Kelebihan Cairan, Ditinggal di Narita Jepang
2 Mar 2009 Dari Amerika
Menjelajah Amerika, dari DC ke San Francisco (3)

PERJALANAN Jakarta-Singapura kami tempuh dalam waktu lebih kurang satu jam. Sampai di negara singa itu sekitar pukul 20.00 WIB atau satu jam lebih cepat dalam waktu setempat. Aneh juga rasanya, kalau saya yang dari Batam harus lewat Jakarta untuk ke Singapura. Padahal, lewat laut dari Harbour Bay cukup 45 menit. Tapi, namanya juga rombongan, trus di Embassy AS di Jakarta harus ikut briefing lagi, makanya harus iku rute yang sudah ditetapkan panitia.
Di Singapura, menginap semalam, karena pukul 07.30 waktu setempat sudah harus terbang ke Narita, Jepang. Jadilah, tidur malam itu hanya empat jam di Ambassador Transit Hotel di Terminal 1. Subuh Sabtu, bergegas ke check in konter di Terminal 3. Dari Terminal 1 ke Terminal 3 harus naik sky way, sekitar dua menit. Di check in counter, hanya melaporkan bahwa kami ikut penerbangan United Airlines menuju DC. Setelah ditanya beberapa pertanyaan, termasuk melaporkan bahwa ada bagasi flight through, barulah dipersilakan masuk ke ruang tunggu. Di sini, masih sempat buka internet.
Perjalanan dari Changi ke Narita ditempuh dalam waktu 6 jam. Ada tiga bahasa yang digunakan selama perjalanan Changi-Narita, yakni Inggris, Mandarin, dan Jepang. Ini dikarenakan kebanyakan penumpang rute ini adalah mereka yang menggunakan tiga bahasa tersebut. Cuaca yang kurang bersahabat membuat saya nervous bukan main. Tak jarang pesawat harus berhadapan dengan turbulens, naik-turun cukup tajam. Tapi saya lihat, para penumpang lain di sekitar saya, tenang-tenang saja. Pastilah mereka sudah terbiasa dengan cuaca seperti itu. Ada yang asyik mendengar musik, menulis, atau sekadar ngobrol dengan penumpang lain.
Sepanjang perjalanan, saya mencoba memakan apa saja yang disediakan awak kabin. Sebab, saya ingat pesan seorang teman, kalau berpergian ke luar negeri, tak usah banyak cincong soal makanan. Selagi diyakini itu baik, makan saja. Tak usah tanya halal-haram, ha..ha… Sementara di TV kecil di hadapan, bisa dipilih beberapa chanel film. Satu channel berisi imformasi seputar penerbangan yang selalu di-update. Di sini terus diinformasikan beberapa data, misalnya sudah berapa jam penerbangan, sudah berapa jauh jarak tempuh, cuaca di luar, estimasi ketibaan di tujuan, berapa jarak tersisa, kecepatan angin, dan ketinggian terbang.
Kami mendarat di Narita pukul 13.30 waktu Singapura atau pukul 14.30 waktu Jepang atau pukul 12.30 WIB, Sabtu siang (24/1). Setelah mendarat, cuaca di luar dikabarkan 2 derjat celcius. Saya mulai khawatir dengan informasi tersebut. Ah, tapi kan itu cuaca di luar. Kalau di bandara kan ada heater-nya, sama halnya ketika cuaca di luar bandara di tanah air sedang terik-teriknya, di bandara ‘kan ada air conditioning-nya. Jadi, tak usah terlalu khawatir.
Di Bandara Narita, ketika melewati koridor yang menghubungkan ruang kedatangan dengan ruang transit, saya dan teman-teman jurnalis lainnya menggunakan kesempatan mengambil beberapa gambar. Maklum, baru pertama kali ke Jepang, meskipun hanya di bandaranya saja. Mata saya mulai berkunang-kunang menyaksikan beberapa papan display dalam huruf kanji. Sumpah, tidak mengerti sama sekali. Untunglah, beberapa detik kemudian berganti dalam bahasa Inggris.
Setelah puas berpose dan mengambil beberapa gambar, saya harus melewati satu line pemeriksaan bagi penumpang transit. Di sinilah masalah mulai muncul. Tas ransel saya mulai diperiksa. Di dalamnya terdapat beberapa alat mandi, minyak rambut, dan parfum, yang saya beli sebelumnya di Batam. Seorang petugas wanita, usianya saya taksir sekitar 25 tahun, menyuruh saya membuka tas. Dengan bahasa Inggris cadel ala Jepang, dia minta saya mengeluarkan beberapa botol cairan (liquid) yang terdeteksi oleh x-ray.
“No more than 100 milli litre allowed in this flight. After that, put in this bag, no more. So, please choose some goods you want to bring,” katanya.
Wah, saya mulai bingung. Apa yang harus saya pilih untuk dibawa dan apa pula yang harus saya serahkan ke petugas cantik itu. Saya mulai bernegosiasi. Saya katakan bahwa saya memerlukan semuanya, karena di Amerika akan susah diperoleh yang sesuai dengan kebutuhan saya. Dia tetap menggeleng. Lalu, disodorinya sebuah pamflet berlapis plastik. Di situ tertera berbagai aturan dan gambar barang-barang yang dibenarkan (allow) dan dilarang (not allowed).
Well, saya ahirnya meninggalkan beberapa barang, seperti minyak rambut, sabun, shampoo, dan odol, karena setelah dimasukkan ke tas khusus yang diberikan petugas itu, ternyata tidak muat seluruhnya. Risikonya, ya, harus ditinggalkan sebagian. Belakangan, ini menjadi pelajaran penting bagi saya ketika penerbangan domestik di Amerika, juga ketika kembali lagi ke tanah air. Sebaiknya, barang-barang kosmetik dan peralatan mandi dimasukkan ke dalam koper bagasi, sehingga terhindar dari pemeriksaan detil petugas bandara.
Urusan pemeriksaan selesai. Saya kemudian berjalan-jalan di sekitar beberapa toko duty free di dalam bandara Narita. Beberapa barang saya lihat cukup murah, namun di antaranya terasa mahal. Sekali lagi, saya ingat pesan seorang teman, kalau ke luar negeri, jangan coba-coba mengkonversikan rupiah ke dalam mata uang asing, bakal pusing tujuh keliling. Namun, karena saya pikir nanti ketika pulang ke tanah air masih melalui Narita, saya batal belanja di sana. Saya cuma membeli beberapa makanan kecil dan air mineral. Lagipula, di Narita tidak lama, cuma sekitar dua jam, lalu melanjutkan penerbangan ke Dulles International Airport, Washington DC. (bersambung)
Foto: saya (paling kanan) dan tiga jurnalis Indonesia lainnya (dari kiri: Linova Rifianty, Sukriansyah, dan Yos Kusuma) berpose di koridor yang menghubungkan ruang kedatangan dengan ruang transit Bandara Internasional Narita, Jepang.



Leave a Reply