Kasihan Ansar, Kasihan Mastur

Saya kasihan melihat Bupati Bintan Ansar Ahmad yang seolah-olah sengaja menjadi bulan-bulanan media massa. Bukan hanya media nasional, media lokal pun seakan berlomba-lomba menghakimi ketua DPD Partai Golkar Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) itu. Parahnya lagi, posisi Ansar semakin tersudutkan setelah muncul wawancara wartawan dengan Wakil Bupati Mastur Taher, Sabtu pekan lalu. Padahal, mestinya pers juga menganut azaz berimbang. Mendengarkan celoteh Mastur, selayaknya juga mendengarkan pembelaan dari Ansar. Bukan malah sebaliknya, pers ikut menghakimi.

Sejak berita tertangkapnya Sekdakab Bintan Azirwan oleh KPK bersama anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PPP Al Amin Nur Nasution, awal bulan lalu di Jakarta, mata pena pers Indonesia mulai mengarah-arah ke Ansar. Pasalnya, Ansar adalah atasan Azirwan. Sedangkan Azirwan sendiri, selain sebagai Sekdakab, juga duduk sebagai ketua Tim Percepatan Pembangunan Pusat Ibukota Bintan. Maka, di daerah pun, mantan atasan Azirwan, Said Jaafar (mantan Kepala Bappeda dan mantan Sekdaprov Kepri) langsung “membelanya”. Kata Jaafar, Azirwan itu orang yang loyal pada atasan. “Dia tidak pernah melakukan pekerjaan di luar sepengetahuan atasan,” bela Said Jaafar.

Jelas, pernyataan Said Jaafar makin menyudut Ansar. Sayangnya, setelah didesak berkali-kali oleh wartawan, Ansar memilih bungkam. Demikian juga ketika dicecar waktu keluar dari ruang pemeriksaan KPK, pekan lalu, Ansar ngeloyor pergi, sampai-sampai ajudan dan supirnya kehilangan Ansar yang lebih memilih menyetop taksi. Dia bergegas meninggalkan kantor KPK.

Menariknya lagi, anggota Komsi IV dari Fraksi PKS mengaku pernah menerima grativikasi dari Pemkab Bintan ketika berkunjung ke Bintan tahun lalu. Uang grativikasi itu sudah dikembalikan ke KPK. Hanya saja, seperti yang disinyalkan Presiden SBY, KPK jangan seolah-olah menjebak calon mangsa, proses pemberian uang grativikasi itu sendiri (kalau benar adanya) baru disisir awal 2008 ini. Maka, Amin yang konon sudah lama dijadikan TO, langsung ditangkap. Apesnya, Azirwan berada bersama Amin dan seorang wanita cantik ketika itu.

Jika melihat hubungannya, muncul pertanyaan, mengapa anggota DPR RI dari Fraksi PKS alih-alih mengaku pernah menerima grativikasi dari Pemkab Bintan? Apa tujuannya? Apakah ada sebuah kebetulan bahwa Wakil Bupati Bintan Mastur Taher adalah dari partai yang sama, yakni PKS? Di mana posisi Bupati Ansar yang juga Ketua DPD Partai Golkar Kepri?

Inilah yang kemudian “dimanfaatkan” oleh Mastur untuk menyatakan bahwa dirinya sama sekali tidak ada kaitan dengan semua itu. Bahkan, dia berkali-kali menyatakan tidak akan melakukan “pengambil-alihan” kekuasaan secara tidak etis dari tangan Ansar. Walaupun dalam wawancara dengan Batam Pos, Sabtu pekan lalu itu, Mastur secara jelas mengatakan bahwa dia kecewa karena hanya diposisikan sebagai Wakil Bupati selama enam bulan saja sejak mereka dilantik. Mastur kecewa, Mastur gundah karenanya. Sungguh sebuah kebetulan, bukan?

Anehnya, dan ini yang saya sesalkan, pers seakan menjadi pihak ketiga di antara Ansar dan Mastur. Secara tidak sengaja, pers sudah memperuncing keadaan. Dengan memuat wawancara Mastur tanpa berusaha mewawancarai Ansar (baca Batam Pos, Sabtu 26 April 2008), pers sudah memosisikan dan mengarahkan mata penanya ke Ansar Ahmad. Semoga, dalam waktu dekat akan ada wawancara khusus dengan Ansar, sehingga dia tidak semakin pada posisi “pesakitan” oleh pers.***

One Response to “Kasihan Ansar, Kasihan Mastur”

  1. eps Says:

    wah dah lama gak baca berita..
    gitu tho perkembangannya..
    maklum cuma sekilas tahunya.. :)


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>