Finishing Rumah Bikin Fusing!
27 May 2008 Ruang Keluarga
Alhamdulillah, akhirnya rumah sederhana saya selesai juga phisiknya. Tinggal kini, finishing dan furnishing, sekaligus bikin fusing! Kenapa fusing (istilah Wan Abud, peran pria keturunan Arab dalam sebuah sinetron yang pernah ngetop dulu di TV saat mengucapkan kata pusing)? Ya iyalah, masa ya iya dong! Ha..ha..ha.. Sebab, saat finishing dan furnishing inilah masa yang paling rawan ketika membangun rumah atau bangunan apapun. Siapapun tahu itu. Duitnya itu yang gak tahaaan…. Ada saja kurangnya. Mesti beli inilah, itulah, kurang inilah, kurang itulah, kurang duitlah…
Tapi, saya bukan termasuk tipe orang ngoyo. Dalam kesadaran saya, segala sesuatu sudah ada maqomnya masing-masing. Sudah ada takarannya sendiri-sendiri. Sudah ada haknya melekat erat. Sudah diatur oleh Sang Maha Kasih, Maha Pemberi. Saya mencoba mengalir saja seperti air, asal ngalirnya gak ke comberan!
Yang sangat saya syukuri, sejak Januari 2006 pindah tugas ke Batam, saya tidak duduk manis di kantor. Tidak sekadar menunggu gaji yang datangnya saban akhir bulan dari perusahaan. Tidak. Saya beberapa kali nyambi di luar kantor: jadi pembicara workshop, moderator, konsultan ahli, dan tentu saja sekali-sekali menggarap iklan dan advertorial di koran saya, Batam Pos. Selain itu, modal yang saya bawa dari Pekanbaru akibat menjual sebuah mobil Panther keluaran tahun 1998, sangat cukup untuk menambah bekal saya di Batam.
Soal jadi konsultan ahli, ada cerita sedikit. Dulu waktu masih bertugas di Riau Pos, ketika saya mendapat sanksi dari big boss Pak Rida, saya tanpa jabatan alias kursi kosong, saya tidak bersedih. La tahzan! Saya mencoba merangkai kerja sama dengan salah satu KPUD di Riau. Kebetulan, saya bersama seorang teman di Riau Pos juga diminta menjadi konsultan bagi media centre KPUD sebuah kabupaten. Saya dan teman itu lalu membuat berbagai program yang intinya membantu kelancaran kerja KPUD dan kesuksesan Pilkada di sana. Alhamdulillah, segalanya berjalan lancar. Sebagai profesional, kami mendapat fee yang tidak kecil; setara gaji setahun di Riau Pos waktu itu, tahun 2004.
Begitu juga setelah pindah tugas ke Batam, masih ada daerah yang minta saya dan teman-teman membentuk dan memfasilitasi media centre KPUD sebuah kabupaten kaya di Riau. Kali ini saya tidak bisa terlibat langsung. Saya hanya memberikan advice pada teman-teman yang bergerak di lapangan. Hasilnya, juga sukses dan teman-teman memberikan “uang lelah” kepada saya. Lumayan menambah bekal di Batam.
Setelah pindah ke Batam, saya masih sangat terbantu oleh kebaikan perusahaan, tepatnya kebaikan bos besar Pak Rida K Liamsi. Sejak dipindahkan awal 2006, layaknya level pimpinan yang dipindahkan, saya diberi uang penempatan, mobil dinas, dan rumah dinas. Sebelum semuanya diperoleh, saya sempat nginap di Nagoya Plasa Hotel selama dua pekan. Itu juga ditanggung perusahaan. Beruntung istri saya orang Tanjungpinang, sehingga untuk sementara saya ungsikan ke rumah orang tuanya bersama anak pertama saya.
Sedangkan kendaraan saya ke kantor waktu itu adalah sebuah Kijang lengkap dengan supir. Selanjutnya, karena saya memang gak suka disupiri (gak bebas, ha..ha…), saya diizinkan memakai mobil dinas milik perusahaan. Jadinya, hidup bisa lebih berhemat, karena rumah dan mobil disediakan oleh perusahaan. Thank’s to boss and big boss Pak Rida K Liamsi.
Selanjutnya, karena rumah milik perusahaan belum siap ditempati, belum serah terima kunci kabarnya dari developer, saya dipersilahan cari kontrakan. Dapatlah rumah di Mediterania yang dikontrak Rp11 juta pertahun. Barulah saya boyong istri dan anak ke rumah tersebut.
Sssttt…awalnya sempat ada yang “ngiri” ketika saya memperoleh rumah dinas dan mobil dinas. Alasannya, tidak semua karyawan yang dipindahkan dari Pekanbaru (kami menyebutnya mabes, karena koran induk, Riau Pos, ada di sana) memperoleh fasilitas tersebut. Tidak banyak sih yang protes, hanya satu-dua orang. Mungkin mereka lupa bahwa karyawan level pimpinan (minimal manajer) yang dipindahkan dari mabes ke daerah, khususnya Batam, pastilah disediakan tiga fasilitas itu: uang penempatan, rumah dinas, dan mobil dinas/kendaraan.
Nah, yang protes itu lupa bahwa mereka dulu waktu dipindahkan dari mabes belumlah berpangkat manajer atau sejenisnya. Jadi, ya, gak dapat fasilitas seperti saya dan teman lainnya, seperti Mafirion, Helmi Burman, Amzar, atau lainnya yang selevel. Eh, tapi, sebenarnya, ketika saya pindah lagi ke rumah miliki perusahaan di Baloi, gak gratis kok. Saya bahkan harus mengeluarkan uang dari kantong sendiri Rp10 juta untuk pasang pagar dan teralis. Artinya, meski tinggal di rumah dinas, tapi saya tetap harus keluar duit yang jumlahnya hampir sama kalau saya ngontrak di Mediterania itu. Aneh kan?
Tapi sudahlah. Setelah hampir dua tahun saya menempati rumah dinas di Baloi, seringkali saya merasa risih dan malu. Terngiang di telinga saya kalimat yang pernah dilontarkan seorang karyawan pada saya:
“Anda enak, pindah ke Batam disediakan rumah dan mobil. Aku dulu bersama (dia menyebut beberapa nama) tinggal di kos-kosan. Mana ada fasilitas seperti yang Anda terima”.
Kalimat itu sering sekali mengganggu perasaan saya. Meski sudah saya jelaskan bahwa saya pindah dengan pangkat manajer, bukan staf biasa. Setiap manajer yang dipindah dari Pekanbaru, disediakan fasilitas itu sejak beberapa tahun belakangan. Tapi kalimat itu bukan sekali dua diucapkannya, diulang-ulang, bahkan kepada orang lain. Bahkan ketika saya mencoba menanyakan apakah uang teralis dan pagar bisa diganti perusahaan, jawaban yang saya terima justru menyedihkan:
“Manja, masa itu saja minta diganti!” Ohh….
Itulah sebabnya, dengan segala daya upaya, karena saya yakin bakal lama bertugas di Batam, saya gambling saja ambil sebuah rumah tipe kecil di Batam Centre. Berbekal simpanan dari Pekanbaru (jual mobil), lalu terima tantiem (bonus dari pemegang saham), dan PS (pembagian keuntungan), dan tabungan dari iklan, advertorial, dan sumbangan tak mengikat dari pihak lain (he..he…), tahun 2006 saya mulai mencicil rumah tersebut.
Kini, hampir dua tahun kemudian, barulah phisiknya rampung. Rasanya ingin cepat-cepat pindah ke sana, karena khawatir juga “suara-suara tak sedap” itu terngiang kembali. Tapi itulah, tahap finishing dan furnishing itu sungguh bikin fusing. Hmm… PS sudah terima, tetap saja kurang. Mudah-mudahan tahun ini masih terima tantiem, sehingga bisa segera pindah. Amin.***



October 5th, 2008 at 3:15 pm
Wah,,,banyak juga artikelnya…..
Good luck….!!! jangan pernah berhenti menulis.