Istri Wisuda, "Utang" Lepas

Ini sebuah kisah ringan seputar janji “bayar utang” ke mertua. Dulu, ketika mengajak istri menikah tahun 2000, waktu itu statusnya adalah mahasiswi semester akhir DIII Akuntansi Universitas Riau (Unri). Karena keinginan menikah begitu kuat, sebab usia juga sudah jalan kepala tiga dan sudah memiliki pekerjaan tetap di Riau Pos Pekanbaru, selain yang paling penting, almarhumah ibu saya waktu itu sedang sakit keras dan minta anaknya cepat menikah, akhirnya saya nekad melamar ke orang tua istri saya di Tanjungpinang.

Alhamdulillah, prosesi pernikahan berjalan seperti direncanakan. Sampai akhirnya kini kami sudah memiliki dua anak yang lucu-lucu. Hanya saja, ada satu “utang” yang harus saya lunasi, yakni menjadikan istri saya, Sandra Mepa, sebagai sarjana penuh. Sebab, ketika saya nikahi sampai kami kemudian punya anak, istri saya baru berhasil menyelesaikan diploma tiga. Inilah utang yang harus saya “lunasi” kelak, di kemudian hari.

Bahkan, kepada diri saya sendiripun, saya berjanji untuk menyelesaikan kuliah istri saya hingga meraih gelar sarjana. Sebab, saat itu, dari keluarganya, hanya dia yang kuliah di perguruan tinggi. Yah, meskipun di tahun-tahun berikutnya menyusul adik laki-lakinya menyelesaikan kuliah, namun istri saya sudah terlanjur menjadi harapan agar dia menjadi sarjana.

Akhirnya, saya putuskan agar istri saya melanjutkan kuliahnya di Batam saja. Maka, melalui jasa seorang temannya, dia mendaftar ke sebuah perguruan tinggi swasta yang kemudian tenaga pengajarnya berasal dari Kopertis di Jawa, tepatnya di Tangerang, Banten. Tidak begitu sulit bagi istri saya untuk melanjutkan kuliah, karena dia sebelumnya adalah mahasiswa DIII Akuntansi Unri. Artinya, sebelumnya dia adalah mahasiswa perguruan tinggi negeri (PTN) di Pekanbaru.

Maka, setelah menempuh waktu kuliah yang lebih banyak dilakukan pada malam hari, lengkap dengan berbagai tugas perkuliahan, penelitian, diktat, makalah, dan ujian, serta skripsi yang cukup berat dan melelahkan, sampailah dia kepada bagian terakhir dari prosesi perkuliahan, yakni wisuda. Alhamdulillah, Sabtu (22/3) lalu, di Gedung Diklat Depdiknas Sawangan, Depok, istri saya resmi dilantik sebagai sarjana ekonomi di sebuah STIE.

Saya bangga, karena meskipun sudah memiliki dua anak, semangat istri saya untuk kuliah dan mendapatkan gelar sarjana, sangat tinggi. Hampir seluruhnya dia urus sendiri, kecuali saat pembuatan skripsi yang banyak saya bantu, terutama dari segi pengaturan bahasa dalam pembahasannya. Yah, sejak saya nikahi, saya memang menekankan kepadanya untuk lebih mandiri. Maklum, sebagai anak wanita dari keluarga cukup mapan, dia memang terbiasa “disediakan” daripada “menyediakan”. Namun, alhamdulillah, sejak menjadi istri saya, dia sudah banyak berubah, menjadi lebih dewasa, lebih mandiri, dan tentu saja lebih cantik, he..he..he…

Kini, tugas saya tinggal mencarikan pekerjaan untuknya. Sebab, apalah arti gelar sarjana kalau tak bisa bekerja membantu perekonomian keluarga kami. Sebenarnya, banyak keluarganya di Batam dan Tanjungpinang yang menempati posisi strategis di pemerintahan. Namun, seperti saya sebutkan di atas, dia harus tetap mandiri. Untuk itu, bantuan keluarga sebisanya dihindarkan, termasuk dalam mencari pekerjaan, kecuali udah benar-benar kepepet, ha..ha..ha… Yah, mudah-mudahan dalam waktu dekat dapat kerja, sehingga beban ekonomi bisa kami pikul bersama-sama. Amin. ***

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>