Di Bibir Luka
6 Apr 2008 seolah puisi
di pucukmu, clara…
gadisku melepas stagen warna gelapnya
hingga coklat sekelilingmu membentuk siluet
dari lumpurlumpur kering berjelaga
tak bisa dia bersembunyi
sebab pinggulmu terlalu terhampar tiada tepi
di parasmu, clara…
lenguhan bancibanci kota
kadang senyap, tak lupa menguap
putingmu bagai kapas, tertawa…
tersibak bagai ranting yang lepas dari buhulnya
tak tumbuh di paras batuan cadas
hingga aku tersadai di bawah ketiakmu
terdedah bergelantung pohonpohon jelutung
lama sekali memandang tubuh tak berbenang
kali lain di bukitsenyum…
hidungku mengendus masam tapioka
mengalir hingga ke bukit-bukitmu
lahar bening…kadang coklat pula…
padahal kita baru saja mereguk sebotol wine
yang kita pungut dari tepi seiladi
yang warnanya sama dengan apa yang kita buncahkan tadi
tapi tak kulihat sebarang anggur berubah warna
hanya lelehan bening dari celahcelahmu
hingga akhirnya, kau tak lagi senyum seperti namamu
lalu, ke manakah lagi perduperdu hendak berpacak?
ke mana pula kelayang mengepak terbang?
jua di mana musafir kan mencari air?
bukankah seluruh hamparan hijau semakin congkak lalu berdarah luka? luka siapa otorita?



Leave a Reply