Jumpa Kawan Lama, Nyaleg untuk PKPI
1 Dec 2008 Catatan Biasa
SEORANG teman semasa SMP dulu di kampung, Fahrullazi, menelpon saya, mengajak jumpa. Lalu, kami susunlah jadwal pertemuan di sekitar Sungaipanas. Dia akan mengajak serta seorang kakak kelas saya, Bujang Faroek.
Sebenarnya, Fahrul atau Yoi, begitu dia biasa disapa, sudah beberapa hari lalu menelpon saya. Katanya, dia ingin bertukar pikiran tentang banyak hal. Namun, karena kesibukan kami masing-masing, baru pagi tadilah keinginan itu terlaksana. Kami jumpa di salah satu kedai yang menyediakan sarapan pagi khas Natuna, Mie Tarempa.
Begitulah enaknya jadi jurnalis alias wartawan. Kita selalu saja “dilebihkan” selangkah, sebagai orang yang dianggap banyak tahu. Padahal, sesungguhnya, kita adalah orang kebanyakan, yang kebetulan, karena sering berinteraksi dengan berbagai informasi, kesannya jadi serba tahu. Padahal, petidak saje, he..he…
Pertemuan dengan Yoi kali ini adalah kali kedua, sejak kami sama-sama meninggalkan bangku SMP di Midai, sekitar pertengahan 1980-an yang lalu. Kali pertama terjadi ketika kami mengantarkan kepergian salah satu guru kami di SDN 001 Sabang Barat Midai, Pak H Sattar Ayub, ke peristirahatannya terakhir. Kami bertemu di rumah anak almarhum di Bida Asri, Batam Center. Kali kedua, ya pagi tadi. Sementara pertemuan dengan Bujang adalah pertama sejak 23 tahun berlalu!
Setelah basa-basi sedikit, menceritakan berbagai hal ihwal kepergian masing-masing merantau ke negeri orang, barulah kami masuk ke inti persoalan. Terutama persoalan yang dihadapi Yoi, yakni dunia politik. Kini dia tercatat sebagai caleg nomor urut 7 dari PKPI yang kalau di pusat dipimpin oleh anak Bung Hatta, yakni Meutia Hatta. Dia akan berlaga di Dapil Bengkong dan Batuampar untuk DPRD Batam. Partainya sendiri dalam nomor urut juga menempati angka 7.
“Jadi, selain karne memang mendapat dukungan, saye mengharapkan tuah dari nomor tujuh itulah,” katanya membuka pembicaraan. Kami tertawa serempak.
“Mengapa bukan nomor satu atau nomor dua?” kejar saya.
“Ah, tidaklah, saye harus tahu diri. Saye ini ‘kan tokoh bukan, pengusaha juge bukan, tak mungkin dapat nomor bagus”.
Namun yang membuatnya yakin adalah bahwa di internal partainya juga sudah dilakukan penandatanganan surat pernyataan di depan notaris. Isinya, jika jatah partai mencukupi untuk kursi, dalam artian tidak ada yang memenuhi angka BPP, maka yang bakal duduk di legislatif adalah mereka yang memperoleh suara terbanyak. Sebab, KPUD hanya akan merujuk ke UU Pemilu, yakni berdasarkan nomor urut.
“Kami semue sudah tanda tangan. Partai pun dah setuju untuk mengakomodir. Makenye, saye yakin,” katanya
Selebihnya, kami hanya berbincang seputar strategi yang sudah dipersiapkannya untuk menuju kursi legislatif. Dalam bayangan saya, agak berat bagi dia untuk meraihnya. Namun, sebagai teman, tentulah saya tak boleh mematahkan semangatnya. Siapa tahu Tuhan sudah punya rencana terbaik buat Yoi yang kini bekerja di Persero Batam itu. Sebagai teman, saya hanya bisa mendoakan saja.***



Leave a Reply