya yang lain. Kalau tidak, mungkin sudah sejak 2002 saya sudah ditarik ke Batam Pos. Karena “penolakan” saya, kemudian Pak Rida memilih Amzar untuk memimpin redaksi Batam Pos.
Namun, saya tak pernah berputus asa. Saya jalani saja semua kepercayaan dari pimpinan dengan sebaik-baiknya. Sampai kemudian, ketika saya diroling dari posisi KL untuk kesekian kalinya kembali ke redpel di Riau Pos, saya jalani dengan lapang dada. Padahal sebelumnya, posisi pemred di Watan dan Pekanbaru Pos, sudah saya jalani. Jadi, naik-turun dalam posisi kerja, sudah biasa dalam hidup saya.
Sampai akhirnya, Desember 2005, saya dipanggil bersama beberapa petinggi grup Riau Pos. Saya kemudian diminta menggantikan Bang Amzar di Batam Pos. Bang Amzar ini terhitung paling lama jadi pemred di Batam Pos, tiga tahun setengah.
“Ini kesempatan terakhir aku berikan. Kalau kau masih nolak, yah, jangan harap akan ada kesempatan lainnya,” kata Pak Rida. Meskipun diucapkan dalam nada bercanda, namun jelas itu sebuah ancaman. Dan saya sudah bertekad tidak akan mengulangi “kesalahan” yang sama lagi. Sejak Januari 2006, saya resmi memimpin redaksi Batam Pos.
Setahun kemudian, jabatan saya bertambah satu lagi: Wakil PU Bidang Redaksi dan IT di koran yang sama. Tahun 2008, barulah posisi Pemred di Batam Pos tak lagi saya pegang, karena saya dipercaya menjadi PU di Batam News. Akan tetapi, posisi Wakil PU Bidang Redaksi dan IT secara dejure tetap melekat pada diri saya, walaupun secara de facto hal itu sulit saya lakukan. Kesibukan saya di Batam News telah menyita perhatian saya, sehingga di Batam Pos saya tidak lagi bisa aktif.
Kini, saya hanya berharap, kepercayaan pimpinan menempatkan saya di Batam News, tidaklah menjadi sia-sia belaka. Insya Allah, semuanya bisa saya jalani dengan bantuan semua kru Batam News tanpa kecuali. Satu yang membuat saya lega, proposal kami untuk mendirikan sebuah badan usaha sendiri untuk Batam News, nampaknya akan direspons oleh manajemen. Sejak 2006, Batam News memang diakuisi oleh Batam Pos dari Posmetro, sampai sekarang. Insya Allah, kalau tak ada aral melintang, tahun 2009 mendatang, Batam News sudah memiliki badan usaha sendiri, tidak lagi menjadi unit bisnisnya Batam Pos (PT. Sijori Interbintana Pers). Semoga.***



November 19th, 2008 at 8:06 pm
Panjang perjalanan Bang Chandra nih… Semoga sukses Bang!!
November 20th, 2008 at 10:53 am
terimakasih komennya… ini hanya untuk dibaca-baca sendiri kok, bukannya mau narsis, hehehe…
February 19th, 2009 at 8:47 pm
Mantap, perjalanan panjaaaaaaaaaaaaaaaang