Dua Penguasa di Dua Tempat Berbeda

BERUNTUNG saya dan teman-teman mendapat kesempatan menjenguk dua penguasa yang sedang tersandung kasus hukum, di dua tempat berbeda. Satunya Ismeth Abdullah, satunya lagi Daeng Rusnadi. Tempatnya pun terpisah, satu di Rutan Cipinang, satu lagi di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Keduanya kami temui dalam keadaan sangat santai, seperti tidak ada masalah berat yang tengah mereka hadapi, meskipun Ismeth masih menunggu persidangan dan Daeng sudah divonis 5 tahun oleh KPK.

Akhir pekan lalu, di bawah hujan Jakarta, saya dan beberapa teman media di Kepri, “diundang” ke Rutan Cipinang. Awalnya, pertemuan sudah diatur Sabtu siang pukul 14.00 WIB, namun kemudian digeser malam harinya. Hari itu pula, entah kerjaan orang iseng atau karena ada motif politik, beredar isyu melalui SMS dan facebook bahwa Gubernur Kepri Ismeth Abdullah meninggal dunia!

Malamnya, di bawah renyai hujan, saya dan teman-teman menuju Rutan Cipinang menumpang taksi. Di sana, sudah menunggu salah satu orang kepercayaan Ismeth di Jakarta. Dia menjemput kami ke pintu masuk rutan, setelah menunggu beberapa menit. Setelah meninggalkan KTP dan ponsel, kami bertujuh menuju ke salah satu sudut di blok rutan itu. Di sana, beberapa puluh menit kemudian, gubernur yang dititipkan oleh KPK di Rutan Cipinang terkait dugaan korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran saat menjabat ketua Otorita Batam itu, menemui kami. Dengan senyum khasnya, kebapakan, tenang, dan penuh wibawa, laki-laki itu mengucap salam, “Assalamualaikum”. Setelah menjawab salam dan menjabat kami satu persatu, dia mempersilakan kami untuk duduk di kursi besi sederhana.

Banyak yang kami diskusikan. Mulai dari yang ringan, seputar kesehariannya beradaptasi dengan lingkungan baru di rutan, lalu masuk ke persoalan sedang, dan akhirnya ke yang lebih serius, seputar permasalahan yang saat ini dihadapinya. Menurutnya, selama dititip di Cipinang, sudah tiga kali KPK memeriksanya. Terbersit keyakinan di benaknya bahwa kebenaran akan terungkap dan keadilan akan berpihak kepada dirinya. Ya, Ismeth yakin bahwa kebijakan yang telah diambilnya saat memimpin Otorita Batam beberapa tahun yang lalu itu sudah sesuai dengan kewenangannya. “Masalahnya, supplier-nya sama dengan daerah lain,” katanya. Maksudnya, ketika di daerah lain para pengambil kebijakannya sudah ada yang “diambil” oleh KPK, maka mau tak mau dia juga ikut “diambil”. Contoh paling dekat adalah mantan Gubernur Riau Saleh Djasit yang sudah dijatuhi hukuman karena kasus yang sama.

Ketika ditanyakan tanggapannya seputar SMS yang mengisyukan dia meninggal dunia, dengan tenang dia membentangkan kedua tangannya, sambil berkata, “Itu mungkin doa supaya saya panjang umur”. Dia juga bercerita tentang kesehariannya di sana. Berat badannya turun tiga kilogram sejak 26 hari dititipkan di rutan itu. “Ibu (istrinya, red) meledek saya kelihatan lebih muda,” guraunya.

Di rutan, dia mengaku masih menerima berbagai tamu, mulai dari tamu penting kenegaraan, menteri, ketua parpol, tamu asing dan duta besar, pimpinan SKPD, sampai keluarga dan para pendukung. Yang cukuk menarik, soal rencana menjalin hubungan antara Kepri dengan Hawai sebagai the sister city. “Dari Indonesia, Kepri satu-satunya yang ditawari kerja sama dengan Hawai. Kita memang ada kesamaan, karena Hawai adalah negara bagian Amerika yang juga terdiri dari kepulauan. Dewannya sudah setuju, menterinya juga. Tinggal Gubernurnya yang rencananya akan memfinalisasi ketika Presiden Obama yang berencana akan berkunjung ke Indonesia. Tapi, sudahlah, biarlah nanti gubernur baru yang menindaklanjutinya,” katanya pelan.
Penguasa kedua yang kami kunjungi adalah Bupati (nonaktif) Natuna Daeng Rusnadi. Awalnya, kami menuju ke Polda Metrojaya. Namun oleh penjaganya, disebutkan Daeng sedang dirawat di RSPP. Dengan difasilitas oleh salah satu pengurus DPP Partai Golkar Sudirman Almoen, meluncurlah kami ke RSPP. Di sana, di lantai 6, Daeng kami temui dalam keadaan mulai pulih. Saat pembacaan vonis di Pengadilan Tipikor dua hari sebelumnya, Daeng memang sedang dirawat. Uniknya, tidak nampak sedikit pun wajah kecewa setelah Pengadilan Tipikor menjatuhkan vonis 5 tahun penjara terhadapnya. Sebagaimana diketahui Daeng divonis korupsi dana bagi hasil (DBH) Migas Natuna tahun 2004 dengan hukuman 5 tahun penjara dan denda puluhan miliar.

Yang menarik, Daeng tidak kehilangan joke-joke segarnya. Itu memang gaya bupati nonaktif dan mantan ketua DPRD Natuna tersebut. Sebab, menurutnya, semua orang dapat berencana, namun Tuhanlah yang menentukan hasilnya. “(Tapi) kalau saya cukup sekali saja masuk sebagai tahanan, Anda semua jangan terlalu sering keluar-masuk (menjenguk tahanan), sebab yang sering keluar-masuk itu namanya residivis,” guraunya. Pertemuan berlangsung sangat cair karena Daeng selalu siap dengan stok joke-joke segar.

Tak ada motif apapun ketika kami memutuskan untuk menjenguk keduanya. Sebagai kepala daerah, mereka berhak tetap dihormati. Sebab, keduanya adalah penguasa yang masih sangat berpengaruh di levelnya masing-masing. Ismeth sampai hari ini masih sah sebagai gubernur dan masih menandatangani beberapa keputusan gubernur, sedangkan Daeng adalah penguasa yang sudah “berurat-berakar” di Natuna. Keduanya masih memiliki pengaruh yang kuat. Daeng masih didatangi oleh beberapa calon gubernur dan calon bupati. Mereka mengunjungi Daeng untuk sekadar “say hello” atau sampai kepada minta dukungan. Sebab, di Natuna, pengaruh Daeng masih cukup kuat. Demikian pula Ismeth, posisi gubernur membuatnya masih sangat populer di Kepri. Jika saja tidak keburu ditahan KPK, hampir dipastikan sebagian besar parpol akan kembali mengusungnya sebagai calom gubernur. “Saya merasa ada yang aneh dengan penahanan saya,” katanya berulang kali.

Begitulah. Satu setengah jam berdiskusi dengan Ismeth di Rutan Cipinang dan satu jam bercengkerama dengan Daeng di RSPP, saya pribadi mendapat berbagai pelajaran berharga. Bahwa siapapun yang akan menjadi pejabat negara dan daerah, harus sejak awal menyadari bahwa setiap kebijakan dan langkah kaki, sejatinya sudah diawasi, mulai oleh Tuhan YME sampai aparat penegak hukum. “Anda semua boleh jadi akan ada yang jadi pejabat nanti, berhati-hatilah,” pesan Daeng.

Di sela bual-bual pagi Ahad itu, Daeng memancing kami dengan pertanyaan, “Kalau felling Anda, siapa yang akan memang di Pemilukada Kepri?”

“Ini sial felling ya, Pak? Bukan soal pilihan ya?” tekan saya.

“Ya, felling!” tegasnya.

Dia menunjuk kami satu persatu. Tentu saja kami memberikan jawaban berbeda. Ada yang menyebut Aida-Eddy, Sani-Soeryo, dan Nyat-Zulbahri. Setelah kami menjawab satu persatu, Daeng menutup dengan pernyataan dia secara pribadi, “Kalau saya Nyat-Zulbahri,” katanya. Kami tak hendak berdiskusi lebih lanjut soal itu, karena semua pasti punya alasan masing-masing. Soal Daeng menjagokan Nyat, biarlah dia yang paling tahu alasannya.

Di akhir pertemuan dan perbincangan dengan Daeng yang sebenarnya lebih banyak tidak seriusnya itu, tak lupa dia menyelipkan joke sedikit serius. “Percayalah, kelak Indonesia akan pecah menjadi tiga negara. Satunya Negara Sumatera, Negara Jawa, dan Negara Indonesia Timur. Saya bisa jadi menteri. Sebab, nanti para tahanan akan berpeluang menjadi pertahanan,” katanya yang diikuti gelak terpingkal-pingkal.***

Catatan: tulisan ini sudah dimuat di Tanjungpinang Pos, edisi 23 Maret 2010.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>