Insya Allah, Jadi ke Amerika

Setelah mendapatkan persetujuan dari big boss Riau Pos Group Pak Rida K Liamsi, saya kemudian membincangkannya lebih serius dengan keluarga, terutama istri dan anak-anak saya. Sebab, rencana kepergian ke Amerika mengikuti International Leadership Visit, Januari 2009 nanti, akan sedikit banyak menambah pengalaman saya. Selain itu, meninggalkan pekerjaan dan keluarga dalam waktu sebulan, tentu harus ada konsekwensi yang saya hadapi.

Namun syukurlah, akhirnya, istri saya yang semula agak keberatan, bisa menerima berbagai alasan saya.

“Ya, itu ‘kan demi menambah pengalaman Ayah juga,” begitu alasan istri saya menyadari.

“Iya, Yah. Tapi nanti ajak Abin ya, Yah,” timpal anak pertama saya. Hm… padahal, manalah dia ngerti. Umurnya saja belum lagi tujuh tahun.

Legalah hati saya setelah mendapat restu dari keluarga. Memang, kesannya cengeng, ya? Tapi, menurut saya wajar saja mendiskusikannya dengan keluarga. Apalagi ini perjalanan jauh. Lebih kurang 14 jam perjalanan dari Changi transit ke Narita, lalu ke Washington.

Kemarin, pas lagi istirahat di kantor, Deli, staf Konsulat AS di Medan, kembali menelpon saya.

“Maaf lo, Pak, kalau kesannya kami nge-push Bapak. Soalnya, data-data harus kami kirim secepatnya ke Amerika via Kedubes di Jakarta,” katanya.

Setelah berbasa-basi sedikit, sampailah saya pada jawaban yang sudah saya siapkan.

“Ya, saya terima tawaran pihak Anda, saya confirm,” kata saya tegas.

“Well, terimakasih Pak Candra. Kami akan pastikan segala sesuatunya berjalan lancar. Terimakasih, Pak. Selamat sore,” katanya sambil menutup telepon. Tinggallah saya sendiri sambil ngaso di atas sofa sambil berpikir jauh ke Januari 2009, ha..ha..ha…***

2 Responses to “Insya Allah, Jadi ke Amerika”

  1. ramon Says:

    pergi ajalah bc. paling aku juga nanti yg repot carikan dolar tu hahaha.

    amerika-eropa itu unik. kalau dari changi, mesti perjalanannya rata-rata 14 jam.
    aku dulu dari changi-amsterdam juga 14 jam. nah, yg pertama harus dilakukan
    di atas pesawat adalah berkenalan secara intens dengan pramugari.

    aku lakukan itu. pada jam2 tertentu kami menggunakan bahasa isyarat. misalnya
    dia dia tautkan jari jempol dan jari telunjuk tangan kirinya membentuk lingkaran, lalu jari
    telunjuk tangannya diluruskan dan dimasuk2kan ke kedua jari tangan kiri yang sudah
    membentuk lubang tadi.

    aku tangkap bahasa isyaratnya dan bilang, “dimana? kan ramai orang? apa kita ke toilet aja?”

    “oh bukan, bukan itu maksud saya, tuan, saya sudah punya tunangan.”

    “lalu apa?”

    “itu, tuan, maaf, safety belt-nya tolong dipasang….”


  2. ramon Says:

    (baca komentar yang ini aja ya. komentar postingan yang pertama agak rancu hehe)

    pergi ajalah bc. paling aku juga nanti yg repot carikan dolar tu hahaha.

    amerika-eropa itu unik. kalau dari changi, mesti perjalanannya rata-rata 14 jam. aku dulu dari changi-amsterdam juga 14 jam. nah, yg pertama harus dilakukan di atas pesawat adalah berkenalan secara intens dengan pramugari.

    aku lakukan itu. pada jam2 tertentu kami menggunakan bahasa isyarat. misalnya dia dia tautkan jari jempol dan jari telunjuk tangan kirinya membentuk lingkaran, lalu jari telunjuk tangan kanannya diluruskan dan dimasuk2kan ke kedua jari tangan kiri yang sudah membentuk lubang tadi.

    aku tangkap bahasa isyaratnya dan bilang, “dimana? kan ramai orang? apa kita ke toilet aja?”

    “oh bukan, bukan itu maksud saya, tuan, saya sudah punya tunangan.”

    “lalu apa?”

    “itu, tuan, maaf, safety belt-nya tolong dipasang….”


Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>