Dua Tahun Lagi ke Pekanbaru?

Waktu ke Pekanbaru, 13-15 Januari yang lalu, sempat mampir ke kios ayah di Tuah Karya, Simpangbaru (Panam), Pekanbaru. Di sana, sebuah kios sengaja saya sewa dari kakak perempuan, lalu saya isi dengan berbagai kebutuhan sehari-hari. Lumayan, untuk menemani hari tua ayah yang sudah ditinggal mati oleh ibu sejak 2000 yang lalu. Soal sewa-menyewa kios dengan kakak sendiri, nanti dijelasin di bawah.

Nah, memang, sebelum pindah ke Batam 2005 akhir yang lalu, saya pernah berjanji untuk sedikit menyibukkan ayah dengan kios kecil. Terbayang oleh saya waktu itu adalah sebuah warung seperti serial Malaysia “Rumah Kedai” yang pernah populer di kedua negara, beberapa tahun yang lalu. Di situ diisi oleh kebutuhan harian, seperti mie instan, gula, minyak, sarden, rokok, cemilan, dan bermacam barang harian. Setiap bulan saya suntik dana untuk kedai agar ayah tetap bisa memetik manfaatnya. Maklum, ayah sudah tua, sehingga tidak bisa lagi bekerja keras. Cuma bisa menjahit kecil-kecilan dan nungguin kios itu. Saya tidak pernah bertanya sudah berapa keuntungan dari usaha ayah, sebab niat saya memang untuk membantu beliau. Supaya terhindar dari filosofi “memberi ikan”, maka
saya tidak membantu ayah dengan uang, tapi dengan cara mengisi kedai agar ayah tak merasa “dibeli” anak sendiri. Sebab, kalau begitu, ayah pasti akan sangat murka dan saya sangat sayang pada beliau.

Sebenarnya, kios saya buatin untuk ayah bukan tanpa “kompensasi” sama sekali. Sebab, ayah menempati dan memelihara rumah saya yang lokasinya tak jauh dari kios tersebut. Jadi, hitung-hitung sambil menjaga rumah, bisa nungguin kios, serta membantu keuangan keluarga beliau. Apalagi dengan istri mudanya, beliau sudah memiliki seorang anak serta seorang lagi dari suami pertama ibu tiri saya itu.

Nah, soal sewa-menyewa kios, sebenarnya itu bukan murni sewa. Masa sama kakak sendiri harus nyewa? Tidak. Toh, kios juga untuk menopang ekonomi ayah kami sendiri. Itu semata-mata untuk membantu keuangan kakak yang juga tidak bagus-bagus amat. Bekerja di sebuah apotek di Pekanbaru, tentulah gajinya tidak cukup untuk tiga anak, termasuk yang mulai sekolah di SMP. Sedangkan suaminya hanya pekerja kasar. Padahal dulu suaminya salah satu karyawan berhasil di PT Barito Pacific Timber. Setelah krismon, dia jadi korban PHK. Uang pesangon hanya cukup untuk beberapa tahun, walaupun pernah dijadikan modal usaha.

Waktu di Pekanbaru itu, saya kabarkan pada ayah bahwa saya kemungkinan masih akan bertugas di Batam sampai 2010. Itu kalau mengutip pernyataan bos saya di Riau Pos Group, Pak Rida, bahwa tugas saya di Batam News dua tahun ke muka. Artinya, setelah saya bertugas sebagai pemimpin redaksi di Batam Pos sampai akhir 2007, maka mulai Januari 2008 tugas saya bertambah di Batam News. Di Batam Pos saya tetap sebagai Wakil PU Bidang Redaksi dan IT, sebuah jabatan yang sebenarnya sudah saya jabat sejak Januari 2007. Artinya, setahun setelah saya menjabat pemred. Kini bertambah lagi sebagai PU di Batam News. Terbayang kan berapa gaji yang akan saya terima? Ha..ha..ha…

Mendengar cerita bahwa saya masih akan lama di Batam, ayah sedih. Sebab, dia membayangkan bahwa saya akan segera kembali ke Pekanbaru tahun 2008, sama seperti harapan saya. Namun, karena ini tugas yang diberikan oleh perusahaan, terutama Pak Rida, maka ayah ikhlas untuk berjauh-jauhan. “Asal pandai-pandailah menjaga kesehatan,” pesan ayah dengan mata berair. Saya memang anak yang paling dekat dengan ayah, karena latar belakang sejarah di keluarga kami. Soal ini nanti akan saya ceritakan dalam tulisan lain.

Ya sudah, tidak apa-apa. Kini saya agak lega karena adik laki-laki saya, Indra, mulai menemukan pekerjaan yang diminatinya. Dia kini mulai merintis usaha di bidang reparasi HP dan komputer di Midai, Natuna, tempat kami memulai segalanya, termasuk menghirup nafas pertama di dunia. Kemarin dia balik ke Batam terus ke Pekanbaru untuk cap jari ijazahnya. Dia memang telat lulus dari STM dan baru saja tahun lalu ambil ujian persamaan. Kini dia ada di rumah dan akan saya bekali dengan komputer seken supaya memudahkan usahanya. Saya kasihan karena sudah terlalu lama dia menjadi “benalu” di keluarga, tanpa kerjaan, luntang-lantung.

Cuma, yang membuat sedih, adik bungsu saya, Iwan, katanya mulai berubah. Dia tinggal di rumah saya bersama ayah. Tapi, malah lebih sibuk ngurus diri sendiri. Padahal saya titipkan ayah pada dia, meskipun ayah sudah ada yang ngurusi, yakni istri mudanya. Namun, saya tetap khawatir dengan ayah, karena beliau satu-satunya orang tua kandung yang masih tersisa. ***

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>